Artikel

Se-JAGAD Menggugat Jokowi: Robohkan Oligarki dan Politik Dinasti

Kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam JAGAD (Jaringan Gugat Demokrasi) turun ke jalan untuk menyuarakan keprihatinan soal kemunduran demokrasi yang dilakukan rezim Presiden Joko Widodo. Aksi se-JAGAD berlangsung pada Senin (12/2), dimulai dengan doa bersama di depan kantor PP Muhammadiyah. Di sana, massa aksi memanjatkan doa agar Indonesia selamat dari politik dinasti yang merusak demokrasi. […]Read More

Essai

Ketika Kampus Mulai Bersuara

Sejak 2020, Joko Widodo (Jokowi) mulai membantu anak dan menantunya agar dapat menduduki posisi kepala daerah, pada tingkatan wali kota. Ia juga membantu anak bungsunya mengambil alih posisi kepemimpinan di Partai Solidaritas Indonesia pada 2023. Bangunan dinasti politik pun mulai digulirkan. Tak berhenti di situ, Jokowi juga mengorkestrasi rekayasa hukum dan rekayasa politik dan ekonomi agar putra sulungnya yang baru dua tahun menjadi Wali Kota Solo dapat lolos menjadi cawapres, berpasangan dengan capres Prabowo Subianto.Read More

Essai

Runtuhnya Manusia Publik

Fenomena runtuhnya manusia publik akhir-akhir ini adalah salah satu penanda bahwa kita memasuki simpang jalan kritis secara nasional (national critical juncture) sesudah 25 tahun reformasi.Read More

Essai

Kompas Moral Kaum Intelektual

Meski dituding partisan, sejumlah kampus menolak bungkam untuk terus menyerukan keprihatinan terhadap praktik kekuasaan yang ugal-ugalan. Seruan kritis itu menjadi kompas moral kaum intelektual sebagai panduan agar penguasa tidak lari dari koridor demokrasi dan terbelenggu oleh redupnya etika.Read More

Essai

Guru Besar yang Bukan Sekadar Profesional

Sebagai seorang guru yang mengampu tugas ”paripurna”, yakni ”sosok teladan dalam aktivitas mengajar, meneliti, dan publikasi” (Masduki, Kompas, 22/12/2023), manfaat yang seharusnya dinikmati dunia akademik, baik secara nasional maupun internasional, sangat dinantikan. Pendek kata, kemajuan sebuah negara, bahkan dunia, bergantung pada kualitas para guru besar. Dengan beratnya tanggung jawab itu, guru-guru besar yang ”korup” sudah sepantasnya dikecam. Bahaya di seberang sana.Read More

Essai

Negara dan Peran Akademisi

Universitas adalah benteng akal sehat dan keberadaban. Nilai dan tradisi yang dikembangkan adalah pemikiran yang jernih, etis, dan beradab; pertaruhannya adalah kebenaran, kejujuran, dan kemaslahatan. Jika otoritas perguruan tinggi berpihak pada kepentingan pragmatis dan keuntungan individu atau kelompok, benteng itu telah keropos, akal sehat dan kebenaran tergadaikan. Pengabaian terhadap intelektualitas berarti sengaja merendahkan martabat PT dan sivitas akademika yang berproses di dalamnya; bahkan menjebak PT sebagai lingkungan yang anarkistis dan kumuh. Pilihan seperti itu juga mencerminkan perilaku koruptif atau penyalahgunaan kekuasaan (abuse of powers) di lingkungan PT.Read More

Sastra

Sudah Lama Kita Berpaling

Satu dua orang di pojok sepi mengingatkan, namun sudah lama kampus diam. Diam. Kampus memilih hiruk pikuk memimbarkan ceramah penguasa. Hidangan MoU, keynote speaking, jalan-sehat bersama, dihelat sudah cukup lama.Read More

Ekoliterasi

Ekologi Integral

Ekologi integral seperti yang dibahas dalam artikel ini memiliki dua makna yang berbeda namun terkait: pertama, sebagai sebuah konsep, kedua, sebagai pendekatan. Meskipun konsep ekologi integral telah ada selama beberapa dekade, sebagian besar dalam bidang ilmu kelautan, Paus Fransiskus mempopulerkan konsep tersebut pada tahun 2015 dalam ensikliknya Laudato Si. Ekologi integral dapat dipahami secara luas sebagai hubungan antara manusia dan lingkungan kita, dan lebih khusus lagi sebagai sebuah pendekatan terhadap permasalahan global yang akan memperbaiki utang ekologis yang dimiliki negara-negara Utara terhadap Global Selatan.Read More