Catatan dari Kelas Esai bersama AS Rosyid di Yogyakarta, 26 Oktober 2026

 Catatan dari Kelas Esai bersama AS Rosyid di Yogyakarta, 26 Oktober 2026

Kelas Esai AS Rosyid

Senin sore di Yogyakarta selalu punya cara sendiri untuk berjalan lambat. Matahari pukul dua siang condong ke barat dengan malas, dan lalu lintas menuju Gedung PP Muhammadiyah seperti kalimat panjang yang belum menemukan titiknya. Di ruang LHKP, yang sehari hari lebih akrab dengan rapat persoalan-persoalan kritis kebangsaan, sore itu dibuka untuk sesuatu yang lebih sunyi tetapi tak kalah serius, yaitu belajar menulis esai. Kelas yang diselenggarakan GUMI Akademi dan Serikat Taman Pustaka ini berlangsung tiga jam, mulai pukul 14.00 sampai 17.00 WIB. Kedengarannya singkat, tetapi siapa pun yang pernah menulis tahu bahwa waktu dalam menulis tidak diukur dengan jarum jam. Ia diukur dengan berapa kali kita berani menghapus kalimat yang sudah terlanjur kita cintai.

Kaus Hitam dan Sebuah Pengakuan

Ada satu detail kecil yang menempel di ingatan saya. AS Rosyid tampil dengan kaus hitam bertuliskan Ancora imparo, yang berarti aku masih belajar. Frasa yang kerap dikaitkan dengan Michelangelo di usia senjanya itu terasa seperti kunci untuk membaca seluruh sore itu. Seorang pengajar yang mengenakan pengakuan bahwa ia masih belajar sedang mengajarkan sesuatu bahkan sebelum membuka mulut, yakni bahwa menulis bukan perkara sampai, melainkan perkara terus berjalan.

Di situlah esai menemukan rumahnya. Kata esai berasal dari bahasa Prancis essai yang berarti percobaan, upaya, atau ikhtiar. Esai bukan vonis. Ia adalah langkah kaki yang gamang tetapi jujur, menapak di atas pikiran yang belum sepenuhnya selesai. Karena itu kelas ini memadukan teori dan praktik. Menulis tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca tentang menulis, sama seperti orang tidak bisa belajar berenang dari buku tentang air. Teori memberi peta, sedangkan praktik memberi tubuh. Pada akhirnya yang menulis bukan kepala, melainkan tangan yang rela kotor oleh banyak kalimat buruk sebelum menemukan satu kalimat yang hidup.

Tiga Guru yang Memenuhi Ruangan

Sore itu ruang LHKP terasa lebih ramai dari jumlah kursinya. AS Rosyid mengundang tiga tamu yang tak terlihat, yaitu Michel de Montaigne, Cak Nun, dan Gus Dur. Mereka tidak duduk di antara peserta, tetapi pikiran mereka mengalir di sela penjelasan, seperti angin yang masuk lewat jendela yang lupa ditutup.

Para peserta larut dalam hening yang khidmat, menyimak AS Rosyid merawat ingatan tentang Montaigne, Cak Nun, dan Gus Dur, seolah setiap kalimat yang ia ucapkan adalah benih esai yang menunggu tumbuh di halaman mereka sendiri.

Montaigne adalah akar dari semuanya. Bangsawan Prancis abad keenam belas ini mengurung diri di menara perpustakaannya dan menulis Essais, buku yang hingga kini menjadi rujukan siapa pun yang ingin memahami esai. Dialah yang pertama kali memakai kata essai sebagai nama bagi tulisan semacam ini. Montaigne menulis tentang persahabatan, kematian, kebiasaan, bahkan tentang dirinya sendiri dengan kejujuran yang nyaris telanjang. Semboyannya berbentuk pertanyaan sederhana yang berarti apa yang sebenarnya aku ketahui. Dari Montaigne kita belajar bahwa esai lahir dari keraguan yang jujur, bukan dari kepastian yang angkuh. Anehnya, keraguan berusia empat abad itu terasa bersaudara dengan tulisan di kaus hitam yang dikenakan AS Rosyid sore itu.

Berabad kemudian, di tanah yang jauh, Emha Ainun Nadjib membuktikan bahwa esai bisa menjadi cara hidup. Karya esainya konon telah mencapai puluhan ribu, angka yang sulit dibayangkan, tetapi justru di situ pelajarannya. Bagi Cak Nun, menulis bukan peristiwa luar biasa yang menunggu ilham turun dari langit. Menulis adalah napas. Ia menulis tentang presiden dan tukang becak dengan kesungguhan yang sama, tentang Tuhan dan tentang slilit yang terselip di gigi seorang kiai. Dari Cak Nun kita belajar bahwa hal remeh bukan musuh pemikiran besar, sebab yang remeh justru pintu masuknya.

Jika Cak Nun adalah napas, Gus Dur adalah tawa yang diam diam membedah. Kumpulan esainya, termasuk Tuhan Tidak Perlu Dibela, menunjukkan bahwa kritik paling tajam kadang datang dengan tawa ceria. Ia menulis tentang agama, negara, dan kemanusiaan dengan ringan, sampai pembaca sadar bahwa yang sedang ia goyang adalah fondasi cara berpikir kita sendiri. Esai tidak harus marah untuk bersikap. Satu kalimat jenaka yang ditempatkan dengan tepat bisa lebih mengguncang daripada seribu slogan.

Tiga tokoh dengan tiga cara, tetapi diikat oleh satu benang yang sama, yaitu kejujuran dalam melihat, keberanian untuk tidak seragam, dan kesetiaan pada manusia biasa sebagai pusat tulisan. Barangkali itulah yang hendak diwariskan AS Rosyid. Bukan rumus, melainkan teladan. Bukan petunjuk tentang bagaimana esai harus ditulis, melainkan kisah tentang bagaimana para penulis yang bersungguh sungguh pernah hidup.

Seminggu untuk Satu Percobaan

Kelas tidak benar benar selesai pukul lima sore. Peserta memang pulang dengan tangan kosong, tetapi kepala mereka penuh, dan di pundak mereka tersampir sebuah tugas yang justru paling berat, yakni menyusun satu esai dalam waktu seminggu lalu mempresentasikannya lewat Zoom.

Seminggu adalah waktu yang licik. Cukup panjang untuk menunda, tetapi cukup pendek untuk panik. Di dalamnya setiap peserta akan bertemu musuh lama para penulis, yaitu halaman kosong yang menatap balik tanpa belas kasihan. Di situlah ajaran sore itu diuji. Sanggupkah kita jujur pada keraguan seperti Montaigne? Mampukah kita menjadikan menulis sebagai napas harian seperti Cak Nun, bukan beban yang ditunda sampai malam terakhir? Beranikah kita bersikap seperti Gus Dur tanpa harus berteriak?

Zoom nanti juga bukan sekadar forum presentasi. Ia adalah ruang tempat tulisan yang sunyi akhirnya harus berani bersuara, dibaca, ditanggapi, dan mungkin dikritik. Setiap esai yang dibawa ke sana adalah percobaan, persis seperti makna kata yang diwariskan Montaigne empat abad silam. Langit Yogyakarta mulai menguning seperti halaman buku tua ketika saya melangkah keluar. Ada perasaan yang sulit dirumuskan, perasaan yang mungkin hanya bisa ditulis. Barangkali begitulah cara kerja kelas menulis yang baik. Ia tidak menyelesaikan sesuatu, melainkan memulai sesuatu. Ancora imparo. Kita masih belajar, dan seminggu ke depan adalah tempat belajar itu dibuktikan.

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *