Ide Budaya yang Praktis

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah)*

Adat dan pranata budaya peradaban manusia membingungkan. Kenapa orang Hindu tidak makan sapi? Kenapa orang Islam dan Yahudi tidak makan babi? Kenapa orang Maring doyan perang? Kenapa kepala suku Indian membakar rumahnya sendiri untuk pamer kekayaan?

Banyak pertanyaan, mungkin sedikit yang bisa dijawab. Motivasi menyingkap misteri punya faedah bagi perbaikan situasi buruk yang terus mengancam masa depan peradaban manusia. Kita punya peluang mencegah perang skala besar, pembunuhan, dan diskriminasi rasial. Kalau kita paham obsesi pada perang dan chauvinisme, kita akan paham alasan kenapa hingga hari ini Amerika, Rusia, dan Korea Utara menahan diri melancarkan serangan bom nuklir. Termasuk apa yang akan mencegah ketiga negara ini menghentikan niat bodoh itu. Buku Marvin Harris, Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (2019) sangat unik. Pembaca diajak menyelidiki suku-suku primitif dan orang-orang di masa lampau, tapi untuk menyimpulkan bahwa peradaban manusia era sains sebetulnya tidak beranjak ke mana-mana. Keduanya sama-sama suka kultus, pamer, perang, dan ramalan.


Pasti ada alasan praktis di balik teka-teki budaya. Tidak jatuh dari langit tanpa alasan membumi. Memang ada alasan spiritualis kenapa sapi suci bagi orang Hindu. Tapi masyarakat yang terindustrialisasi tetap saja heran kenapa pengikut setia Hindu di Delhi, Kalkutta, Madras, dan Bombay tidak makan sapi walau kelaparan. Alasan kenapa orang Hindu tidak makan sapi karena hewan ini penting bagi pertanian skala kecil yang belum terindustrialisasi dan komunitas masyarakat kelas bawah. Sapi adalah topangan bagi efisiensi agrikultur. India punya 60 juta peternakan, tapi hanya punya 80 juta sapi bajak atau lembu. 

Petani miskin India rela lapar selama musim kekeringan. Tapi mereka tidak akan makan sapi hanya karena lapar. Itu akan jadi pilihan konyol dan bunuh diri. Para petani miskin India tahu bahwa begitu musim hujan tiba, mereka sangat butuh lembu untuk membajak ladang. Fatal bagi petani miskin makan sapi. Para petani yang tidak punya lembu, terpaksa pinjam uang ke rentenir untuk menyewa hewan bajak atau merantau ke kota jadi gelandangan. Tapi sapi bajak atau bukan, sama-sama tidak boleh dimakan. Petani di Amerika butuh pabrik modern untuk membuat traktor. Begitupula dengan petani India. Mereka butuh sapi untuk melahirkan sapi. Mereka butuh sapi sebagai penopang urusan kerumahtanggaan yang lain. 


Sapi punya peran mahaluas bagi keluarga petani miskin India. Hewan ini tidak cuma lebih terampil membajak sawah kering ketimbang kerbau, dan serba guna, tapi juga mampu bertahan selama masa kekeringan yang kerap menimpa India. Itu alasan yang rasional bagi petani miskin di India. Kehilangan sapi sama artinya kehilangan ladang dan pangan. Selama membajak, sapi meninggalkan tumpukan kotoran, keberkahan alamiah kesuburan tanah. Petani Amerika mengalami sebaliknya. Traktor yang mereka gunakan mengolah tanah justru meninggalkan bekas polusi dan zat kimia yang merusak kesuburan tanah. Mereka menghabiskan uang membeli pupuk kimia untuk mengatasi masalah itu. Petani India menikmati pupuk gratis yang melimpah. Kotoran sapi berfungsi sempurna menstimulasi tingkat subur tanah. Bukan cuma itu, kotoran sapi adalah sumber energi gas gratis yang menyalakan tungku masak di dapur orang-orang pedesaan India. Perempuan pedesaan India memasak dengan energi gas kotoran sapi yang disebut gobar. Kotoran sapi menghasilkan nyala api yang kecil dan stabil, sehingga perempuan India dapat memasak sambil mengasuh anak dan merawat ternak tanpa khawatir masakan gosong. Sifat serba guna kotoran sapi belum selesai. Petani di pedesaan India menggunakan kotoran sapi untuk kebutuhan infrastruktur rumah. Kotoran sapi dapat diolah menjadi bahan campuran melapisi lantai rumah. Semua keuntungan melimpah semacam ini harus dibayar mahal oleh masyarakat Amerika dengan resiko kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. 


