Satu hal yang tidak menganggu dan juga tak penting banget, hanya terlanjur saya persoalkan, yakni thesis dikotomis antara orang awam versus orang alim. Pembagian kategoris ini muncul dari cara memperlakukan sebab musabab perbedaan pengetahuan dan pengaruhnya terhadap kualitas posisi seseorang. Jadi kita melihat perdebatan sebagai pertukaran argumen dan kualitas referensial. Nah, dalam model begini, kemunculan kaum awam versus kaum alim menjadi niscaya.

Dalam lintasan zaman, model oposisi biner awam versus alim ini adalah bagian rantai baru dalam ragam tafsir intelektual. Ini cuma kelanjutan dengan dosis lebih rendah tapi lebih intensif dari debat ideologis antara kaum tua versus kaum muda, atau kaum tradisionalis versus kaum reformis, atau kaum nasionalis versus internasionale, kaum marxis versus anakis, atau kaum muktazilah versus kaum asyariyah.

Siapa orang awam itu gampang diterka kondisinya, yakni saat seseorang gagal memperlihatkan basis argumen dari opini, keluhan atau ekspresi keagamaannya (yang terakhir ini adalah biang utama mengapa dia menjadi awam dalam situasi terkini). Sebaliknya jika dia ngomong penuh kutipan, memuaskan publik, cemerlang kata-kata dan bersanad, maka ia pastilah alim. Kadang cara itu berlaku dalam debat sehari-hari, sambil nonton bola, minum kopi, ngisi ceramah di youtube atau pas ketemu konco di lapak buku. Tak ada problem.

Cara kita mendefinisikan siapa yang awam atau siapa yang alim, sangat tidak konsisten dan baunya justru kadang tak ada aroma penghargaan objektif dan valid. Kebanyakan cuma untuk memperjelas posisi kuasa atau batas-batas yang bersifat politik dan ekonomi antara “kami” dan “kalian”. Mari kita simak contoh-contoh berikut.

Protes seorang abang-abang cilok keliling soal mahalnya harga bbm, listrik dan gas akan dianggap cuma pernyataan pinggiran, keluh kesah dari orang yang tak paham kondisi komprehensif, rumit nan njlimet alur niaga minerba global dan domestik. Si abang-abang itu sama dengan si Susi, Ibu rumah tangga di pemukiman tanah seorang raja Jawa yang bertanya ke petugas PLN kenapa sejak ganti token biaya listrik pasca-bayar (implementasi vulgar filsafat pasca-modern?) justru berkali lipat edan harganya ketimbang pake meteran lama.

“Pak, biasanya saya cuma keluar uang 60 ribu buat listrik sebulan. Sekarang, pulsa listrik 50 ribu aja cuma cukup buat 8-10 hari” protes si Ibu ke tukang PLN.

“Soalnya ada kenaikan tarif juga dan subsidi listrik sudah dicabut perlahan. Demi menghapus subsidi salah sasaran. Bukan saya yang ngomong, tapi pemerintah” balas petugas. “Pemerintah” itu dalam konsep si petugas adalah sekelompok orang yang lebih paham urusan dan memang digaji dari pajak masyarakat untuk menghindarkan masyarakat dari beban hidup. Si petugas cuma menjalankan job, sedangkan si ibu harus lebih giat lagi memotivasi suami bekerja 14 jam sehari. Si petugas PLN adalah orang awam, meski sama-sama menyanding label “petugas” ia tetap pekerja honorer ala omnimbus law ketimbang petugas partai manapun. Si Susi juga begitu, ia cuma statistik kecil keluhan penerapan kebijakan dari ruangan paling boros energi fosil.

Contoh berikutnya..

Semua pasti ingat apa komentar Chatib Basri untuk membela citra Prof Boediono ketika ditantang debat tentang neoliberalisme oleh Prof Kwik Kian Gie. “Sepertinya Pak Kwik kemarin hanya pusing. Makanya dia tidak bisa bedakan antara Neozep dan neoliberalisme. Ia juga bilang mau berdebat berhari-hari dengan Boediono tentang neoliberalisme, itu karena dia nggak ngerti saja. Kalau saya berdebat tentang neoliberalisme bisa cuma 5 menit saja” kata si ekonom muda UI dan menteri Menkeu zaman PakSBY, tahun 2009.

Nahhh. Anda mungkin tak bingung kalau si orang awam itu muncul dalam bentuk si pemuda bercelana cingkrang yang teriak takbir waktu menyita buku-buku Pramoedya Ananta Toer atau si anu yang suka teriak “Islam-islam yes, kafir-kafir no”. Tapi kalau beda antara si orang alim dan orang awam itu harus dipahami melalui posisi Profesor Boediono atau Profesor Kwik Kian Gie bagaimana? Mungkin Chatib yang menyebut Prof Kwik “ngak ngerti neolib” alias awam masalah neoliberalisme bisa berbagi trik sederhana mendeteksi keawaman seseorang.

Jadi, siapa yang awam atau alim itu tidak bisa diukur melalui gelar akademik. Karena preferensi politik lebih menentukan bagaimana preferensi akademik bekerja atau tidak bekerja. Kalau anda kebetulan seseorang dengan gelar guru besar dan menjabat sebagai menteri ekonomi, menteri keuangan, menteri hukum dan HAM, sikap intelektual anda didefinisikan melalui tabiat dasar anda dengan kekuasaan. Sehingga latar belakang akademik tak menjamin posisi absolut dan mutlak.

Maka posisi awam dan alim itu cuma basa basi kultural. Tidak absolut dan tidak bisa dipakai permanen. Sebab, si orang alim itu bisa jadi adalah wujud sementara si orang awam. Dan, si orang awam adalah wujud sementara si orang alim.

Contoh..

Ibu-ibu petani Kendeng yang bahkan tidak pernah sekolah geologi tetap ngotot menghalangi pembangunan pabrik semen atas dasar menjaga kelestarian lingkungan. Para peneliti, rata-rata orang kampus yang disewa PT Semen Indonesia menilai sebaliknya. Area tujuan eksplorasi perusahaan di Jawa Tengah statusnya “aman” dan “boleh” serta “tidak menganggu sumber mata air manapun”. Perdebatan itu tidak kelar hingga akhirnya dibawa ke Mahkamah Agung. Hasilnya mengagetkan. Ibu-ibu petani itu bisa menang menggugat PT Semen Indonesia dengan tim konsultan hukum dan ahli yang diisi para ahli. Ibu-ibu petani Kendeng itu tak punya sanad pengetahuan dari siapapun untuk menolak pembangunan pabrik semen. Jangankan bikin argumen, ketika mereka menolak pembangunan pabrik, mereka bahkan dianggap ditunggangi. Nasib orang awam itu sudah dituduh berilmu cetek, juga gampang ditunggangi.

Pembedaan kategoris antara si awam dan si alim itu tidak pernah bekerja memuaskan sebagaimana kategori si ahli dan si orang awam. Siapa yang alim dan ahli itu tidak pernah disepakati. Ini ketidakjelasan yang sudah sangat tua dalam sejarah manusia. Mengarahkan pangkal perdebatan ke arah siapa yang alim dan siapa yang awam hanya akan berujung makin abu-abu. Bahkan sejak kita tahu bahwa si Sokrates, guru para filsuf Yunani, gemar berkata “saya tidak tahu apa-apa”.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link