Kopdar Serikat Taman Pustaka: Merawat Api yang Dinyalakan Seabad Silam

 Kopdar Serikat Taman Pustaka: Merawat Api yang Dinyalakan Seabad Silam

Kopdar Serikat Taman Pustaka di UM Purwokerto

Ada momen-momen tertentu dalam sejarah sebuah gerakan yang layak dijadikan jeda untuk menoleh ke belakang sekaligus menata langkah ke depan. Kopdar (kopi darat) Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah yang digelar hari ini 18 Juli 2026 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto adalah salah satu momen semacam itu. Ia bukan sekadar reuni para penggerak literasi, melainkan pertemuan yang menyatukan kembali ribuan simpul taman baca, perpustakaan masjid, perpustakaan rumahan, dan komunitas literasi yang tersebar di seluruh penjuru Persyarikatan.

Jika ditarik garis waktu, akar dari pertemuan ini sesungguhnya sudah tertanam sejak 17 Juni 1920, ketika KH Ahmad Dahlan membentuk Bahagian Taman Pustaka Muhammadiyah dan menunjuk Haji Mochtar sebagai pengurusnya. Visi yang dibawa sejak awal sudah jauh melampaui zamannya, yakni perpustakaan yang inklusif, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang keanggotaan, dan bacaan yang bisa diperoleh dengan murah bahkan cuma-cuma.

Konsep pelayanan perpustakaan umum yang belakangan digaungkan oleh Perpustakaan Nasional RI sebagai sesuatu yang baru, ternyata telah dirintis Muhammadiyah seabad lebih silam. Serikat Taman Pustaka yang dideklarasikan di Gedung Nyai Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada akhir 2017, adalah kelanjutan dari benang merah itu yang merupakan upaya untuk kembali menyatukan idea, imajinasi, dan etos yang sama meski format organisasinya kini berbeda.

Membaca sebagai Tabungan Pengetahuan

Dalam Kopdar kali ini, sastrawan Ahmad Tohari yang merupakan penulis novel fenomenal Ronggeng Dukuh Paruk mengingatkan hal yang sederhana namun sering dilupakan generasi digital: membaca adalah cara menabung pengetahuan. Konsistensi kecil, seperti lima halaman buku setiap hari, jika dirawat bertahun-tahun akan mengisi kepala dengan pengetahuan yang utuh. Sebaliknya, tanpa membaca, kepala hanya menyimpan kekosongan.

Bagi Ahmad Tohari, kedalaman semacam ini tidak bisa digantikan oleh tontonan cepat di YouTube. Novel setebal Ronggeng Dukuh Paruk, apalagi karya-karya besar Pramoedya Ananta Toer, menuntut waktu dan ketekunan yang tidak bisa dipangkas hanya dengan menonton ringkasan berdurasi belasan jam. Ini bukan sikap anti-teknologi, membaca dari gawai, katanya, sama sekali tidak salah, tetapi belum cukup untuk menggantikan posisi buku cetak sebagai ruang perenungan yang utuh.

Pernyataan ini relevan justru karena disampaikan di tengah forum yang mempertemukan para pengelola taman baca akar rumput, orang-orang yang setiap hari bergelut dengan pertanyaan paling mendasar. Bagaimana caranya membuat orang mau membaca di tengah gempuran layar? Kegelisahan Ahmad Tohari sesungguhnya adalah pengingat bahwa literasi bukan sekadar akses terhadap informasi, melainkan latihan kesabaran dan kedalaman berpikir.

Harga Sunyi di Balik Sebuah Buku

Sementara itu, sastrawan dan penulis asal Banyumas, Nassirun Purwokartun, membagikan sisi lain dari perjuangan literasi yang jarang terlihat: proses kreatif yang panjang dan sunyi. Ia menyebut dirinya kerap “berpuasa” hingga 10–14 hari demi menuntaskan sebuah naskah.

Kesaksian ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap buku yang terpajang di rak taman pustaka, ada ongkos yang tidak murah, baik dalam bentuk waktu, tenaga, maupun material cetak yang harganya kian menantang bagi para penggerak literasi komunitas. Ini seharusnya menjadi catatan penting bagi para pengelola taman baca, mendorong minat baca saja tidak cukup, sebab ekosistem literasi juga membutuhkan keberlanjutan dukungan bagi para penulis dan penerbit kecil yang menjadi hulu dari setiap bacaan.

Semangat Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah

Sebagai Ketua Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah, David Efendi berulang kali menegaskan bahwa gerakan literasi Muhammadiyah lahir dari watak komunitas yang fleksibel, sukarela, dikelola bersama, dan tidak berorientasi profit. Prinsip inilah yang membuat ribuan taman baca bisa tumbuh di kampung, pasar, dan tempat kerja tanpa birokrasi yang berbelit.

Semangat ini pula yang tampaknya menjadi ruh Kopdar hari ini yakni sebuah forum yang tidak hanya merayakan legasi, tetapi juga meneguhkan kembali empat nilai utama Serikat Taman Pustaka (1) membangun dialog inklusif, (2) memproduksi pengetahuan yang berguna, (3) membangun komunitas epistemik yang berdaya tahan, dan (4) menginspirasi gerakan kolektif menuju masyarakat yang lebih adil dan tercerahkan.

Melanjutkan Apa yang Sudah Dimulai

Pertemuan ini penting bukan karena besar-kecilnya seremoni, melainkan karena ia menyambungkan kembali dua generasi penggerak, mereka yang merintis “Taman Poestaka” pada era Hindia Belanda dengan mereka yang kini mengelola rak-rak buku sederhana di sudut kampung dan masjid. Ahmad Tohari mengajarkan pentingnya kedalaman dan konsistensi. Nassirun Purwokartun mengingatkan ongkos sunyi dari proses kreatif. David Efendi menegaskan bahwa siapa saja bisa menjadi penggerak literasi, selama ada kemauan.

Sebagaimana pernah dipesankan Dauzan Farook, salah satu penggerak Taman Pustaka Muhammadiyah di masa lalu, keberadaan sebuah taman baca tidak ditentukan oleh ramai-sepinya pengunjung, melainkan oleh niat mulia untuk terus menyalakan obor pengetahuan. Kopdar di UM Purwokerto hari ini adalah pengingat bahwa semangat literasi tidak boleh padam, dan kini giliran generasi masa kini untuk melanjutkan apa yang sudah lama dimulai oleh para pendahulu.

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *