Dafrin Muksin

Essai

Matinya Negara-Kota

Covid-19, virus yang berasal dari Wuhan, China ini membikin kota-kota di belahan dunia termasuk Indonesia secara serentak menjadi redup. Kebisingan, kemacetan, akses transportasi, kesemrawutan canda dan tawa di pusat kota menjadi gelap dan sunyi. WHO telah menetapkan Virus Corona sebagai pandemi, sehingga menjadi kecemasan bagi penduduk planet bumi. Kehidupan kota menjadi tidak normal. Kota yang […]Read More

Artikel

Mencari yang Ekologi Pada Masyarakat Urban

Kampanye tentang bahaya lingkungan terus menerus diproduksi dikalangan mayarakat urban. Pada hari-hari ini banyak sekali wacana yang dibangun untuk mendorong kehidupan kota yang lebih harmoni dan ramah lingkungan. Namun sialnya hal itu seolah tidak dihiraukahn oleh para pelaku kejahatan lingkungan. Untuk alasan kemajuan: hutan, lahan pertanian, sumber  daya air, dan kualitas udara telah digantikan denga […]Read More

Artikel

Membaca Peta Oligarki Lewat Dunia Pertambangan

Ada ribuan pertambangan yang dikelola di bumi Indonesia. Tragisnya, ribuan tambang tidak memberikan dampak kesejahteraan, melaikan menjadi bencana. Tambang yang dijanjikan untuk kesejahteraan adalah sebuah mitos bagi masyarakat Indonesia. Justru sebaliknya pertambangan dirancang untuk memperkuat bangunan kesejahteraan elit – menguasai ekonomi secara ekstrim – memperkaya diri sendiri. Dan Penguasaan ekonomi secara eksrim itu dikenal dengan […]Read More

Artikel

Tidak Ada Kosakata “Libur” Dalam Kamus Seorang Terpelajar

Pandemi corona virus (Covid-19) membikin hampir semua sekolah dan perguruan tinggi secara serentak diliburkan. Segala macam ihwal yang berkaitan dengan belajar formal di dalam kelas, digantikan dengan metode belajar jarak jauh (online). Dengan dalil pencegahan penyebaran Covid-19. Tidak bisa dimungkiri bahwa belajar dengan metode jarak jauh adalah pilihan terbaik untuk kondisi yang sulit saat ini. […]Read More

Artikel

Membaca Kematian

Satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan manusia adalah kematian. Kematian akan datang menghampiri tiap-tiap yang bernyawa: entah hari ini, besok, maupun waktu yang akan datang. Setiap kita adalah calon kematian. Kematian dianggap wajar, apabila kematian itu disebabkan oleh kejadian yang wajar, misalnya sakit yang diderita atau karena termakan usia. Karenanya, bukan kematian yang diperkarakan, tetapi […]Read More

Essai

Memerkarakan Tiktok!

Setelah melewati transisi pergantian tahun 2019 ke 2020, Rumah Baca Komunitas (RBK) kembali melaksanalan ibadah mingguan, Diskusi Jumat Sore (Dejure). Dengan penuh kegembiraan, Dejure awal tahun ini dimulai dengan membedah buku Rosa Luxemburg “Sosialisme dan Demokrasi,” karya Dede Mulyanto. Sebagai pemantik Nurudin Al Akbar, Mahasiswa Progam Doktoral Politik UGM, biar lebih soaialisme sebut saja beliu […]Read More

Artikel

Menulis, Menulis, dan Jangan Baca Lagi

Sebagai penulis pemula, saban hari selalu gelisah memikirkan, segala sesuatu yang ada, apa yang bisa dijadikan tulisan.  Menulis lepas adalah kesenangan, menulis jurnal adalah keterpaksaan. Ya, saya sangat senang mendokumentasikan hal-hal yang tampak dari pengalaman kehidupan sehari-hari dengan mengabadikan dalam bentuk tulisan:  Bagaimana Aku Merantau untuk Kuliah dan Merawat Komunitas Literasi, Gemar Membaca: Sebuah Cerita dari Jogja […]Read More

Resensi

Belajar Dari Gus Muh: Menulis Untuk Hidup

Gus Muh alias Muhidin M. Dahlah memang benar-benar seorang petarung. Lelaki kelahiran Dogala, Sulawesi Tengah ini, telah menunjukan kegigihannya. Selamat dari amukan gelombang badai kehidupan yang kelam. Mempertahankan hidup dan terus hidup dengan Menulis.  Bermula ketika dimasa kecilnya,  Ia diberi perntanyaan dari lelaki misterius berjaket coklat yang bertamu di rumah tanah kelahiranya. Bertanya tentang buku bacaan. […]Read More

Essai

Pergi: Puisi Madzab Kanoman

Pergilah sejau-jauhnya. Lintasilah semua samudra, taklukan semua batas-batas ketakutan.   Pengilah dalam kegelapan malam untuk menjelajahi bintang-bintang. Pergilah, jangan pernah berhenti. Nikmati semu yang datang, baik itu kabar buruk maupun kabar baik dari langit. Pergilah dengan hati yang gelisah, marah, ataupun sedih. Pergi dan jangan memberikan kabar. Seperti kabut yang menghilang tanpa jejak. Pengilah dengan perasaan […]Read More