Ilusi Kesejahteraan dan Relasi Kelas dalam Film Parasite

 Ilusi Kesejahteraan dan Relasi Kelas dalam Film Parasite

Sumber: imdb

Film Parasite (2019) karya Bong Joon-ho menghadirkan potret tajam tentang ketimpangan sosial dalam masyarakat kapitalis kontemporer.

Melalui relasi antara keluarga Park sebagai kelas atas dan keluarga Kim sebagai kelas bawah, film ini tidak hanya menggambarkan perbedaan kondisi ekonomi, tetapi juga mengungkap bagaimana sistem kesejahteraan yang lemah menciptakan ilusi mobilitas sosial, memperkuat kerentanan kelompok miskin, serta memperlihatkan absennya peran negara dalam menjamin kesejahteraan warganya.

Salah satu konsep utama yang dapat digunakan untuk membaca film ini adalah “trickle-down welfare”, yakni keyakinan bahwa kesejahteraan kelompok kaya akan “menetes” ke kelompok miskin. Dalam film, keluarga Kim memperoleh pekerjaan dari keluarga Park sebagai guru les, sopir, dan pembantu rumah tangga.

Secara sepintas, kondisi ini menunjukkan adanya distribusi ekonomi dari kelas atas ke bawah. Namun, relasi tersebut bersifat sangat rapuh dan tidak mengubah posisi struktural keluarga Kim sebagai kelompok miskin.

Mereka tetap bergantung pada keluarga Park dan dapat kehilangan pekerjaan sewaktu-waktu. Menurut Esping-Andersen (1990), kondisi ini menunjukkan rendahnya tingkat decommodification, yaitu ketidakmampuan individu untuk hidup layak tanpa bergantung pada pasar tenaga kerja.

Dengan demikian, kesejahteraan yang dialami keluarga Kim bukanlah kesejahteraan yang substantif, melainkan ilusi yang dibentuk oleh akses sementara terhadap sumber daya ekonomi (Esping-Andersen, 1990).

Lebih jauh, Parasite juga menggambarkan relasi antar kelas dalam konteks kerja informal dan prekariat. Keluarga Kim bekerja tanpa kontrak formal, tanpa jaminan sosial, dan sangat bergantung pada relasi personal.

Bahkan, untuk mendapatkan pekerjaan, mereka harus menggunakan tipu daya dan jaringan informal. Situasi ini mencerminkan karakteristik pasar kerja yang terfragmentasi, di mana sebagian kelompok memperoleh perlindungan, sementara kelompok lain berada dalam kondisi tidak terlindungi (Ferrera, 1996).

Selain itu, film ini menunjukkan bagaimana kelompok miskin tidak hanya tereksploitasi oleh kelas atas, tetapi juga terlibat dalam kompetisi satu sama lain, seperti konflik antara keluarga Kim dan pembantu lama.

Dalam kerangka (Korpi, 2018), kondisi ini mencerminkan dinamika konflik kelas yang tidak selalu berbentuk konfrontasi langsung antara kelas atas dan bawah, melainkan dapat muncul sebagai konflik horizontal antar kelompok subordinat dalam sistem yang timpang.

Adegan banjir dalam film menjadi simbol penting untuk memahami dimensi ketimpangan dalam perspektif kesejahteraan sosial. Bagi keluarga Park, hujan adalah sesuatu yang romantis dan menyenangkan.

Sebaliknya, bagi keluarga Kim, hujan menyebabkan banjir yang menghancurkan tempat tinggal mereka dan memaksa mereka mengungsi ke penampungan darurat. Perbedaan pengalaman ini menunjukkan adanya social gradient dalam kesejahteraan, di mana kondisi hidup sangat menentukan tingkat kerentanan terhadap resiko (Lucca-Silveira, 2016).

Ketimpangan tidak hanya berkaitan dengan distribusi pendapatan, tetapi juga dengan distribusi risiko dan akses terhadap perlindungan. Dalam konteks kebijakan sosial, situasi ini menunjukkan lemahnya sistem perlindungan sosial, di mana negara gagal memberikan jaring pengaman yang memadai bagi kelompok rentan (World Bank, 2018). Pekerjaan yang diberikan bersifat sementara dan tidak mampu mengatasi akar masalah kemiskinan struktural yang dialami keluarga Kim.

