Pandemi corona virus (Covid-19) membikin hampir semua sekolah dan perguruan tinggi secara serentak diliburkan. Segala macam ihwal yang berkaitan dengan belajar formal di dalam kelas, digantikan dengan metode belajar jarak jauh (online). Dengan dalil pencegahan penyebaran Covid-19. Tidak bisa dimungkiri bahwa belajar dengan metode jarak jauh adalah pilihan terbaik untuk kondisi yang sulit saat ini. Namun di sisi yang lain, juga harus diakui bahwa metode belajar jarak jauh tidak begitu efektif ketimbang belajar dengan metode tatap muka. Tetapi jangan bersedih (La Tahzan), sebab ada 101 jalan menuju Ilmu. 

Sekolah Diliburkan, Pelajar Harus Bagaimana?

Jawaban yang relevan baiknya di rumah saja. Loh, di rumah saja: tidur, bangun, dan tidur lagi begitu? Duh, tidak seperti itu. Lalu harus bagaimana? Ya, Sekolah bisa saja diliburkan, tetapi belajar jangan. Sebab tidak ada kosakata libur dalam kamus seorang terpelajar. Tugas seorang terpelajar adalah belajar dan terus belajar.

Untuk alasan inilah, kaum terpelajar harus berkerut, lewat pengamatan indrawi, memikirkan banyak hal: memikirkan bumi, memikirkan langit, memikirkan manusia, ataupun lebih tepatnya memikirkan alam beserta isinya. Dengan demikian, belajar tidak bisa disempitkan hanya sebatas ruang sekolah, namun belajar dapat dilakukan di mana pun dan dengan siapa pun.  Karenanya, sekalipun sekolah diliburkan tidak ada alasan untuk tidak belajar. Untuk itu, agar tetap produktif sebagai seorang terpelajar, ada beberapa catatan yang dapat dilakukan saat sekolah diliburkan karena Covid-19:

Waktu Terbaik Untuk Belajar

Akibat Covid-19, mungkin saja ada banyak manusia yang frustrasi karena tidak lagi menjadi makhluk sosial. Semua aktivitas dibatasi, manusia tidak lagi berinteraksi bahkan saling mencurigai terpapar Covid-19. Jangan bersedih karena semua aktivitas kita terhambat oleh Covid-19, tetap waspada, jaga jarak, dan sebaiknya tetap di rumah. Bagi seorang terpelajar, inilah waktu yang tepat untuk  belajar. Belajar akan banyak hal.

Biasanya, proses belajar akan  dimulai dengan pertanyaan yang difokuskan pada suatu masalah. Berbeda dengan sebelumnya, metode belajar di era Covid-19 dimulai dengan mempertanyakan banyak hal. Mempertanyakan tentang segala sesuatu: tentang Covid-19, perubahan iklim, ketersediaan air, ruang terbuka hijau, tanah lonsor, pemilik tambang batubara,  dan mahalnya biaya pendidikan. Selanjutnya, mengumpulkan referensi sebanyak-banyak mungkin untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mulai sekarang, pergunakan kuota internet dengan lebih bijak, sebab negara tidak memberikan subsidi untuk urusan pertanyaan.

Untuk sementara waktu, dapat disimpulkan bahwa semua pertanyaan-pertanyaan di atas disebabkan oleh tangan jahil manusia. Untuk itu, langkah yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perubahan secara radikal atas pola konsumsi yang dimulai dari diri sendiri. Mengurangi pengunaan plastik, menggunakan sumber daya terbatas secara bijak, dan belanja sesuai dengan kebutuhan bukan atas dasar hawa nafsu kerakusan.

“Manusia, bila ingin hidup terus di bumi yang kian kecil, mutlak harus rela menjadi warga biasa bumi, yang hak dan kewajibannya setara dengan makhluk-makhluk yang hidup dan tidak hidup lainnya.”

Philip Shabecof, seorang wartawan senior The New York Times,  dalam karyanya yang diterjemakan dalam bahasa Indonesia “Sebuah Nama Baru untuk Perdamaian: Enviromentalism Internasional, Pembengunan Berkelanjutan, dan Demokrasi.” Lewat karya tersebut, Shabecof berupaya untuk menyakinkan umat manusia bahwa “Manusia, bila ingin hidup terus di bumi yang kian kecil, mutlak harus rela menjadi warga biasa bumi, yang hak dan kewajibannya setara dengan makhluk-makhluk yang hidup dan tidak hidup lainnya.”

Kesempatan Berbakti

Dengan menyaksikan begitu banyak permasalahan yang terjadi pada hari-hari ini: pencemaran lingkungan, kerusakan hutan, pencemaran wilayah perairan, rusaknya ekosisntem, dan menipisnya lapisa ozon yang dampaknya semakin dirasakan. Sebut saja, Covid-19 dapat dikatakan reaksi kecil dari ketidak seimbangan alam, sebab dalam pemahaman biosentrisme bahwa alam tidak diciptakan untuk melayani manusia, melaikan manusia bagian dari alam dan spesies lainnya.

Pandemi Covid-19 adalah bukti teguran alam kepada manusia. Hal itu mengisyaratkan kepada manusia untuk memperbaiki hubungannya dengan alam dan makhluk lainnya. Jika hipotesis sementara bahwa kerusakan bumi disebabkan oleh tangan jahil manusia, maka inilah kesempatan untuk berbakti kepada alam, manusia, dan kepada diri sendiri:

Berbakti pada alam

Kaum terpelajar harus memutuskan mata rantai kejahatan lingkungan dengan membangun pemahaman bahwa menguasai bumi secara ekstrem–mengonsumsi secara berlebihan atas kekayaan: air, tanah, dan sumber daya alam lainya harus segera dihentikan. Selemah-lemahnya iman ekologis, memperhatikan lingkungan di sekitaran rumahnya. Jika tidak, maka tunggu saja sampai alam membuat perhitungan dengan manusia. 

Berbakti pada manusia

Status berbakti pada manusia adalah upaya untuk memperbaiki hubungan antar sesama manusia. Di mana , era pademi Covid-19 membutuhkan kerja sama dan perhatian semua manusia. Untuk itu, jika kita memiliki kelebihan materi maka berbagilah. Misalnya, berbagi fasilitas kesehatan masker dan hand sanitizer kepada mereka yang memiliki kemalangan secara ekonomi. Sebab kehadiran negara tidak bisa sepenuhnya diharapkan.

Berbakti pada diri sendiri

Ada tulisan menarik ditulis oleh Sinta Yudisia, Pegurus Pusat Forum Lingkar Pena, dengan tema “Hikmah Coronavirus” kurang lebih ada 7 poin tentang hikmah di balik Covid-19. Kaitanya dengan berbakti pada diri sendiri, pada pon 3 Sinta Yudisia membahas tentang kesadaran diri. Bercerita tentang tuntutan hidup di kota metropolis dan kebutuhan finansial membikin sebagian manusia abai dengan alarm kecil pada tubuh: lelah, demam, dan nyeri. Akan menjadi perhatian setelah benar-benar ambruk, barulah kita sadar bahwa kesehatan itu sangat penting. Karenanya, pola hidup sehat serta pemenuhan suplemen yang dibutuhkan tubuh harus selalu diperhatikan. Bukan sebaliknya, ketika sakit atau terserang wabah penyakit barulah kita menerapkan pola hidup sehat.

Saatnya Berkarya
Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk menjadi makhluk rumah, namun bukan berarti harus menghentikan semua aktivitas. Dengan adanya waktu lebih panjang di rumah, terlepas dari metode belajar jarak jauh, kita dapat memanfaatkan waktu luang dengan berkarya. Bagi mereka yang mencintai seni lukis, mungkin saja akan menghasilkan lebih banyak karya dari yang biasanya. Tentunya, setiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda dan tidak harus sama. Untuk itu, bagi saya sebagai seorang penulis pemula karya terbaik adalah menulis. Dengan adanya waktu yang lebih panjang di rumah, saya mempergunakan untuk menulis dan terus menulis. Pramoedya pernah berka bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” []

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Dafrin Muksin

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan Pengusir Ayam gagal pensiun

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link