Kita sudah membuktikan bahwa kultus terhadap hewan punya penjelasan praktis. Bagaimana dengan ajaran tidak makan babi bagi orang Islam dan Yahudi? Orang Islam dan Yahudi yakin bahwa babi hewan najis dan sumber penyakit. Makan babi berpeluang makan parasit Trichinosis. Tapi bukan cuma babi yang bawa penyakit. Orang Islam dan Yahudi makan sapi, hewan yang jika dimasak setengah matang menjadi sumber cacing pita yang bisa memanjang enam belas hingga dua puluh centi di usus manusia. Sapi juga penyebab anemia. Dalih kesehatan sangat populer untuk menjawab kenapa orang Islam dan Yahudi tidak makan babi. Tapi itu terlihat tidak konsisten karena mereka tetap makan sapi, kambing, dan domba. Hewan-hewan ternak itu justru sangat rentan kena penyakit. Kambing dan domba adalah vektor Brucellosis, infeksi bakteri yang diketahui menyebabkan demam, batuk, dan sakit kepala. Pasti ada alasan khusus kenapa cuma tabu babi, dan tidak tabu sapi, kambing, dan domba. 


Jawaban atas tabu babi berakar pada masa lampau, terhitung sejak abad 13 SM di Mesir dan Mesopotamia, Timur Tengah. Para pendeta Israel pada masa itu tidak bisa beternak babi di area tandus. Tidak seperti binatang pemamah biak yang telah berhasil diternak sejak tahun 9.000 SM seperti sapi, kambing, atau domba. Babi baru berhasil diternak pada tahun 2.000 SM. Alasannya sangat praktis. Babi butuh makan banyak, setara manusia. 

Memelihara babi sama halnya merawat manusia. Babi sangat tidak efisien diternak di area hutan terbatas, bergurun pasir dan tandus. Jika tidak diberi makan, babi akan melahap habis umbi-umbian, buah-buahan, dan gandum yang ditanam petani. Babi bukan aset pangan yang masuk akal. Babi lebih cocok hidup di area hutan dan teduh. Secara ekonomi dan ekologi, makan daging babi sangat mahal dan mewah. Tetapi kenyataan ini tidak selalu berhasil menghentikan godaan nikmat makan daging babi.

Ide Budaya yang Praktis


Ada persoalan pada manusia. Beberapa di antara mereka suka perang, pembunuhan, dan terobsesi pada harga diri. Tapi Harris tidak menyebut karena manusia pada dasarnya agresif dan diperdaya oleh “sesuatu di dalam dirinya”. Beda dengan argumen kebanyakan ahli psikoanalisis atau antropologi bahwa manusia dikendalikan oleh alam bawah sadar atau berperilaku acak dan memang tak terpahami. Harris punya argumen praktis. Tidak ada yang tidak terpahami jika dicermati dalam konteks kehidupan yang saling dipengaruhi dan terjadi bertahap. Saran Harris, perhatikan perut, angin, hujan, energi, dan peristiwa-peristiwa biasa yang kita lihat. Jadi apa jawaban atas perang primitif orang Maring? Praktik membunuh bayi perempuan pada orang Yanomano? Gaya hidup penuh gengsi ala orang Kwakiutl? Apa hubungan pemberontakan, Nabi-nabi, dan tukang sihir? Sama seperti kultus sapi atau tabu babi, tidak akan ada penjelasan motivasi atau kesadaran mengenai perang, pembunuhan bayi perempuan, dan gaya hidup bergengsi. Perang primitif adalah cara kendali populasi. Praktik pembunuhan bayi perempuan adalah respon terhadap konflik militer. Gaya hidup glamor dan bergengsi adalah rantai akhir dari sistem bertukar hadiah, distribusi harta, dan cara yang dilakukan oleh kelas berkuasa memperoleh bakti militan pekerja. Para juru selamat dan tukang sihir terhubung dalam arena perang yang terus menerus terjadi hingga industri, bank, dan sistem politik pasca-monarki menggantikan semuanya.


Budaya bukan wangsit dari langit, lestari turun temurun, dan laku sejak “dulu”. Kita pikir budaya suku primitif eksotis dan tidak terjelaskan. Padahal itu hanya tameng masyarakat modern memberi tanda jarak peradaban. Masyarakat pra-masehi, abad pertengahan, dan masa kini, bertindak dengan pola persis. Perbedaannya berada pada perubahan lanskap geografi, cuaca, mobilitas, dan populasi. Sistem kebudayaan meliputi pemikiran politik, agama, ekonomi, dan sosial, dibentuk oleh tahap-tahap peristiwa, perubahan ekologi, serta penyesuaian atau modifikasi fungsi sosial. 

Jadi buku ini adalah alat bantu memecahkan teka-teki rumit. 

*Kurator Rumah Baca Komunitas

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup