Kampanye tentang bahaya lingkungan terus menerus diproduksi dikalangan mayarakat urban. Pada hari-hari ini banyak sekali wacana yang dibangun untuk mendorong kehidupan kota yang lebih harmoni dan ramah lingkungan. Namun sialnya hal itu seolah tidak dihiraukahn oleh para pelaku kejahatan lingkungan. Untuk alasan kemajuan: hutan, lahan pertanian, sumber  daya air, dan kualitas udara telah digantikan denga beton, pubrik, perhotelan, dan pencemaran udara. Kejahatan lingkungan menjadi dilegalkan.

Anehnya, mahasiswa Fakultas Ekonomi dibeberapa Universtas ternama disibukan untuk menghitung keuntungan dan kerugian pubrik dan hotel dengan mengesampingkan ekonomi kreatif untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat urban. Duh, Sial! Maafkan kanda tidak bermaksud menyinggung.  Sudahlah jangan bahas mahasiswa apalagi milenial. Tapi perlu dicatat bahwa kerusakan lingkungan bukanlah menjadi tanggung jawab aktivis lingkungan saja, namun juga menjadi tanggung jawab bagi setiap umat manusia.

Kehidupan kota cukup memprihatinkan. Eksploitasi alam secara ekstrim melahirkan kesenjagan  pada kehidupan masyarakat. Di bawah gedung-gedung pencakar langit, ada jutaan manusia yang tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan yang layak. Seolah kota adalah rumah kapitalisme. Kota menjadi arena pertarungan para pemodal untuk meraut keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan keberlanjutan kehihupan manusia. Sebagaimana dalam pandangan Max Waber, sosiolog Jerman, bahwa kelahiran dan perkembangan suatu kota tidak lepas dari etos kapitalisme.

Sistem kapitalisme, menjadikan masyarakat urban cerderung pragmatis dalam hal konsumsi. Pubrik industri terus melakukan produksi atas barang, dan terus menerus menciptakan ketergantungan. Iklan menjadi senjata utama untuk mempengaruhi prilaku masyarakat urban agar membeli dan mengonsumsi sebanyak-banyak mungkin.

Pola konsumsi yang tidak teratur melegitimasi terjadinya krisis lingkungan. Sebab semakin tinggi kebutuhan konsumsi, maka semakin tinggi eksploitasi atas alam. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, pubrik-pubrik terus bekerja. Olehnya itu, penggusuran, polusi dan limbah pubrik terus mencemari lingkungan.

Di sisi yang lain, masalah serius yang harus dihadapi masyarakat urban adalah masalah sampa. Terutama sampah plastik yang terus menerus tertimbun mengikuti grafik konsumsi masyarakat. Misalnya, kita membaca data sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta volume sampah berkisar 200-250 ton perhari bahkan teus mengalami peningkatan mencapai 600-700 ton perhari. Bagaimana lagi dengan DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk yang begitu rupa. Dengan demikian, sangat sulit menemukan yang ekologi pada masyarakat urban.

Disuatu kesempatan, saya iseng berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di DIY bukan untuk berbelanja, namun untuk memenuhi rasa keingintahuan atas perilaku konsumsi masyarakat urban. Maklum, tak ada kerjaan #dirumahaja. Keisengan mengamati barang yang diproduksi dan dibeli oleh konsumen mengantarkan saya pada suatu pengetahuan bahwa minimnya kesadaran dan pengetahuan menjadikan manusia sebagai makhluk yang rakus. Berbelanja tidak didasari pada kebutuhan, namun pada keinginanan.

Di era Covid-19 yang mengharuskan #dirumahsaja, namun pusat perbelanjaan konsumsi masih ramai dikunjungi apalagi bila kehidupan berjalan normal. Dengan begitu, problem masyarakat urban terletak pada pola konsumsi. Maka yang harus diperbaiki buknlah tempat sampah, namun kesadaran konsumsi. Sebab dengan menekan atau membatasi diri untuk mengurangi kosnumsi akan menekan jumlah produksi pubrik. Itu artinya mengurangi sampah dan limbah pubrik.

Hal itu mengingatkan kita pada ajaran “Seni Hidup Minimalis” ditulis oleh Francine Jay, yang juga dikenal sebagai Miss Minimalis, bahwa cara terbaik untuk mengurangi konsumsi adalah membeli yang hanya kita butuhkan. Mengapa harus mengurangi konsumsi? Karena dengan mengurangi konsumsi, maka kita telah berupaya menyelamatkan bumi.

“Setiap kali kita menahan diri untuk tidak membeli sesuatu karena iseng, memutuskan mengunakan barang yang sudah ada, atau mau meminjam suatu barang dari teman alih-alih beli, berarti kita tengah memberikan sumbangsi pada bumi. Udara menjadi sedikit lebih bersih, air sedikit lebih jernih, hutan menjadi sedikit lebih lebat, dan lahan-lahan pembuangan sampah sedikit lebih kosong. Keputusan minimalisme kita dapat meneyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan dan manusia dari lingkungan kerja lebih baik,” (hlm. 239)

Plastik telah menjadi kebutuhan masyarakat urban. Coba saja kita mengamati barang-barang yang ada di rumah atau di sekeling kita, dapat dipastikan tidak lepas dari calon sampah plastik . Untuk itu menghilangkan plastik adalah sebuah keniscayaan. Maka mengurangi konsumsi adalah pilihan yang tepat. Sudahlah jangan munafik, kita masih tergantung pada plastik. Maaf Saya belum eklogis, namun belajar untuk lebih ekologis. Kamu?

Dalam kontek ini,  jika kita membaca referensi tentang ekologi, maka perilaku masyarakat urban masih berada pada ekologi dangkal: Manusia terpisah dari alam, mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetap menekankan tanggung jawab manusia, mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinanya, kebijakan dan manajemen sumber daya alam untuk kepentingan manusia, norma utama adalah untung rugi, mengutamakan rencana jangka pendek, pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk (khususnya di negara miskin), dan menerima secara positif pertumbuhan ekonomi.

Kerusakan lingkungan terus menerus terjadi di kota bahkan bergerak mengepung pedesaan. Maka kita perlu menimbang kembali relasi manusia dengan alam.  Kita harus kembali ke alamiah. Mempraktekan secara radikal konsep ekologi. Berupaya untuk mewujudkan praktik ekologi dalam, yakni: Manusia adalah bagian dari alam, menekankan hak hidup mahluk lain, prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-wenang, kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk, alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai, pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, menghargai dan memelihara tata alam, mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem, dan mengkritik sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem alternatif yaitu sistem mengambil sambil memelihara.

Memang tidak mudah untuk kembali ke alamiah, namun hal itu menjadi keharusan. Jika tidak,  tunggu saja sampai alam membuat keputusan berupa tanah longsor, sunami, banjir, dan kematian umat manusia sebagai upaya alam untuk mejaga keseimbangan dengan makhluk lainnya (ekuilibrium).  Olehnya itu, tugas utama yang harus dilakukan masyarakat urbaun dan umat manusia adalah menjaa keseimbangan alam. Merubah pola konsumsi secara radikal. Sebab kehidupan tanpa keseimbangan ekologi sejatinya adalah membuat peti kematian bagi dirinya, kerabat, dan umat manusia lainnya.

 

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Dafrin Muksin

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan Pengusir Ayam gagal pensiun

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link