Tak ada keraguan ataupun ketakutan sedikit pun, saat teman-teman Rumah Baca Komunitas (RBK) mengajak saya camping di Waduk Sermo, salah satu destinasi wisata di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bukan karena tempatnya yang jauh dari kota, tapi selama pandemi Covid-19, banyak orang yang masih enggan beraktivitas dalam kerumunan, termasuk saya. Di Waduk Sermo,tentu akan menjumpai banyak orang. Karena destinasi itu, memang tempat khusus untuk camping. Terutama di hari libur, banyak muda-mudi yang memudarkan penat di sana.

Mungkin karena saya termasuk orang yang jenuh selama masa pandemi ini, sehingga berniat ke sana menghilangkan rasa penat selama berdiam diri di rumah. Waduk Sermo, saya tahu, tempat asri yang tepat menghilangkan rasa jenuh. Di penghujung tahun 2019 lalu, saya dan beberapa teman RBK sudah pernah camping di situ.

Barangkali itu pula, saya semacam ingin menghibur diri, mengulangi masa indah tempat itu. Sabtu, 5 September kemarin, saya memenuhi janji ketemu teman-teman di RBK pada pukul 15.00 untuk sama-sama ke Waduk Sermo.

Memang, perjanjian tak selalu tepat waktu. Saya sempat membayangkan akan terlambat, karena dari indekos, saya tiba di RBK pada pukul 15.15. Ternyata, masih juga sekitar empat atau lima yang belum datang. Bahkan, teman-teman komunitas yang konsentrasi eko literasi itu, belum juga siap-siap. Ada  pula yang belum mandi. Lima menit setelah saya tiba, baru disusul kedatangan beberapa teman, Sani dan Niken, menyusul yang lain. Kedatangan beberapa teman itu, baru membuat segala persiapan makin cepat, peralatan masak dan perlengkapan pribadi mulai disiapkan sambil menunggu yang lain.

Kami duduk di beranda RBK, sambil menunggu sesekali bergurau. Tiba-tiba Niken dan Ji muncul membawa Bakpao. Mereka mengajak semua teman-teman untuk makan, setidaknya sarapan sebelum berangkat. Saya turut ambil satu dan mencicipinya. Sambil makan, tiba-tiba muncul dua sejoli, Yuda dan Mia,yang juga turut makan, karena Bakpao masih tersisa.Dan, kami sambari briefing persiapan berangkat; pastikan peralatan yang dibawa, tenda, makanan, hingga alat masak.

Peralatan tersebut, kami bagi tugas masing-masing untuk menyiapkan. Karena tenda belum juga diambil, sebelum ke Waduk Sermo, Dafrin dan Herdin masih harus mampir ke tempat sewa tenda untuk mengambilnya. Mereka memang akan menyusul, karena masih menyelesaikan beberapa tugas laporan hasil riset. Saya dan beberapa teman yang harus duluan, mulai bersiap-siap. Karena menggunakan sepeda motor, kami saling membonceng, terutama perempuan harus dibonceng lelaki. Sepeda motor saya yang tak memungkinkan di medan wisata itu, juga harus numpang diboncengi Roni, seniman cukil itu, menggunakan sepeda motor pustaka RBK.

Sekira pukul 16.00, kami keluar dari RBK, Kanoman, Sleman. Saya dan Roni masih mampir ke Pom Bensin, menambah bensin. Sementara Sani, Ji, dan Sahrul mampir ke pasar membeli jagung dan beberapa bumbu. Setelah itu, kami ketemu di depan Pom Bensin jalan Wates, lalu melaju ke arah Selatan Yogyakarta.

Nyaris satu jam melintasi jalan macet itu, kami tiba di area wisata Waduk Sermo. Memasuki gerbang utama area wisata tersebut, kami harus bayar Rp 6.000 per orang. Tiba di tepi waduk sermo, masih butuh waktu 15-20 menit mengelilingi waduk yang luas genangan air 157 Ha itu, menyusur jalan di kaki pegunungan, melintasi sebagian jalan yang mulai bolong-bolong.Hingga tiba tepat di tempat camping pada pukul 17.15.

