Lapangan Muhammadiyah Dan Pesan Mr. Mustamin Tentang Pohon

 Lapangan Muhammadiyah Dan Pesan Mr. Mustamin Tentang Pohon

Khutbah salat Idul Adha 1443 H, Sabtu, 09 Juli 2022 di Lapangan Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 No. 38 Tamalanrea, Makassar. Gambar ini sudah dirilis oleh beberapa media sosial Muhammadiyah Sulsel.

Tampak khatib sedang menyampaikan khutbahnya di hadapan jamaah yang khusuk menyimaknya. Untuk ukuran satu gedung, halamannya cukup luas. Mungkin hampir seukuran lapangan bola. Jika pun kurang, tidak banyak.

Dalam gambar telihat jelas gedung ini memiliki corak atau model rumah adat nasional dari Minangkabau Sumatra Barat. Beberapa kalangan sempat menanyakan, mengapa demikian? Mengapa bukan model rumah adat Bugis atau Makassar.

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa ini sengaja dibuat dengan model rumah adat Minang, sesuai dengan amanah atau pesan dari alm. Mr. H. Mustamin Dg. Matutu, S.H. Semasa hidupnya, beliau adalah tokoh senior masyarakat Bulukumba dan dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Beliaulah yang mewakafkan tanah dimaksud kepada Persyarikatan Muhammadiyah Sulawesi Selatan awal tahun 1990an.

Pada saat menyerahkan wakaf tersebut, dalam catatan saya ada dua permintaannya. Pertama, agar bangunan dibuat dengan model rumah adat Minang. Hal ini diperuntukkan untuk mengenang jasa orang-orang Minang yang membawa Islam ke Sulawesi Selatan. Seperti Datu’ Ribandang dan Datu’ Ditiro, serta Datu’ Fatimang.

Pesan yang kedua adalah, agar dalam pembangunan gedung, seyogiyanya tidak menebang pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya. Tentu apabila jika pohon tersebut tidak masuk dalam skema pembangunan.

Untuk pesan yang pertama, sudah dilaksanakan. Sebagaimana dalam gambar, tampak dengan jelas model rumah adat Minang. Meski pembangunannya cukup lama, sudah lebih dari dua puluh lima tahun. Pembangunan masih tetap berjalan. Mengapa lama? Ini harus dimaklumi, karena dananya bukanlah gelondongan. Dananya berasal dari sumbangan warga Muhammadiyah, sedikit demi sedikit. Dari yang recehan sampai kepada yang jutaan.

Demikian pula pesan yang kedua. Jangan menebang pohon. Saya ingat beberapa pohon yang berada persis di lokasi pembangunan gedung dan masjid, sudah ditebang. Ada pula yang hanya dipangkas saja. Sisanya dibiarkan tumbuh dan berkembang. Seperti beberapa pohon mangga dan kayu jati, di samping dan belakang gedung, masih tumbuh subur.

Sebenarnya ada dua pohon mangga besar yang menjulang tinggi berada di bagian depan. Satu diluar pagar dan satu dalam pagar. Jika sedang musim, berbuah sangat lebat dan manis. Beberapa tahun lalu, dilakukan penyesuaian agar gedung lebih mudah dilihat dari jalanan.

Di lapangan ini, hampir 13 tahun saya ikut menjadi panitia tetap. Mulai mengatur shaf, membersihan lapangan, membabat rumput, mengatur sound sistem, memasang spanduk, mencari khatib, menghubungi imam, dan memberikan lapangan dari sisa koran bekas yang dijadikan sajadah.

Tidak hanya itu, urusan memandu parkir dan mengatur lalu kendaraan di jalan poros nasional juga menjadi tugas kami. Terutama sebelum pihak kepolisian ikut bergabung mengatur lalu lintas. Demikian pula penyediaan kotak amal.

Setelah selesai salat Id, seorang tokoh masyarakat Tamalanrea, mengajak kami makan pagi di rumahnya. Beliau adalah Bapak H. Saleh Bangka, tokoh masyarakat Selayar di Makassar, yang telah berpulang ke rahmatullah beberapa tahun lalu.

Untuk mengenang jasa pencetus dilaksanakannya salat di lapangan ini sejak tahun 1997, jangan lupa peran dua orang kader tulen Muhammadiyah. Yakni Saudaraku Mursadi Marwas, asal Parepare dan Saudaraku Abdul Azis Ilyas, keturunan Tionghoa yang sangat loyal dan penuh dedikasi. Sekarang beliau sedang merampungkan program doktornya dalam bidang hukum Islam pada UIN Alauddin Makassar. Keduanya adalah pemimpin yang memengang parang, cangkul dan sekopang, membabat semak belukar yang tumbuh.

Selain keduanya, saya ingin menyebut tiga nama lain yang ikut berperan dalam pelaksanaan salat di lapangan ini. Ketiganya adalah Saudaraku Simin Palangi dan Darwin Botutihe. Yang pertama adalah mahasiswa STIMIK Dipanegara dan kedua adalah mahasiswa Fakultas Hukum Unhas. Keduanya merupakan lelaki tangguh dari Gorontalo dan sekarang sudah kembali ke kampung halamannya. Sedangkan yang ketiga adalah Adik Yudiman, asal Baba Enrekang. Sekarang sudah menetap di Parepare. Tentu bersama teman-teman lainnya yang tidak bisa disebut namanya satu per satu.

Awalnya adalah pengurus IRM Sulsel ingin membuka usaha di lapangan tersebut. Karena sudah mau dekat Idul Fitri, kami sepakati untuk terlebih dahulu mengadakan salat di lapangan tersebut. Tentu dengan seiizin Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan kala itu, KH. Djamaluddin Amien, allahuyarham.

Sebagai lokasi salat Id yang baru pertama kali diadakan, jumlah jamaah masih terbatas. Bahkan beberapa jamaah yang datang lebih lebih awal, sempat ragu, apakah jadi salat Id atau tidak. Nanti menjelang tabir barulah, jamaah cepat-cepat datang bergabung.

Dari tahun ke tahun jumlah jamaah yang salat di sini semakin banyak. Baik jamaah yang warga sekitar maupun yang datang dari berbagai tempat. Bahkan sebagian besar bukanlah warga Muhammadiyah. Jumlah jamaah semakin membludak jika salat Id terdiri dari dua kali.

Pernah tahun 2000an, salat Idul Fitri terjadi dua kali. Jamaah membludak sampai ke jalan raya. Jalan poros nasional, trans Sulawesi, macet total, karena jamaah menggelar sajadah di jalanan. Bahkan kantor Muhammadiyah, sampai penuh ke lantai tiga. Termasuk ruang kerja saya, di lantai dua penuh dengan jamaah.

Seiring jumlah jamaah yang semakin bertambah banyak, maka bertambah pula jumlah izi kotak amal. Dulunya isi kotak amal tidak cukup untuk biaya operasional. Sekarang sudah melimpah. Isi kotak amal diserahkan ke PWM Sulsel untuk pembangunan gedung atau masjid yang ada di sampingnya. Sebagian kotak amal dipakai untuk biaya operasional.

Atas segala kegiatan ibadah pun kegiatan organisasi yang dilaksanakan di tanah wakaf ini, tentu memberikan hikmah yang besar kepada kemaslatan umat. Satu lagi, setiap saat mengalirkan pahala yang berlipat ganda kepada yang mewakafkan tanah dan yang memberikan sumbangan dana untuk pembangunannya.
Insya Allah.

Bagikan yuk

Haidir Fitra Siagian

Kepala Kantor/Sekretaris Eksekutif PWM Sulsel 2005-2010

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.