Oleh: Reynold Patabuga*

Terhitung sejak tiga tahun belakangan—setelah menapaki jalan di kota pelajar sebagai seorang perantau—saya secara intens membangun hubungan yang belum“boleh” dikatakan mesra dengan dunia perbukuan. 

Dan sungguh beruntung, masih begitu lekat diingatan, buku pertama yang saya tuntaskan tiga tahun lalu itu merupakan salah satu diantara roman tetralogi Pulau Buru karangan sastrawan besar Indonesia yang konon, setengah masa mudanya (dipaksa) dihabiskan untuk menjadi seorang tahanan, saya sebut dengan hormat, mendiang Pramoedya Ananta Toer; berjudul “Anak Semua Bangsa”. 

Meskipun, buku yang saya baca itu adalah bagian kedua dari keempat jilid karya cemerlang tersebut, dan oleh sebab itu saya membacanya tak runtut. Nyatanya, tak sedikitpun mengganggu perjalanan membaca saya. Ceritanya kuat, indah, dan mudah dicerna. Dari jilid dua ke jilid satu, lanjut ke jilid tiga, dan mengakhirinya di jilid empat dengan sosok “aku” yang berbeda, seorang tokoh anyar, bernama Jacques Pangemanann dengan dobel “n”. 

Omong punya omong, mungkin itulah yang disebut dengan suara penulis. Sebagaimana dalam salah satu scenedi film Rebel in the Rye (2017) yang notabene merupakan karya biografi mengenai hidup penulis novel klasik The Catcher in the Rye (1951), Jerome David Salinger. Tepat ketika gurunya menunjukkan kepada seisi kelas bagaimana hanya dengan sepenggalan paragraf, William Faulkner, mampu membikin pembacanya menyatu dengan keseluruhan paragraf cerita tersebut. Tak lain tak bukan, disebabkan oleh cerita yang betul-betul kuat.    

Tak saya sangka, setelah pertemuan itulah saya kemudian menjadi seorang pemburu pengumpul berbagai macam buku. Dibuat untuk terus mengikuti jejak tak terkira dari setiap ujung tulisan, sama sekali tak membikin saya lelah. Sebaliknya, senang, takjub, dan penasaran adalah hal yang senantiasa menghiasi malam-malam panjang serta siang-siang pengap di sudut kamar kosan tatkala sebuah buku berada dalam genggaman saya. 

Oleh karena itulah—dalam batas tertentu—boleh dikatakan saya mulai terlatih untuk memilah bahan bacaan. Bukan sekadar menentukan buku apa yang hendak saya baca berdasar keinginan buta. Melainkan, bersumber dari petunjuk yang diberikan bacaan saya sebelumnya.

Mulanya, ada yang saya pilih berdasarkan tema yang kebetulan saya gandrungi. Hal yang bisa dikatakan sebagai selera bacaan, barangkali. Ambil misal; sastra, sejarah, dan filsafat (meskipun jujur saja saya masih belum tahu apa-apa ihwal beberapa tema yang saya sebutkan itu). Ada pula yang disulut oleh kepercayaan saya—lagi-lagi sebagai pembaca awam—akan kualitas kurasi sebuah penerbitan. Maksudnya, apapun tema buku yang baru dirilis oleh sebuah rumah penerbitan (tertentu), saya selalu tertarik untuk membacanya. 

Dari sanalah saya berangsur-angsur mulai mengambil perhatian pada hal-ihwal dunia perbukuan. Mulai dari akar hingga rerantingnya. Dari penulis hingga pedagangnya. Sehingga akhirnya saya tahu bahwa agar sebuah buku bisa sampai di tangan kita (pembaca), sebelum itu ia akan melalui proses yang amat panjang. Proses yang bilamana saya tak menyempatkan diri berkenalan dengan rumah penerbitan, maka sampai hari ini, barangkali saya pun hanya akan menganggapnya sepele belaka. 

Sebagaimana proses panjang itu terpotret mulai dari penyuntingan naskah, ilustrasi sampul, hingga tahap akhir: proses cetaknya sebuah buku; yang itu mampu memakan waktu berbulan-bulan. Belum lagi, jika kita ikut memasukkan proses kreatif sebuah buku. Kira-kira, berapa lama waktu yang dibutuhkan?

            Nah, untuk itulah saya sungguh sangat menghargai orang-orang yang terlibat dalam dunia ini, dunia perbukuan. Meskipun sudah umum halnya bahwa usaha penerbitan buku hingga penjualannya masih lebih banyak mendapatkan lelah, ketimbang untungnya. 

Kalau pembaca yang budiman tak percaya, coba saja tanya ke beberapa penerbit dan pedagang buku. Dari yang baru merintis hingga yang nafasnya sudah kembang-kempis. Dari mereka yang awalnya semangat hingga yang pada akhirnya, mengaku tamat. 

Pun apabila sudah bicara soal penerbit dan pedagang, saya selalu teringat pelbagai peristiwa yang belakangan sempat membikin geger. Peristiwa-peristiwa yang sungguh amat menyakiti hati sekaligus merugikan orang banyak. Yakni, penyitaan demi penyitaan buku yang dilakukan secara semena-mena dari beberapa pihak yang, justru buta akan proses bagaimana susahnya membikin sebuah buku, menjadi asbab dari bermacam rupa perasaan dongkol. 

Keluhan pun bertebaran dipelbagai media: sudah pangsa pasarnya yang tak menentu, masih saja timbul tindakan yang bukan justru menjadi penghibur lara. Melainkan, sebaliknya menjadi momok penghancur belaka. Bertumpuk-tumpuk dengan itu datang lagi kasus lain menimpa dunia perbukuan kita. 

Buku bajakan melimpah-ruah di pasar terang. Tentu banyak yang mangkel.  Tapi, masih lebih banyak yang membajak. Mereka yang mendaku tindakannya dilakukan demi kemajuan niat baca masyarakat. Memilih membajak untuk mensiasati harga buku dan ongkos kirim yang mahal. 

Walaupun, catatannya dengan cara mencuri. Meraup keuntungan ditengah kebuntungan orang lain (penulis, penerbit, dan pedagang buku original) yang dengan demikian secara bersamaan mematikan pula sebagian besar roda penggerak literasi itu sendiri.

Dan… pada akhirnya, sekelabat pengalaman ini yang rasa-rasanya tiada henti hilir-mudik di kepala saya dari kemarin, mesti saya selesaikan. Akhirulkalam, adakah kawan merasakan hal yang sama? 

*Pegiat Rumah Baca Komunitas (RBK)

Komentar Pecinta RBK

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link