Namun, untuk bisa masuk ke tempat camping, masih perlu melewati beberapa proses. Kami harus perlu mengisi formulir. Karena datang belakangan, kami hanya dapat satu formulir nomor 30 yang sudah diserahkan ke kelompok lain. Beruntung, kelompok itu hanya empat orang. Dan, karena formulir memungkinkan diisi 20 orang, kelompok kami yang terdiri 13 orang itu, turut numpang agar dapat masuk.

Setelah mengisi formulir, kami masih diminta bukti identitas. Tapi, tak cukup dengan KTP, harus ada pula bukti lain yang menerangkan sudah lama tinggal di Yogyakarta. Bukan baru tiba dari daerah lain. Bukti itu, seperti kartu mahasiswa. Beberapa teman tak bawa kartu mahasiswa, harus menunjukkan KRS online. Pendataan yang ketat itu, untuk memastikan anggota camping terhindar dari penularan Covid-19. Termasuk jika satu orang tertular, mempermudah mengidentifikasi anggota kelompok yang dekat dengannya.

Prosedur tersebut tentu baru saja diterapkan di masa pandemi. Karena sebelum pandemi, orang-orang yang datang camping tak perlu mendata nama, hanya cukup bayar retribusi langsung masuk.

Camping di masa pandemi ini, memang cukup merepotkan,” gumam saya dalam hati. Karena usai mengisi formulir dan menyerahkan kartu identitas, kami harus antri di area parkir, menunggu dipanggil per kelompok. Berada diurutan 30, yang menurut keterangan mereka, kami mendapat formulir terakhir. Ya, nasib itu, mau tak mau harus ditanggung. Kami menunggu hingga pukul 19.30 baru dipanggil masuk.

Masuk ke area camping, kami masih diminta cuci tangan dan menghadap ke pos utama. Di situ, kami harus membayar Rp 15.000 per orang. Dan, tentu saja wajib menggunakan masker, tes suhu tubuh, juga mendengar arahan dari koordinator pos ihwal pelbagai macam protokol Covid-19 yang harus dipatuhi.

“Bila ada yang merasa badannya kurang sehat, segera beri tahu dan boleh langsung pulang. Karena jika terjadi apa-apa, apalagi sampai pingsan di dalam area camping, akan ditangani menggunakan protokol Covid-19. Dijemput petugas Covid-19 dengan ambulans kemudian dibawa ke rumah sakit. Dan yang satu kelompok dengannya, akan dikarantina di sini,” jelas koordinator itu dengan santun.

Mendengar arahan tersebut, saya sempat takut, khawatir dengan kondisi saya, juga teman-teman sekelompok. Tapi dalam hati, saya kembali yakinkan diri bahwa tak apa-apa, karena semua datang dalam keadaan sehat. Setelah diberi arahan sekitar sepuluh menit, kami langsung diberi satu kunci kamar mandi dan dipersilahkan masuk. Saya dan teman-teman juga menyewa satu potongan lembar seng dan kayu bakar untuk bikin api unggun.

Sekira seratus meter dari pos, kami berjalan menuju lokasi camping itu.Tepat di tepi waduk, tenda-tenda mulai tertancap berjejer sepanjang tepi waduk. Saat tiba, mata kami menyapu, mencari tempat kosong untuk mendirikan tenda. Tapi, karena sudah dipadati banyak orang, tak semudah itu mencari tempat kosong. Kami memutuskan untuk meletakkan sementara barang bawaan kami di atas bukit kecil, dan mengutus dua teman, El dan Dani untuk mencari tampat kosong yang memungkinkan berdiri empat tenda.

Dua menit, berkeliling di lokasi tersebut, akhirnya mereka menemu lokasi, dan meminta teman-teman ke sana. Tapi ternyata, tempat yang dipilih Dani, tak nyaman bila membangun tenda. Kami memutuskan untuk pindah, kata salah satu teman, ada tempat yang lebih layak di ujung dekat gerbang masuk lokasi camping itu.

Kami kembali dan memilih mendirikan tenda di situ. Namun, karena dua teman yang ditugaskan mengambil tenda belum juga tiba, kami lebih dulu membantu mendiri tenda milik empat mahasiswi sekelompok formulir itu. Setelah tenda mereka dirikan, barulah tenda kami tiba.

Tak lagi banyak merancang, setiba dua magister muda itu, kami langsung mendirikan tenda, karena waktu sudah memungkinkan bersantai-santai menikmati keindahalam malam di tempat camping. Tak sampai 30 menit, tiga tenda berhasil kami dirikan.

Usai mendirikan tenda, sembari menyusun kayu bakar untuk bikin api unggun dan bakar jagung, sebagian teman mengambil wudhu untuk shalat isya. Api mulai menyala, jagung satu persatu mulai disusun berjejer di atas tungku. Lantunan lagu mulai meruak diiringi musik gitar dari Roni. Sesekali suara-suara pecah mengundang perhatian teman-teman camping yang tendanya berdekatan dengan kami. Sahrul, lelaki yang dikenal dengan suara nyaring itu, suaranya menggema. Ia  bernyanyi sambil berjoget, sesekali tertawa lepas.

Lagu-lagu lawas Pance Pondaag, Nike Ardilla, Rhoma Irama, Ebiet G. Ade, dan Iwan Fals, meramaikan malam itu. Jagung yang dibakar telah matang dan mulai disantap, tapi nyanyian tak henti menggema. Sahrul dan Dani sesekali menyapa gombal cewek-cewek yang lewat di depan kami. Kebetulan tenda kami berhadapan dengan jalan utama keluar dari area camping untuk ke toilet, mushola ataupun warung.

Ketika makin larut, jelang orang-orang mulai tidur, kami sesekali membaca puisi. Roni  mengiringi dengan petikan gitar. Seperti menghadapi papan MDF, seniman cukil itu laksana mencukil senar dengan lincah nan indah. Saya, karena tak punya puisi yang tersimpan di handphone, memilih membaca beberapa puisi Sapardi Djoko Damono, juga puisi-puisi Dino Umahuk, yang bertema cinta dan laut Maluku. Mbak Niken, begitu teman-teman menyapanya, membacakan beberapa puisinya bertema cinta, bercerita kenangan. Mungkin malam itu baginya, adalah gelanggang merayakan kenangan.

Saat malam makin larut, sekira pukul 3.00 dini hari, saya memilih berhenti nimbrung bernyanyi. Sebagian teman yang lain pindah bermain Uno. Permainan berhukuman, bagi yang kalah, siap dihajar dengan pertanyaan tentang masalah pribadi sampai ke yang umum. Kebetulan, ada buku PDF yang tersimpan di handphone, saya membaca, sesekali menguping taman-teman yang makin riak bermain Uno. Tak sempat habiskan satu sub babbuku, saya sudah tertidur.

Pagi pukul 6.00, kami memang sudah harus membongkar tenda, karena pukul 7.00 harus meninggalkan lokasi camping. Memang, itu peraturan baru di masa pandemi Covid-19. Sebelumnya, peserta camaphing bisa bertahan di situ sampai sore. Cara ini dilakukan agar wisatawan yang di siang hari, tak lagi bertemu dengan wisatawan yang camping.

Saat teman-teman sementara bongkar tenda, saya memotret beberapa momen penting jelang sunrise. Tigateman perempuan mulai juga ikut berfoto. Setelah memotret beberapa kali, saya kembali bereskan tenda. Kemudian, kembali lagi mengabadikan waduk yang asri itu.

Pukul 7.00, kami meninggalkan area wisata tersebut, lanjut ke Sungai Mudal di Kecamatan Hargowilis, Kulon Progo, sebelah barat arah balik ke Sleman, Yogyakarta. Masuk di area itu, kami harus bayar Rp 5000 per orang. Juga tentu saja mengikuti protokol kesehatan: wajib pakai masker, cuci tangan dan cek suhu tubuh. Salah satu di antara kami, diminta memberikan keterangan identitas rombongan dan menyerahkan kartu identitasnya.

Kami menjadi rombongan pertama yang masuk ke area wisata tersebut. Karena berada di pegunungan, untuk menjangkau lima pusat air terjun dan kolam, kami harus naik tangga hingga sampai ke puncak terakhir, sekira 500 meter. Kalau sudah begini, kalian tentu tahu, resiko bagi yang gemuk, naik tangga dengan napas tersengal-sengal.

Setiba di puncak, beberapa teman mandi di kolam, tapi saya, juga tiga teman perempuan, hanya menikmati destinasi wisata itu, sesekali melihat orang yang hilir-mudik di depan pandang. Dan, hingga pukul 11.00, kami meninggalkan destinasi wisata itu. []

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link