Setelah melewati transisi pergantian tahun 2019 ke 2020, Rumah Baca Komunitas (RBK) kembali melaksanalan ibadah mingguan, Diskusi Jumat Sore (Dejure). Dengan penuh kegembiraan, Dejure awal tahun ini dimulai dengan membedah buku Rosa Luxemburg “Sosialisme dan Demokrasi,” karya Dede Mulyanto. Sebagai pemantik Nurudin Al Akbar, Mahasiswa Progam Doktoral Politik UGM, biar lebih soaialisme sebut saja beliu aktivis Marjinkiri. Dan moderator yang tidak kalah kiri juga, La Halufi, pegiat RBK mahzab Kanoman yang lagi viral dengan resensinya “Kuasa Media di Indonesia”. (21/02/2020)

Loh, terus apa hubungannya dengan memerkarakan tiktok? Apa penting untuk memperkarakan tiktok? Bukanya Ganjar, Anis, dan Ridwan Kamil sangat senang dengan tiktok? Apalagi para kaum hawa, dapat dipastikan sangat akrab dengan tiktok. Owalah, baiklah saya akan mejelaskan, namun sebeluh mengarah kesitu-kearah pencerah. Sebaiknya kita berkenalan dulu dengan Rosa Luxsemburg.

Rosa Luxemburg lahir 15 Maret 1861 di zamosc sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Rosa telah memulai aktivitas berorganisasi sejak gadis belia. Di tengah penindasan atas kaum proletariat di Warsawa, Lodz, dan Polandia Rosa mendaftarkan diri sebagai anggota Partai Revolusioner Sosialisme Internasional Proletariat. Di usia 16 tahun Rosa terlibat dalam pergerakan sosialis Polandia. Rosa juga dikenal sebagai tokoh revolusioner Jerman dibawah Partai Sosial Demokrasi Jerman (SPD).

“Bila sosialisme mengandung tesis utama bahwa kapitalisme memiliki kontradiksi-kontradiksi yang tak dapat diselesaikan, yang terus menyeret masyarakat dalam krisis, dan oleh karenanya harus disudahi keberadaannya secara revolusioner”. Hal itu bertentangan dengan apa yang diyakini kaum reformisme bahwa “kapitalisme dapat diperbaiki menjadi kapitalisme yang baik, yang humanis, yang bebas dari krisis dan penindasan, lewat perubahan-perubahan kecil secara berlahan”.

SPD menjadi terbelah: yang satu menuntut revolusi untuk mengakhiri status quo, yang satu lagi menyangkal revolusi dan mempertahankan status qua. Revolusi Jerman pun meledak pada 1918-1919, kepemimpinan SPD yang reformis melakukan segala cara untuk meredam api revolusi yang tengah berkobar dan menyelamatkan kapitalisme, termasuk menumpahkan darah saudara-saudarinya sendiri. Rosa pun tumbang dieksekusi oleh militer Freikorps pada 15 Jaruari 1919. Kematiannya menjadi lautan kesedihan kaum buruh sedunia. Rosa pun dikenang sebagai Pahlawan Revolusi Jerman.

Di masanya, Lenin dan Rosa berpolemik dalam meilhat penindasan nasional. Bagi Lenin bangsa-bangsa yang tertindas harus diberikan hak menentukan nasibnya sendiri, namun hal itu ditentang keras oleh Rosa. “Menurutnya, sebagai seorang internasionalis yang memperjuangkan persatuan kelas buruh, hak penentuan nasib sendiri akan memecah belah rakyat dalam sentimen nasionalisme”.

Sang Elang, demikian Lenin memberikan julukan untuk mengenang Rosa Luxemburg. Rosa semasa hidupnya didedikasikan untuk melawan penindasan manusia atas manusia, membebaskan manusia dari penindasan kapitalisme dan imprealisme. Karenanya, banyak hal yang dapat dipelajari dari Rosa, misalnya perjuangan gigihnya melawan tendensi reformisme yang berkembang dalam Partai Sosial Demokrasi Jerman (SPD).

Baiklah mari kita memerkarakan tikto! Sangat disanyangkan bahwa sebagian besar kaum Hawa saat ini telah telah kehilangan kesadaran kritis, termakan oleh budaya tiktok. Nyaris tidak ditemukan lagi kaum Hawa yang se-radikal Rosa atau secara sederhana dapat dikatakan perempuan dan buku sudah mulai punah karena terbius oleh tiktok.

Lewat tiktok, kita dapat melihat betapa ganasnya sistem kapitalisme bekerja. Loh, masa iya tiktok bagian dari kapitalisme? Ya, jangankan anda, saya pun tidak menyaka bahwa tiktok adalah bagian dari kapitalisme. Setelah memerkarakan tiktok saya mendapatkan pengetahuan bahwa pemilik tiktok adalah orang terkaya ketiga belas di Cina, dialah Zang Yiming. Kekayaanya semakin terlegitimasi dengan menciptakan tiktok: tanpa mengeluarkan keringat Yiming mendapatkan keuntungan besar atas tindak-tindakan irasional dari para pelaku tiktok. Lantas bagaimana dengan pejabat negara yang terlibat tiktok? Ya, kita pantas curiga jangan-jangan negara juga mendapatkan keuntungan dari tiktok, sehingga pejabat negara diarahkan untuk mengkampanyekan tiktok.

Tapi kan kapitalisme sudah menang atas sosialisme, lalu apa salahnya kalau tiktok dibiarkan berkembang? Jika anda masih berfikiran sepeti itu, maka direkomendasikan perlu membaca buku Rosa Luxsemburg. Sebab dengan membaca buku Rosa kita akan sampai pada kesimpulan bahwa sekalipun sulit menjumpai Revolusi, namun selama kaum pekerja masi diberikan upah hanya untuk mempertahankan hidup maka perjuangan kelas belum berakhir.

Untuk itu mungkin jalan revolusi belum dapat ditempuh, sebab kapitalisme telah menang. Namun hal itu bukan berarti kita harus kehilangan kesadaran kritis, selalu dikekang kebebasanya, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk yang memiliki khendak bebas. Bebas dari segala bentuk penindasan. Untuk itu, mungkin saja satu-satunya jalan untuk melawan kapitalisme adalah memerkarakan segala sesuatu.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Max Horkheimer, dalam teori kritisnya bahwa manusia rasional adalah manusia yang mencurigai dan bersikap kritis atas segala sesuatu terutama sistem ekonomi. Sedangkan manusia irasional adalah ia yang selalu tunduk atas keadaan yang menimpanya. Itulah sebabnya mengapa saya memerkarakan tiktok.[]

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Dafrin Muksin

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan Pengusir Ayam gagal pensiun

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link