Dongeng dan Permainan Tradisional Mempertemukan Anak Kanoman dan Siswa Australia

 Dongeng dan Permainan Tradisional Mempertemukan Anak Kanoman dan Siswa Australia

Sumber: Arsip RBK

Selasa sore, 29 September 2026, sebuah rombongan dari seberang samudra memilih cara yang pelan untuk tiba. Mereka tidak diantar kendaraan sampai ke depan pintu Rumah Baca Komunitas (RBK) Yogyakarta. Mereka turun di gapura utara Dusun Kanoman, Banyuraden, Gamping, Sleman, lalu berjalan kaki menyusuri kampung hingga tiba di rumah baca yang berdiri di area sawah itu.

Jarak dari gapura ke rumah baca tidak jauh. Tetapi di sepanjang jalan pendek itulah para tamu lebih dulu berkenalan dengan Kanoman. Mereka melewati gang dan rumah warga, jalan yang sama yang setiap hari ditempuh anak-anak kampung ketika datang untuk membaca. Sebelum ada dongeng, puisi, dan permainan, kampung itu sendiri sudah lebih dulu menyambut mereka.

Bukan Ruang Kelas

Rombongan itu terdiri atas sekitar enam belas siswa Canning Vale College dan Duncraig Senior High School di Western Australia. Mereka duduk di jenjang yang setara dengan kelas 9 hingga 12. Empat guru dan dua staf Adonta Education mendampingi mereka. Adonta adalah lembaga penyelenggara program pendidikan lintas budaya yang berbasis di Jakarta, dan kunjungan ke Kanoman menjadi bagian dari Program Imersi Bahasa dan Budaya Indonesia.

Di sekolah, para siswa ini mempelajari Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran. Bahasa itu datang lewat buku teks, daftar kosakata, dan latihan percakapan di depan guru. Di Kanoman, bahasa yang sama hidup dengan cara lain. Ia terdengar dalam obrolan warga, sapaan di gang, dan riuh anak-anak yang datang ke rumah baca tanpa seragam.

Adonta memilih RBK karena perhatian rumah baca ini pada literasi, keterlibatan warga, dan pendidikan anak. Para siswa ingin menggunakan Bahasa Indonesia dalam situasi yang nyata. Dan RBK memang bukan sekolah. Tidak ada bangku berderet menghadap papan tulis. Yang ada adalah rak buku, karpet, halaman, dan anak-anak. Di ruang seperti ini, bahasa tidak diujikan. Bahasa dipakai untuk menyapa, bertanya, dan tertawa.

Sore itu, dari pukul 15.00 hingga 18.30 WIB, rumah baca di sudut Kanoman tersebut menjadi titik temu antara dua kelompok anak yang biasanya hidup di dua belahan dunia berbeda.

Ketika Cerita Menyeberangi Samudra

Perjumpaan pertama berlangsung lewat cerita. Di teras sederhana RBK, dua anak Indonesia dan dua siswa Australia bergantian membawakan dongeng.

Pertukaran itu berjalan dari dua arah. Siswa Australia yang selama ini berlatih Bahasa Indonesia di ruang kelas kini bercerita di hadapan anak-anak yang memakai bahasa itu setiap hari. Anak-anak Indonesia pun bercerita kepada pendengar yang datang dari negeri yang jauh. Bagi kedua pihak, penampilan cerita/puisi kecil itu menjadi tempat mencoba sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman, yaitu berbicara kepada orang yang belum dikenal.

Acara juga diisi dengan penampilan dongeng dari mahasiswa Magister Sastra Universitas Gadjah Mada. Ada pula satu penampilan yang jarang ditemukan dalam acara serupa. Anak-anak Indonesia membacakan kisah tentang mitigasi bencana.

Bagi anak-anak yang tumbuh di Yogyakarta, cerita tentang gempa dan gunung api bukan dongeng dari negeri yang jauh. Cerita itu bagian dari tanah tempat mereka tinggal. Ketika kisah semacam itu dibacakan di hadapan tamu dari negeri lain, membaca menjadi lebih dari sekadar kemampuan mengeja teks. Anak-anak itu sedang memperkenalkan kampung halaman mereka, termasuk kerentanannya, dan cara warganya belajar bersiap.

Permainan yang Tidak Membutuhkan Terjemahan

Jika cerita membuka percakapan, permainan membuat perjumpaan itu benar-benar cair.

Cublak-cublak Suweng mempertemukan anak-anak Indonesia dan Australia dalam satu lingkaran permainan.

Sebelum bermain, para peserta dibagi ke dalam empat kelompok. Setiap kelompok berisi siswa Australia dan anak-anak Indonesia, yaitu dua puluh anak usia sekolah dasar yang diundang untuk bergabung sore itu. Tidak ada kelompok yang hanya berisi satu negara. Anak-anak yang belum pernah bertemu sebelumnya langsung berada dalam satu lingkaran.