Ketiadaan peran negara dalam film ini menjadi aspek penting lainnya. Negara hampir tidak terlihat dalam kehidupan keluarga Kim, baik dalam bentuk perlindungan sosial, jaminan pekerjaan, maupun penyediaan perumahan layak. Kondisi ini mencerminkan karakteristik rezim kesejahteraan yang minimalis atau liberal, di mana pasar menjadi mekanisme utama dalam distribusi kesejahteraan, sementara intervensi negara sangat terbatas (Esping-Andersen, 1999).

Dalam konteks yang lebih luas, (Latief, 2018)menunjukkan bahwa dalam banyak negara berkembang, kebijakan kesejahteraan sering kali bersifat terbatas, terfragmentasi, dan dipengaruhi oleh kepentingan politik, sehingga tidak mampu menjangkau kelompok paling rentan secara efektif.

Selain itu, (Barrientos, 2023) menekankan bahwa program bantuan sosial seharusnya dapat meningkatkan inklusi sosial dan politik, namun tanpa desain yang kuat, program tersebut tidak akan mampu mengurangi ketimpangan secara signifikan.

Dari film Parasite, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dalam konteks politik kesejahteraan. Pertama, ketimpangan sosial merupakan fenomena struktural yang tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh faktor individu, melainkan berkaitan dengan sistem ekonomi dan kebijakan publik.

Kedua, meritokrasi dalam masyarakat kapitalis sering kali bersifat ilusif, karena akses terhadap pekerjaan dan peluang ekonomi sangat ditentukan oleh jaringan sosial dan modal budaya. Ketiga, mobilitas sosial tidak terjadi secara otomatis tanpa intervensi negara yang kuat melalui kebijakan kesejahteraan yang inklusif.

Keempat, ketiadaan sistem perlindungan sosial yang memadai akan memperburuk kerentanan kelompok miskin terhadap risiko sosial. Terakhir, ketimpangan yang tidak diatasi berpotensi menimbulkan konflik sosial, baik secara vertikal maupun horizontal.

Film Parasite tidak hanya berfungsi sebagai karya sinematik, tetapi juga sebagai kritik sosial terhadap kegagalan sistem kesejahteraan dalam menghadapi ketimpangan. Film ini menunjukkan bahwa tanpa peran negara yang kuat dan kebijakan sosial yang efektif, kapitalisme cenderung menghasilkan ilusi kesejahteraan, memperkuat ketimpangan struktural, dan menciptakan kondisi sosial yang tidak stabil.

Referensi

Barrientos, A. (2023). Social Assistance Expansion and Political Inclusion in Latin America. Journal of Politics in Latin America, 15(1), 25–46. https://doi.org/10.1177/1866802X221143141

Esping-Andersen, G. (1990). The Three Worlds of Welfare Capitalism. Polity Press.

Esping-Andersen, G. (1999). Social Foundations of Postindustrial Economies. Oxford University Press.

Ferrera, M. (1996). The “Southern Model” of Welfare in Social Europe. Journal of European Social Policy, 6(1), 17–37. https://doi.org/10.1177/095892879600600102

Korpi, W. (2018). The Democratic Class Struggle. In The Democratic Class Struggle. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780429441714

Latief, H. (2018). The Politics of Humanitarianism-based Walfare in Post Disaster Aceh. In The Politics of Welfare, Contested Welfare Regimes in Indonesia (I, pp. 199–220). Buku Obor.

Lucca-Silveira, M. P. de. (2016). The Health Gap: The Challenge of an Unequal World. Cadernos de Saúde Pública, 32(11), 1–2. https://doi.org/10.1590/0102-311×00130716

World Bank. (2018). The State of Social Safety Nets 2018. In The State of Social Safety Nets 2018. Washington, DC: World Bank. https://doi.org/10.1596/978-1-4648-1254-5

Bagikan yuk
Avatar photo

Ifanul Abidin

Ifanul Abidin adalah penulis dan peneliti bidang politik dan pemerintahan. Minat kajiannya meliputi politik sumber daya alam, krisis sosio-ekologis, dan dinamika demokrasi di Indonesia. Ia merupakan alumnus Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan mahasiswa magister Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *