Satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan manusia adalah kematian. Kematian akan datang menghampiri tiap-tiap yang bernyawa: entah hari ini, besok, maupun waktu yang akan datang. Setiap kita adalah calon kematian. Kematian dianggap wajar, apabila kematian itu disebabkan oleh kejadian yang wajar, misalnya sakit yang diderita atau karena termakan usia. Karenanya, bukan kematian yang diperkarakan, tetapi bagaimana kematian itu terjadi.

Pandemi Corona Virus atau disebut COVID -19, tidak lagi menjadi bahan candaan, telah menyebar ke berbagai pelosok negeri dengan dampak yang sangat berbahaya dan mematikan. Wabah pandemi COVID-19 asal Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, telah menelan ribuan korban. Ribuan orang mengalami infeksi dan sebagian yang lain meninggal dunia. Waspadalah: jadilah pelindung bagi dirimu, keluarga, dan manusia yang lain, #dirumahaja.

Berita dampak COVID-19 bertengger di berbagai media. Membaca KOMPAS.com (30/3/2020), data real time oleh John Hopkins CSSE menarasikan dari 170 negara yang melaporkan kasus Covid-19, ada 720.117 kasus yang positif. Dengan persentase, 33.925 meninggal dunia dan 149.082 dinyatakan sembuh. Untuk kasus Indonesia membaca Majalah Tempo, Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, bahwa per 23 Maret 2020, jumlah pasien positif COVID-19 mencapai 579 orang, 48 diantarannya meninggal dunia dan diperkirakan akan terus naik.

Terlepas dari kematian akibat COVID-19, masalah lain yang dihadapi Indonesia adalah kematian Ibu melahirkan. Berdasarkan data 2018-2019, Meiwita Budhiharsana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia kepada KOMPAS.com (30/09/2019), bahwa angka kematian ibu di Indonesia mencapai 305 per 1.000 kelahiran hidup. Angaka yang mencapai 30 persen dianggap tinggi jika dibandingkan denga Malaysia, yakni 17 per 1.000 kelahiran yang hidup pada tahun yag sama.

Kita dapat membaca dari data di atas, sederetan kasus kematian, secara tidak berlebihan hal itu dapat dikatakan sebagai kematian massal. Lantas apakah kita harus menganggap kematian itu hal yang wajar? Ya, kita harus memerkarakan, sebab kematian dengan jumlah yang banyak bukanlah kematian yang wajar. Hal yang mendasar adalah mempertanyakan peran negara? Sebab negara memiliki peran untuk menciptakan keharmonisal dalam bernegara. Dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 dinyatakan dengan jelas tentang peranan negara pada alinia keempat, yang berbunyi:

“… melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, … ”.

Dengan demikian, negara memiliki andil untuk menekan terjadinya kematian massal. Negara berkewajiban memberikan fasilitas kesehatan, menciptakan kesejahteraan, dan keadilan sosial, sebagai jaminan rasa aman bagi warga negara. Dengan melihat angka kematian akibat Covid-19 dan kematian ibu melahirkan adalah akibat dari fasilitas kesehatan yang tidak memadai. Mempertontonkan betapa lemahnya peran negara, sehingga kematian terus mengalami peningkatan. Ya, negara melegitimasi terjadinya kematian massal.

Hal itu mengigatkan kepada buku karangan Jhon Rossa “Dalil Pembunuhan Massal, G30S, dan Kudeta Soeharto,” buku yang dilarang terbit karena cover depannya hanya memuat tulisan G30S tanpa menyertakan /PKI. Buku ini mengulas serta mengungkap fakta dibalik peristiwa G30S sampai Kudeta Soeharto. Buku ini juga memerkarakan pembantaian atas 3 juta anggota PKI atas tuduhan pembunuhan 7 Perwira. Berbagai propaganda dibangun oleh Soeharto untuk mewajarkan kematian massal itu terjadi. Dengan dalil PKI kejam, biadap, tak berakal serta pembunuh keji.

Cukup memprihatinkan Indonesia masa kini nyaris tidak ada yang berbeda dengan Indonesia masa kelam, sebab kematian terus menerus diproduksi oleh negara. Kematian secara tragis juga mengigatkan kita pada para aktivis: Tan Malaka, Marsinah, Munir, Mako Tabuni, dan Wiji Tukul dibunuh dengan tuduhan melawan negara. Semomga mereka diberikan tempan terbaik di sisinya.

Ada dua hal yang menjadi catatan sebagai pengigat di balik kematian massal itu, yakni, kematian massal terjadi karena kelalaian dan kesengajaan negara. Alih-alih pencegahan dan percepatan kesejahteraan, perampasang ruang hidup marak terjadi. Terlebih lagi orang miskin dituduh oleh negara mejadi malapetaka bagi orang kaya. Padahal kita tahu betul kesenjagan ekonomi yang menjadi petaka bagi orang miskin karena akibat kerakusan oang kaya/oligarki dan negara menguasai ekonomi secara ekstrim.

  • Duh, apakah kematian massal akan berakhir pasca COVID-19? Jawabanya adalah kematian massal tidak akan berakhir. Pasca CVID-19 kita akan menghadapi, Omnibus Law konsep kematian massal yang disiapkan negara. Namun, kita tidak perlu takut dengan kematian, baiknya selalu mempersiapkan diri untuk menjemput kematian. Sebab saling membunuh adalah budaya Indonesia! []
Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Dafrin Muksin

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan Pengusir Ayam gagal pensiun

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link