Dakwah Dan Budaya Sensasi

 Dakwah Dan Budaya Sensasi

Sumber: x.com

Oleh: Faturrahman Kamal, Tokoh Muhammadiyah


Dakwah sejatinya seruan utama bil qalbi (dengan hikmah, mahabbah war rahmah) melebihi porsi lisan, bahkan akal sekalipun. Seruan qalbu terwujud nyata dalam “lisanul hal” sebab ia merupakan fakta nyata yang bertutur, bukan uraian naratif yang tak bebas dari kepura-puraan, ambiguitas, bahkan dusta. Sebabnya, seni berkata-kata dalam Al-Qur’an berdimensi sakral dengan ragam sifat dan diksi bermakna: “qawlan layyinan” (perkataan yang lemah lembut); “balīghan” (efektif, tepat, dan berjejak dalam jiwa); “ ‘adhīman” (berimplikasi dosa besar); “tsaqīlan” (sakral dan penuh makna); “sadīdan” (tegas, jujur, berintegritas); “ma’rūfan” (baik); “maysūran” (mudah dicerna, empatik); “karīman” (mulia).

Dengan demikian, bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi; termasuk pilihan diksi dan kata yang mengandung makna, paradigma berpikir, dan konsep yang berhubungan erat dengan sikap, tindakan, dan prilaku dalam kehidupan. Wajarlah bila Islam memberi batasan yang sangat tegas dalam akifitas komunikasi, bahkan menjadikannya sebagai indikator keimanan paripurna kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir yaitu “berkata baik”, atau “diam saja!” (HR. Bukhari & Muslim). Dalam bercanda dengan kata-kata sekalipun, termasuk melawak, Islam memberi rambu-rambu yang sangat jelas. Misalnya, menjaga kebenaran substantif serta menjauhi dusta; tidak dijadikan kebiasaan, dan semata untuk menyegarkan suasana; dalam koridor yang dibolehkan dalam agama; tidak membangkitkan emosi protektif berlebihan karena menebar ancaman; tidak mengandung celaan dan merendahkan martabat orang lain; empati dan peduli dengan posisi, atau status sosial orang lain; tidak mengandung ghibah; memperhatikan waktu, situasi, dan kondisi.

Problemnya ialah kita semua, termasuk para dai dan muballigh, sedang berada di tengah arus deras disrupsi atau perubahan sosial kemasyarakatan yang sangat radikal; tak terkecuali dalam persoalan-persoalan keagamaan. Satu di antara sekian problem serius yang kita hadapi saat ini ialah hegemoni budaya sensasi (sensing culture) yang tak lagi terkontrol, baik dalam skala individu dan sosial.

Kita terjebak dalam budaya baru yang serba visual dan artifisial. Dalam narasi Al-Qur’an disebut, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat samasekali lalai.” (QS. Al-Rum:7). Larut dalam budaya serba-artifisial dan sensasional merupakan manifestasi dari rapuhnya spiritualitas (lost of soul), dan makin menguatnya paradoks kemanusiaan kita.

Dalam konteks sensing culture masyarakat terjebak pada kecenderungan sensasional tanpa alasan dan hampa tujuan. Jebakan dunia materi, fasilitas, keindahan visual menumpulkan kemampuan berpikir secara jernih dan mendalam (reasoning). Ia tak lagi dapat membedakan mana yang bermanfaat, mana yang mudarat; mana yang baik, mana yang buruk. Meredup dan hilangnya daya nalar dalam merespon suatu peristiwa atau persoalan berakibat hilangnya empati dan perasaan iba pada penderitaan dan runtuhnya martabat orang lain. Intinya, ia kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang autentuk. Bagi penyintas sensing culture, yang terpenting adalah kenyamanan dan sensasi pada diri sendiri, tanpa mau tau perasaan dan peneritaan orang lain.

Bila tak mawas diri, selangkah berikutnya penyintas ini akan mengalami kerusakan inti spiritual sebagai energi quantum kemanusiaan yang hakiki. Sebabnya, penyintas ini akan berlaku tak lagi manusiawi (dehumanisasi).

Dalam konteks ini, penting bagi para dai/muballigh, termasuk para pembicara publik untuk selalu mawas diri, menjaga lisan, dan merawat lapisan-lapisan jiwanya (sensing, reasoning, empathy, dan spiritual) agar tetap bertutur kata, bersikap, dan memperlakukan setiap mitra dakwanya manusiawi. Merasakan bahwa orang yang didakwahinya adalah bagian dari darah dagingnya sendiri, bukan entitas lain dan asing. Inilah makna dari karakteristik dan kepribadian kenabian yang penting diteladani di era disrupsi saat ini : “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)

Penting bagi para dai dan muballigh untuk merawat stamina ruhiyah dengan tazkyatun nafsi (muhasabah dan mensucikan jiwa). Menghadirkan spiritualitas bukan semata-mata berorientasi pada “spiritual happiness” yang artifisial, tetapi sebuah alam dan bangunan “ruhaniyah” yang holistik; mencerdaskan akal, mendamaikan batin, serta membugarkan raga. Intinya, mari kita arus-utamakan pendekatan dakwah yang berbasis pada “hikmah” dalam makna kongkret “bil mahabbah war rahmah”. Mulailah dengan menjaga lisan, dan bertutur yang positif. Wallahu A’lam bish-Shawab.

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *