Resolusi Jihad Ekologi

 Resolusi Jihad Ekologi

Sumber: dokumen pribadi

David Efendi

Akademi Ekoliterasi RBK


Tahun 2023 menjadi penanda pendidihan global karena terdapat hotspot di bumi terpanas sejak lebih dari seratus tahun terakhir. Tahun 2023 juga adalah titik kulminasi dari upaya sungguh-sungguh dan benar-benar (jihad) Muhammadiyah dalam memperhatikan dan menghidmati gerak penyelamatan planet bumi atau gerak kesemestaan yang ditandai dengan launching Muhammadiyah Climate Center (MCC) pada saat milad Muhammadiyah November 2023 yang barusan berlalu. Gaungnya juga masih panas ihwal antisiasme pelibatan ekosistem Muhammadiyah, AUM, UPP, PTMA ke dalam ruang dakwah dan kiprah di bidang Lingkungan hidup.

Jihad terbesar abad ini adalah jihad melawan kerusakan lingkungan akibat krisis iklim. Saya kira, Muhammadiyah berada dalam frekuensi semangat ini: menolong kesengsaraan umum. Dapat dipahami, bahwa jejak rekam perjuangan Muhammadiyah juga sudah dua dekade ini fokus pada penanggulangan bencana dan resolusi konflik, pemberdayaan masyarakat, serta mobilisasi dana umat untuk visi profetik Islam berkemajuan. Meski ada trisula baru, bukan berarti trisula lama perjuangan Muhammadiyah diabaikan. Tiga program utama Muhammadiyah yakni pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sosial adalah ruang sangat penting untuk memasukkan spirit resolusi jihad: amanah, adil, tauhid, khalifah, halal haram, ayat, mizan.
Saya sebut spirit ini adalah nilai-nilai ekoliterasi Islam yang perlu diinternalisasi dalam hati dan perbuatan bagi setiap muslim. Dengan nalar ayat ekoliterasi islam dalam teologi rahmatan lil alamin dan teologi al maun yang merupakan titik temu keadilan ekologi dan keadilan sosial (social justice). Penting digarisbawahi, tidak ada keadilan yang sempurna tanpa upaya pemenuhan keduanya. Adil pada manusia, adil pada alam raya. Tidak bisa dipisahkan sehingga penuh keyakinan bahwa tidak boleh ada proyek pembangunan yang hanya adil pada manusia tapi bukan pada lingkungan, dan atau sebaliknya.

Dalam banyak forum kira kira ringkasnya di dalam konsepsi Muhammadiyah, berjihad bukan berarti harus berangkat ke medan perang dengan memanggul senjata. Di alam modern seperti sekarang, berpikir dan bergerak secara cerdas, akurat, kreatif, kebaruan, dan cermat dalam menjawab tantangan zaman juga cabang dari jihad. Jihad melawan penderitaan akibat krisis iklim perlu terus dijalankan Muhammadiyah demi mewujudkan cita-cita islam rahmatan lil alamin, keberkahan bagi semua makhlukNya.

Keterlibatan civil islam dalam isu lingkungan adalah karunia terbesar di abad ini. Why? Selama ratusan tahun perkara ini ada di tangan ilmuwan di laboratorium dan juga disusul oleh keterlibatan kelompok secular environmentalis dalam wajah global NGOS di belahan global north-south yang juga meluber ide idenya ke Indonesia. Sudah fitrahnya, urusan bumi adalah urusan dan tanggungjawab lingas negara/bangsa dan lintas agama. Watak inklusif dan plural menjadi persayaratan jihad untuk keadilan iklim dan upaya penyelamatan bumi. Pengetahuan (ekoliterasi) menjadi senjata dalam berjihad.

Dalam berjihad melawan nafsu perusakan bumi dan menghadang gerak percepatan krisis iklim kita meneladani mantra Emil Salim: hadapi krisis lingkungan seperti berperang (jihad lingkungan). Jihad ekologi artinya jihad melindungi bumi dari penghancuran total akibat keserakahan dan bencana ekologis akibat aktifitas ekonomi ekstraktif. Setidaknya ada tiga jenis jihad ekologi yang dapat kita jelaskan sebagaimana jihad dalam hasanah islam.

Pertama, jihadul fikr atau jihad dalam wacana pemikiran dan gagasan ilmu. Kedua, jihadul nafs, jihad mencegah nafsu merusak bumi dan ketiga adalah jihadul maal yaitu jihad merelakan garta benda untuk memproteksi bumi anugerah ilahi ini layak dihuni untuk semua.

Jihad berperang fisik berhadapan dengan agresor memang masih menemukan relevansinya dalam kasus Palestina vs Israel tapi sebagian besar dan banyak jumlahnya ke depan akan lebih berhadapan dengan masalah krisis ekosistem bumi yang dampaknya berlipat dan meluas: pengungsi, kelaparan, kemiskinan, pengangguran, gizi buruk, konflik sumber daya alam, dan penyebaran penyakit zoonosis. Kita membayangkan perang baru semua melawan kekuatan berdaya hancur massal yang belum banyak presedennya bila dibandingkan World War 1 dan 2. Jika perang dunia tiga berjalan minor dan tidak ekstensif maka perang melawan krisis iklim dan krisis ekologi bakalan lebih meluas dan mematikan bahkan memunahkan.

Tahun 2024 kita paksakan menjadi tahun resolusi jihad ekologi berskala nasional: think globally act locally dan sebaliknya. Salah satu jihad konstitutional yang berdimensi ekojihad adalah dimulai dari bilik suara. Dalam pemilu: memilih capres cawapres yang kecil mudharatnya (walau pun tidak selalu kondisi berlaku). Bagaimana tahunya? Kita mulai dari jihadul fikr, bekerja keras untuk memverifikasi dan validasi pengetahuan dan data bagaimana rekam jejak kandidat dan pengabaianya pada krisis ekologi. Pengetahuan dapat memandu lebih obyektif.

Tahun 2024, selemah-lemahnya iman kepada ekologi, kita tidak boleh toleran dan diam diam menormalisasi krisis sosio-ekologis akibat salah asuh kebijakan mengelola SDM dan mengundang krisis iklim yang diperparah oleh kebijakan ekonomi destruktif di masa depan. Masa depan yang kita bayangkan dalam krisis merupakan masa depan yang penuh petaka dan kutukan sumber daya alam nan melimpah. Keberlimpahan ini yang tak berhasil dijadikan berkah untuk semua karena berkah telah dimonopoli pemodal, penjudi yang terus menerus andil dalam politik elektoral.
Spiral kekerasan terhadap ekologi ini terus menerus diperbaharui oleh kekuasaan yang mengandalkan bongkar isi bumi untuk tampil sebagai watak kepemimpinan yang berhasil.
Ya harus diakui, kepemempinan yang mengandalkan sistem kapal keruk isi bumi dan apa apa yang ada di atas permukaan bumi adalah mentalitas kekuasaan yang penuh kekerasan politik. Kekerasan politik investasi juga biasanya dimulai dalam ragam pengabaian terhadap etika, janji kampanye, dan juga melupakan kesengasaraan umum baik manusia maupun non manusia(alam). Resolusi jihad ekologi adalah kerja mengoreksi itu bukan hanya lima tahunan, tetapi kerja keseharian sebagaimana alam dan kita relasinya tiada terpisahkan(embeddedness) dan inilah perjuangan politik ekologi yang terus kita pertahankan.

Bagikan yuk

David Efendi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.