Cublak-cublak Suweng menjadi permainan pertama, dimainkan seluruh peserta bersama-sama. Permainan ini sederhana. Satu anak menjadi penebak, sementara yang lain mengedarkan sebutir kerikil dari tangan ke tangan sambil menyanyikan lagu berbahasa Jawa, lalu menyembunyikannya dalam genggaman. Bagi para siswa Australia, lagu itu datang dari bahasa yang berbeda lagi dari Bahasa Indonesia yang mereka pelajari di sekolah. Tetapi aturan permainannya bisa dipahami siapa saja. Kerikil berpindah tangan, penebak menunjuk, dan semua orang menunggu jawabannya.

Setelah itu, kelompok-kelompok bergantian memainkan ular tangga, egrang batok, engklek, dan bakiak. Di papan ular tangga, nasib ditentukan lemparan dadu, bukan kefasihan berbahasa. Di atas egrang batok dan di kotak-kotak engklek, yang diuji adalah keseimbangan tubuh. Di bakiak, beberapa anak harus berdiri di atas sepasang papan kayu yang sama dan melangkah bersamaan. Anak Kanoman dan siswa Australia yang berdiri berurutan hanya bisa maju jika langkah mereka seirama.

Tawa anak-anak Indonesia dan Australia pecah saat bermain “Egrang Batok” bersama di Rumah Baca Komunitas, Kanoman.

Pada titik ini, perbedaan bahasa tidak lagi menjadi pusat perhatian. Yang lebih penting adalah menunggu giliran, memberi aba-aba, dan bergerak bersama. Permainan-permainan yang diwariskan dari generasi ke generasi di kampung-kampung Jawa itu sore itu dimainkan oleh anak-anak dari dua negara.

Di sekitar arena, remaja Kanoman bertugas sebagai pendamping permainan. Mereka menjelaskan aturan, mengatur giliran, dan menjaga agar setiap kelompok bisa bermain dengan lancar. Mereka bukan penonton. Mereka ikut menjadi tuan rumah.

Gotong Royong Kegiatan

Rumah Baca Komunitas tidak menyambut tamunya sendirian. Sejak persiapan hingga pelaksanaan, warga Kanoman ikut terlibat. Karena itu, kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda rumah baca, tetapi juga perjumpaan yang melibatkan seluruh kampung.

Para tamu undangan hadir lengkap sore itu. Di antara mereka ada Kepala Dukuh Kanoman, Ketua RW 05, para ketua RT, jagawarga Kanoman, pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah di tingkat ranting, jejaring taman baca, serta simpul-simpul RBK dari tempat lain.

Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gamping hadir langsung dan memberikan sambutan. Ia menekankan pentingnya belajar dan membaca. Ia juga mengajak anak-anak mengurangi kecanduan game online.

Pesan itu terasa dekat dengan keseharian anak-anak hari ini. Sore itu, pesan tersebut seolah mendapat contohnya sendiri. Anak-anak yang di rumah bisa larut berjam-jam di depan layar kini membaca, mendongeng, menebak kerikil, dan melangkah bersama di atas bakiak dengan kawan baru dari negeri lain.

Menjelang petang, para tamu diajak berkeliling mengenal rumah baca, melihat ruang tempat anak-anak Kanoman biasa membaca dan berkegiatan. Sore itu kemudian ditutup dengan makan bersama dan ramah tamah. Saat makan malam, tidak ada lagi rasa canggung dalam berkomunikasi. Yang tersisa hanyalah orang-orang yang beberapa jam sebelumnya belum saling mengenal, kini duduk dan makan bersama.

Ketika Siswa Australia Singgah di Rumah Baca

Kunjungan ini memberi RBK kesempatan untuk mempertemukan anak-anak Kanoman dengan pengalaman belajar yang melampaui batas kampung mereka. Harapannya sederhana tetapi ya dapat dikatakan cukup tinggi. Anak-anak Kanoman diharapkan tumbuh percaya diri, berani berkomunikasi dengan dunia luar, dan kelak punya keberanian untuk menjelajah lebih jauh ke belahan bumi manapun.

Tawa dan keceriaan anak-anak Kanoman saat bermain bakiak bersama dalam kegiatan pertukaran budaya di Rumah Baca Komunitas.

Harapan semacam itu tentu tidak bisa diukur dari satu sore. Tidak ada yang bisa memastikan anak mana yang kelak belajar ke luar negeri, atau siapa yang suatu hari akan menceritakan kampungnya dalam bahasa lain. Perubahan dalam diri anak-anak biasanya berlangsung pelan dan sering kali tidak terlihat.

Di situ, anak-anak menemukan bahwa dongeng yang mereka bawakan, kisah tentang tanah tempat mereka tinggal, dan permainan yang mereka mainkan sejak kecil ternyata berharga untuk dibagikan kepada orang lain.

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *