Seandainya Nabi Yusuf Melihat Kondisi Indonesia Hari Ini

 Seandainya Nabi Yusuf Melihat Kondisi Indonesia Hari Ini

Sumber: republika

Oleh: Fahmi Saiyfuddin (Jakarta Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah) dan Rosti Hanifa Salsabila (Alumni Al-Azhar Kairo Mesir, Mahasiswi Pascasarjana IIQ Jakarta)


Mungkin kebanyakan dari kita hanya mengenal kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha. Kisah yang seringkali diulang untuk menggambarkan betapa menawan dan rupawan Nabi Yusuf, kisah tentang keteguhan menjaga iman serta kesabaran dalam menghadapi cobaan. Padahal selepas peristiwa tersebut, terdapat kisah hikmah yang bisa kita petik pelajarannya terutama dalam konteks bangsa Indonesia yang hari ini sedang tidak baik-baik saja.

Alkisah, setelah Nabi Yusuf terbukti tidak bersalah dan dibebaskan dari berbagai tuduhan serta hukuman yang menimpanya, Raja Mesir pada saat itu lantas menawarkan kepadanya sebuah posisi penting dalam pemerintahan. Menanggapi tawaran tersebut, Nabi Yusuf secara khusus mengajukan diri untuk mengemban amanah sebagai bendahara kerajaan Mesir.

Sebagai bendahara, Nabi Yusuf tentu menjadi ujung tombak dalam mengelola perekonomian negara pada masa itu. Tanggung jawab tersebut semakin penting karena, berdasarkan mimpi Raja, kerajaan akan menghadapi masa krisis dan paceklik selama tujuh tahun berturut-turut.  Jika dahulu ancaman diisyaratkan melalui mimpi, di era modern ini ancaman krisis diutarakan oleh para ahli. Dan saat ini, rakyat Indonesia sedang merasakan krisis tersebut dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Pelemahan nilai tukar rupiah sendiri dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal. Dari sisi global, konflik geopolitik, khususnya ketegangan di Timur Tengah, turut memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global. Di saat yang sama, ekonomi AS yang dinilai masih kuat di tengah inflasi, membuat bank sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level yang tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Sedangkan dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah semakin besar karena tingginya kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor minyak, pembayaran utang luar negeri yang akan jatuh tempo, serta kebutuhan devisa untuk transfer dividen ke luar negeri. Kemudian, meningkatnya minat masyarakat menyimpan aset dalam valuta asing sebagai langkah melindungi nilai di tengah ketidakpastian ekonomi yang turut memperbesar permintaan dolar dan memperlemah posisi rupiah.

Meskipun Prabowo mengatakan “orang desa tak pakai dollar”, namun fakta lapangan mengatakan sebaliknya. Sebab saat ini hampir 70% ekonomi Indonesia bergantung pada bahan baku impor, mulai dari beberapa kebutuhan pangan, industri tekstil, elektronik, minyak, gas, obat-obatan, hingga kendaraan. Hampir sebagian besar barang yang ada di rumah kita saat ini adalah produk impor. Bahkan tahu dan tempe yang kita makan setiap hari, kedelainya diimpor dari negeri Paman Sam. Oleh karena itu, seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah, maka harga-harga komoditas di pasar pun terkerek naik.

Untuk itu, penting kiranya kita menelisik bagaimana Nabi Yusuf merespon ancaman krisis pada masa itu, sebagai pembelajaran bagi negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia seperti Indonesia dalam menghadapi situasi dan tantangan krisis masa kini.

Tafsir QS Yusuf: 43-49: Metode Nabi Yusuf dalam menghadapi krisis

Dalam Tafsir Al-Baghawi, QS. Yusuf ayat 43–49, Al Qur’an menceritakan bagaimana Nabi Yusuf menawarkan solusi terhadap ancaman krisis ekonomi yang akan menimpa Mesir kala itu. Dalam ayat ke-46, mantan narapidana yang kini menjadi asisten Raja datang ke sel tahanan Nabi Yusuf. Ia menceritakan mimpi sang Raja yang melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.

Dalam riwayat Al-Kalbi yang dinukil Al-Baghawi, mimpi tersebut digambarkan lebih dramatis, dimana Raja melihat tujuh ekor sapi gemuk keluar dari sungai, lalu disusul tujuh ekor sapi kurus yang sangat lemah dan kelaparan. Sapi-sapi kurus itu memakan sapi-sapi gemuk hingga tak bersisa, dan secara bersamaan, tujuh bulir gandum yang kering mengalahkan tujuh bulir yang hijau hingga hilang tak tersisa.

Mimpi tersebut mengisyaratkan bahwa akan datang krisis pangan yang berkepanjangan dan berpotensi menghabiskan seluruh lumbung pangan yang selama ini dinikmati masyarakat Mesir.

Setelah mendengar penuturan asisten sang Raja tersebut, Nabi Yusuf fokus membaca ancaman sejak dini kemudian menjadikannya pijakan dasar penyusunan kebijakan ekonomi jangka panjang. Setelah menganalisis masalah dan menyusun strategi, pada ayat 47, langkah kedua Nabi Yusuf adalah implementasi peningkatan produksi pangan selama masa subur serta kebijakan pengendalian konsumsi dan pemenuhan cadangan pangan sebagai langkah antisipatif menghadapi masa sulit.

Tidak hanya itu, Nabi Yusuf juga menerapkan strategi penyimpanan yang efektif. Al-Baghawi menjelaskan bahwa Nabi Yusuf memerintahkan agar gandum tetap disimpan dalam bulirnya karena lebih tahan lama dan tidak mudah rusak serta menyisakan sebagian kecil stok gandum untuk benih pada musim tanam setelah masa krisis.

Menariknya, takwil Nabi Yusuf terhadap mimpi sang Raja tidak berhenti pada prediksi krisis semata. Ia memberikan kabar gembira bahwa setelah tujuh tahun masa krisis, akan datang satu tahun penuh keberkahan ketika hujan kembali turun dan hasil pertanian melimpah. Menurut Al-Baghawi, kondisi itu digambarkan dengan aktivitas masyarakat yang kembali memeras anggur, zaitun, dan berbagai hasil pertanian lainnya.

Dari kisah tersebut, bisa kita lihat bahwa metode Nabi Yusuf dalam menghadapi krisis dibangun atas empat hal. Pertama,  membaca ancaman sejak dini, kedua, meningkatkan produksi pada masa normal, ketiga, mengelola cadangan secara bijaksana, dan terakhir menyiapkan keberlanjutan ekonomi setelah krisis berlalu. Prinsip-prinsip inilah yang menjadikan kisah Nabi Yusuf tetap relevan sebagai pelajaran pengelolaan sumber daya dan ketahanan ekonomi hingga hari ini.

Keberhasilan strategi yang diterapkan Nabi Yusuf dalam menghadapi krisis bertahun-tahun tak akan terjadi tanpa adanya satu faktor kunci, sebagaimana dijelaskan dalam ayat ke-54, dimana Raja Mesir kala itu kagum dengan kecerdasan Nabi Yusuf dan hendak menjadikan Nabi Yusuf sebagai orang kepercayaannya.

Kemudian pada ayat selanjutnya, Nabi Yusuf menjawab janji manis sang Raja dengan perkataan yang begitu cerdas, anggun dan penuh kualitas:

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Dia (Yusuf) berkata: Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan negeri (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) lagi sangat berpengetahuan” (QS. Yusuf: 55).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, pernyataan ini bukanlah bentuk kesombongan, melainkan penjelasan mengenai kapasitas diri yang diperbolehkan ketika seseorang belum dikenal kemampuannya dan terdapat kebutuhan yang mendesak. Nabi Yusuf menyebut dirinya hafiz karena memiliki sifat amanah dalam menjaga dan mengelola harta, serta ‘alīm karena memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai untuk menangani urusan yang dipercayakan kepadanya, termasuk menghadapi masa paceklik yang akan datang.

Syaibah bin Nu‘amah saat menafsirkan ayat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim menjelaskan bahwa kata hafiz berarti mampu menjaga apa yang dipercayakan kepadanya, sementara kata ‘alīm berarti mengetahui cara menghadapi berbagai permasalahan krisis.

Menurut Subhi Ali Kakeeh, salah seorang pakar bisnis dan praktisi manajemen asal Suriah, ayat 55 surah Yusuf memberikan kita hikmah bahwa penunjukkan orang yang tepat dalam menghadapi krisis menjadi kunci utama, sebab ia menentukan seberapa efisien suatu krisis dapat ditangani dengan cepat dan melalui metode yang benar.

Sialnya, faktor penting inilah yang kini telah hilang dari negeri kita. Hari ini, kita kerap menyaksikan orang-orang yang tidak kompeten dalam bidangnya, tidak amanah menjalankan tugasnya, dan tidak takut terhadap Tuhannya, menduduki posisi-posisi strategis di negeri ini.

Korelasi dan Refleksi

Meskipun persoalan finansial di zaman ini lebih kompleks karena adanya globalisasi, hubungan dagang serta hukum internasional, namun, terdapat satu hal yang bisa kita garis bawahi adalah, strategi dan metode Nabi Yusuf dalam menghadapi persoalan suatu negeri. Pertama, membaca ancaman sejak dini dengan fokus pada keberlanjutan ekonomi (sustainability) dan pemberian jabatan kepada orang yang ahli di bidangnya.

Dua poin tersebut,menjadi refleksi besar bagi kondisi bangsa kita hari ini, dimana masih ada program-program yang alih-alih meningkatkan gizi, tapi malah jadi ladang korupsi. Begitu juga kursi-kursi jabatan yang tidak diisi oleh orang-orang berkompetensi tinggi di bidangnya, serta pemaksaan koperasi yang tidak menjual produk yang diperlukan petani untuk meningkatkan jumlah produksi.

Jika ditarik ke belakang, Farabi Fakih (2020), menyatakan bahwa pendekatan teknokratik di Indonesia, sejak masa orde baru seringkali tidak menyentuh persoalan akar rumput serta dipaksakan melalui pendekatan militeristik -sebagaimana ditanyakan dalam film “Pesta Babi” yang tengah ramai ditonton publik. Dan kini, sinergi antara militer dan teknokrasi pada masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, menemukan bentuk kesinambungannya kembali pada kabinet Merah Putih.

Padahal, program revolusi hijau pada masa Presiden Soeharto, alih-alih menghasilkan lumbung padi yang tahan hingga tujuh lamanya, malah justru membuat petani semakin ketergantungan pupuk dan benih yang hari ini semakin kecil subsidinya serta ditambah lagi kondisi tanah yang semakin tidak produktif akibat unsur kimia yang berlebihan. Kondisi itu, membuat negeri ini masih saja harus impor beras dari negara lain.

Sialnya, program yang terbukti gagal itu dilanjutkan dengan program ‘Food Estate’ di tanah Papua dengan membuka jutaan hektar hutan, membasmi satwa endemik, menghancurkan sumber pangan orang asli Papua. Dan kesialan kedua, komoditas yang dipaksa ditanam tersebut tidak diperuntukan untuk penduduk setempat, tapi untuk keperluan Industri yang keuntungannya masuk ke kantong segelintir orang.

Akhirul Kalam

Andai Nabi Yusuf melihat kondisi ini, mungkin ia tidak hanya mengajarkan kita strategi atau metode menghadapi krisis ekonomi saja, tetapi mungkin akan menegur cara pengelola amanah yang kerap jauh dari prinsip hafīẓun dan ‘alīm dalam mengisi jabatan dan merumuskan kebijakan. Sebab krisis tidak hanya muncul dari keterbatasan sumber daya, tetapi juga dari lemahnya pembacaan ancaman sejak dini, buruknya pengelolaan cadangan, serta abainya prinsip keahlian dalam penempatan orang pada posisi strategis.

Pada titik ini, kisah nabi Yusuf bukan sekadar narasi sejarah kenabian, melainkan cermin yang mempermalukan kebijakan yang lebih sering terseret kepentingan ketimbang keberlanjutan. Maka jika kita sungguh ingin keluar dari siklus krisis yang berulang, yang pertama-tama harus dibenahi bukan hanya sistemnya, tetapi juga integritas dan kompetensi para pengelolanya.

Wa Allahu a’lam!

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *