Urgensi Etika Dalam Perilaku (Pemimpin) Politik
Etika adalah cerminan dari gejolak jiwa seorang sehingga para psikolog menyimpulkan bahwa manusia sejak lahir telah memiliki ratusan kecenderungan. Kecenderungan itu akan lebih jelas dan tajam setelah dia dapat memahami perilakunya sebagai makhluk sosial.
Nilai etika memang bukan satu-satunya keharusan dalam perilaku politik. Akan tetapi segala bentuk aktivitas manusia tidak terlepas dari nilai etika itu sendiri. Etika merupakan kata kunci dalam meraih suatu tujuan, baik secara individual maupun secara kolektif. Itulah sebabnya segala bentuk peradaban manusia tidak akan terlepas dari nilai-nilai moral , baik peradaban barat maupun Islam, karena pada prinsipnya semua corak peradaban bertujuan mengantarkan manusia pada puncak kehidupan yang lebih baik.
Terkadang nilai etika diukur dengan kacamata intuisi, terkadang pula diukur dalam kacamata agama. Tentu akan berbeda. Walau demikian masih ada titik temu antara pemikir-pemikir Islam, dengan para tokoh Kristen mengenai urgensi etika dalam berpolitik. Politisi Yunani misalnya melihat bahwa segala bentuk perilaku politik hendaknya tidak terlepas dari nilai etika agama yang ada, karena alam ini mencakup dua unsur yaitu, Tuhan dan Manusia. Dan tujuan berdirinya sebuah negara adalah untuk mencapai tujuan kemaslahatan bersama.
Keresahan dan realita politik mengantarkan kita pada keambiguan terhadap politik. Kesan bahwa politik dengan segala tetek bengeknya kotor karena hanya melahirkan figur-figur ambivalen. Mungkin ada benarnya, karena memang banyak indikator yang menunjukkan hal itu.
Lalu bagaimana Islam memandang etika dalam hubungannya dengan perilaku politik? Perilaku politik seorang pemimpin tidak terlepas dari tiga kategori:
Pertama, Almalik Attabii, perilaku politik seorang pemimpin yang hanya berdasarkan intuisi semata. Jadi, semua bentuk perilaku yang dilakukan seorang politisi dalam mencapai satu tujuan tidak terlepas dari pengaruh intuisi yang dimilikinya. Kedua, Almalik Assiyasi. Perilaku politik seorang pemimpin yang banyak dipengaruhi oleh akal dalam pengambilan sebuah keputusan sangat tergantung pada nilai rasionalisasi masalah. Ketiga, perilaku politik seorang pemimpin yang tidak terlepas dari nilai moralitas agama. Segala aktivitas politik yang dilakukan seorang politisi, baik berupa terobosan baru atau upaya menarik empati masyarakat terkontaminasi oleh nilai yang ada sehingga kecil kemungkinan terjadi kecurangan.
Dari tiga poin tersebut, perilaku seorang politisi hendaknya masuk dalam nominasi yang ketiga. Karena bentuk tersebut menuntut keseimbangan antara integritas politik dengan nilai normatif agama. Maka setiap politisi yang mampu mengakselerasikan kedua poin tersebut akan dianggap berhasil. Sebaliknya, bila tidak mampu maka gebrakan-gebrakan politiknya dianggap sebagai jargon belaka, bahkan tidak menutup kemungkinan mengalami impase.
Etika berpolitik tidak hanya didominasi oleh para politisi sebagai pelaku kebijakan, akan tetapi secara kelembagaan juga sangat penting. Misalnya prosesi pencalonan presiden seringkali dengan cara membabi buta. Artinya, etika dan nilai moralitas agama sudah tidak berati lagi. Yang penting dapat memobilisasi massa, menanamkan rasa empati kepada publik lalu permasalahan dianggap selesai.
Bahkan kalau perlu memprovokasi massa bahwa si-fulan itu koruptor. Politisi busuk, penipu rakyat dan tidak punya idealisme yang mapan. Maka atas nama demokrasi pilihlah saya. Nampaknya gejala ini sudah membudaya dimana-mana. Dan yang melatarbelakangi semua itu hanya dua. Pertama, nilai etika sudah tidak dipandang lagi sebagai bagian dari hidup yang sakral. Dan yang kedua adalah haus kekuasaan.
Benar, di dunia ini tidak ada yang sempurna, akan tetapi jalan untuk mendekati kesempurnaan masih ada. Pesan-pesan agama masih cukup signifikan untuk dijadikan platform dalam setiap perilaku politik, setidaknya masih dapat dianggap sebagai wacana dalam mengintropeksi diri sekaligus menjaga akuntabilitas politik yang dilakukan sekalipun harus diakui bahwa dalam meniti sebuah karir penuh dengan konsekuensi yang begitu hebat. (Dedy Kurniawan)