Jujur itu hebat dan pelajaran berani Berkata Benar dari Michel Foucault
Persis diwakili judul buku versi Indonesia penerbit Marjin Kiri. Parrhesia: berani berkata benar. Kadang berani membela yang salah juga perlu keberanian. Kadang tidak pasti benar atau keliru tetapi menyuarakannya diperlukan kebeneran. Ambisi apapun bisa perlu nekad dan kadang tahan malu. Tapi benar yang bagaimana?
In this political economy, membaca pikiran Foucault dalam parrhesia menambah keberanian bersuara dengan atau tanpa dalih kebebasan. Hari ini melalui gawai banyak orang bebas berpendapat, tapi pendapat mana yang memiliki nilai kebenaran sehingga memperkuat ambisii moral untuk sebuah perubahan yang maslahat?
Demokrasi didirikan oleh politea, konstitusi dimana demos, rakyat, menjalankan kekuasaan dan semua orang setara di hadapan hukum. Namun, konsitutusi seperti itu dikutuk karena memberikan tempat yang setara kepada semua bentuk parrhesia, bahkan yang paling buruk. Karena parrhesia diberikan kepada warga yang paling buruk, pengaruh berlimpah pada pembicara yang buruk, tidak bermoral, atau dungu, justru dapat membimbing warga ke dalam tirani dan membahayakan polis. Karena itu parrhesia mungkin berbahaya bagi demokrasi itu sendiri (p. 84-85)
Parrhesia dalam artian sederhana adalah kebebasan berbicara, seperti yang dianut sebagai prinsip utama dalam demokrasi. Parrhesia muncul dalam kesusastraan Yunani antik di masa 484-407 SM dalam karya-karya Euripides. Parrhesiates adalah orang yang menyatakan sesuatu yang dia pikirkan dan membuka pikiran sepenuhnya kepada lawan bicara untuk mengerti wacana yang dia sampaikan. Artinya dalah Parrhesia, lawan bicara harus paham wacana yang disampaikan oleh Parrhesiates.
Unsur berikutnya adalah, pada kebenaran. Parrhesia adalah pengungkapan kebenaran. Tapi kemudian pertanyaannya, kebenaran menurut siapa? Siapa Parrhesiates yang kita pahami sebagai penyampai kebenaran itu? Bagaimana menguji wacana dan buah pikiran Parrhesiates sebagai sebuah kebenaran?
Dan yang terpenting seorang Parrhesiates mempertaruhkan nyawanya untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Menentang tirani pemerintahan dan menentang mayoritas yang ‘dungu’ demi sebuah kebenaran. Contohnya seorang filusuf yang berani berbicara di depan pemimpin tiran bahwa pemerintahannya tidak sejalan dengan keadilan.
Dalam buku ini, Foucault juga menyajikan bagaimana cara-cara Parrhesiates menyampaikan wacananya. Parrhesia adalah bentuk lain dari sebuah kritik. Tetapi bagaimana kritikan itu disampaikan? Salah satunya dicontohkan oleh Sokrates. Dia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan memutar sampai lawan bicara menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang sebuah kebenaran. Sokrates membuat lawan bicaranya percaya diri dan membuat dampak positif dari kritikan yang sebenarnya dia ingin sampaikan tapi dengan jalan yang memutar. Beda dengan kritik yang disampaikan oleh Kaum Sinis.
Sinis dalam bahasa Yunani antik berarti seperti anjing (kynikoi), salah satu tokohnya yang diceritakan dalam buku ini adalah Diogenes yang hidup di masa kaisar Alexander. Dalam menyampaikan kritikannya, Diogenes bahkan berani menghina dan merendahkan Alexander, tetapi kaisar urung menghukumnya karena Diogenes dianggap sebagai pengungkap kebenaran. Dia membuat Alexander sang Kaisar sakit hati untuk menemukan sesuatu yang salah dalam pemerintahannya. Bahwa raja bukan keturunan dari matahari, bahwa raja adalah sebuah peran yang seharusnya diperankan sebagai raja. Dalam penyampaiannya, Diogenes akan lebih banyak bicara ketimbang lawan bicaranya, berbeda yang Sokrates yang membiarkan lawannya menemukan jawabannya sendiri lewat pertanyaan-pertanyaan.
Lalu bagaimana menguji sebuah kebenaran? Pilih Parrhesiates dari kalangan yang bukan lingkaran terdekat, bukan sahabat yang dapat berubah menjadi penjilat. Lihat konsistensi dari ucapan dan tindakan Parrhesiates ini. Meski yang dua ini, diperdebatkan oleh Foucault karena kita tidak pernah bisa lepas dari godaan iblis, akan sangat sulit untuk menjadi pribadi yang konsisten antara ucapan dan tindakan.
Lalu bagaimana Parrhesiates menjaga dirinya agar tetap berkata benar? Salah satunya dengan terus menerus melakukan pengadilan diri, semisal mengevaluasi diri setiap malam, apa ‘kesalahan’ yang sudah dilakukan hari ini dan bagaimana agar hal itu tidak terulang? Ada diagnosis diri, menakar kendali diri, seperti orang nahkoda yang tidak mungkin disebut nahkoda jika tak tahu arah kemudi, atau dokter yang gagal mengobati.
Dalam kesimpulannya, yang ingin ditunjukan oleh Foucault adalah problematik dalam praktik Parrhesia dalam demokrasi, jika setiap orang bebas untuk melakukan parrhesia, itu akan membahayakan demokrasi itu sendiri. Problematisasi kebenaran ini mencerminkan berarkhirnya filsapat Pra Sokratik sekaligus awal dari sejenis filsafat yang masih berlangsung saat ini yang mempunyai dua sisi utama. Sissi untuk memastikan bahwa proses penalaran yang tepat dalam menentukan apakah sebuah pernyataan itu benar (atau kaitannya dengan kemampuan kita memperoleh akses pada kebenaran)disi lain berkaitan pada pernyataan; apa pentingnya bagi seseorang dan bagi masyarakat untuk mengatakan kebenaran, mengetahui kebenaran, punya orang yang dapat mengatakan kebenaran serta mengetahui cara mengenali mereka? Ini adalah akar yang dia sebut sebagai kritis dalam filsafat Barat (pg 198)