Pengusir Ayam yang Pensiun

Oleh: Dafrin Muhsin)*

Terdengar aneh ketika membaca judul diatas, tapi pekerjaan itu benar-benar nyata, pekerjaan yang telah memasuki setahun ketika beraktivitas di Yogyakarta.

Sebelum saya menceritakan pekerjaan mengusir ayam, sedikit saya berbagi kisah soal masa-masa awal saya mengenal RBK. Kisa itu bermula ketika seorang anak petani yang ingin mewujudkan mimpi-mimpinya memutuskan untuk melanjutkan studi di Yogyakarta.

Ketika hendak mendaftar ke UGM, namun sudah duluan diterima di UMY artinya saya ditakdirkan untuk berkuliah di UMY. Setelah Masa pedaftaran selesai, kini saya haru merima kenyataan hidup jauh dari tanah kelahiran, jauh dari sahabat, jauh dari keluarga, dan tidak ada siapa-siapa sebagai tempat mengadu.

Sebagai manusia biasa, tentunya rasa rindu akan selalu ada apalagi ketika gemah takbir terdengar menembus dinding-dinding kesunyian yang berubah menjadi kerinduan dan air mata.

Namun, rasa pilu itu harus ditelan dan disimpan dalam-dalam. Berdirilah dengan kokoh, majulah berjuang ketika engkau mampu bertahan dengan tetap hidup akan dikenal sebagai pahlawan dan ketika engkau mati di medan perjuangan akan dikenang sebagai syuhada sebab menuntut ilmu adalah jalan fisabilillah.

Rasa pilu itu terbayarkan ketika bertemu dengan keluarga Rumah Baca Komunitas. oh yah, awal Saya mengenal RBK ketika di penghujung pekuliahan martikulasi, Semptember 2018 bersama Dosen MIP yang di waktu itu tidak saya kenal sama sekali, dialah Cak David sapaan akrab Dosen muda David Efendi sekaligus Ketua Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah dan Pendiri Rumah Baca Komunitas.

” Siapa yang belum ada tempat tinggal, yang masih numpang diteman atau belum dapat kosan kalau belum punya bisa tinggal di sekretariat Komunitas Literasi Rumah Baca Komunitas”

Pertanyaan itu, memicu rasa penasaran beberapa mahasiswa yang hendak memulai kehidupan baru di Yogyakarta. Dan Pentanyaan itu disambut baik oleh Mas Kukuh yang berasal dari Sorong Papua “Di mana tempanya pak, boleh selesai perkuliahan kami mampir untuk lihat sekretariatnya”. Perkuliahan sore itu berakhir dengan kesepakatan mengunjungi sekretariat RBK.

Meskipun demikian, awalnya saya tidak menaruh perhatian atas ajakan Dosen muda itu. Namun ketika hendak pulang diajak sama mas Kukuh dan Ikhwan R. Latif mahasiswa berdarah Aceh, demi keakraban sebagai alasan solidaritas saya mengiyakan ajakan itu.

Setelah memastikan tempat sekretariat RBK kami pun membalikan arah kendaran menuju kediaman masing-masing. Melalui sosial media bersama Mas Kukuh dan Ikhwal kami melakukan diskusi untuk memastikan siapa yang akan tinggal di RBK.

“Sepertinya saya belum siap karena sudah bayar kosan untuk 3 bulan ke depan” kata mas Kukuh
Gimana Ikhwan.? tanyaku
“Saya juga persis sama seperti mas Kukuh sudah bayar kosan untuk beberapa bulan juga” jawab Ikhwan.

Dalam komunikasi lewat sosial media itu, menyepakati saya yang harus tinggal di RBK karena merasa bertanggung jawab saya langsung menghubungi Cak David. “Besok kita ke sekretarian ujarnya.

Keesokan harinya saya bergegas ke RBK, Cak David sudah menunggu di halaman depan, saya menyalaminya serta memulai pembicaraan seputar dunia literasi untuk menggali lebih jauh mengenai sejarah RBK. Saya diperkenalkan dengan sejarah RBK (mahzab kalibedog) tentang suka cita literasi dan para volunternya.

lewat cerita singkat itu, saya merasa terharu dengan kisah-kisah yang sangat menginspirasi. Dari aktivitas sederhana: menyiram tanaman, merapikan buku, membersihkan piring sendiri dan kegiatan positif lainya menjadi modal untuk mengapi mimpi yang cerah.

Aktivitas mereka saat ini sangat beragam dengan kemampuan di atas rata-rata. Jika di ibaratkan dengan tingkatan iman, sudah setara dengan kalangan sufi. Ada yang menjadi ahli pengusaha bambu dengan penghasilan 90 JT perbulan (Cak Lupet), Mahasiswa lulusan Paris (Bang Doulla), Sebagai Dosen Muda (Bang Fauzan, Om Sakir dan Cak David) Dan yang terakhir Kak Rifki yang saat ini sedang menempuh Pendidikan Magister di Australia.

Cerita itu pun berakhir ketika senja mulai menghilang. Kini tingal aku, Kopi dan tumpuka buku-buku. dan semenjak itu profesi mengusir Ayam dimulai.

Banyak barang, buku dan lemari yang belum tertata, sebab RBK baru saja pindah dari Kalibedok ke dusun Kanoman, kecamatn Gamping, Kabupaten Sleman. Saya merapikan dengan semampunya, terbantukan ketika volunter berdatangan untuk membatu menata rumahnya manusia yang baru.

Hari-hari di RBK menjadi catatan dan pelajaran tersendiri bagi saya, aktifitas sederhana Kalibedog menjadi nyata dalam keseharian. pelajaran yang paling berharga yang saya dapat yaitu: Menghargai perbedaan, mencintai buku sebagaimana mencintai diri sendiri, dan bergerak tanpa harus ada yang memerintah.

Di setiap sudut dan ruang RBK adalah ruang belajar untuk itu harus selalu dibersikan secara berkala, menjaga nilai estetik agar menjadi tempat yang nyaman untuk belajar. Namun karena kesibukan kuliah seharian, serta anak-anak kanoman yang belajar dan bermain sehingga terkadang ruang belajar memjadi tidak seindah yang dibayangkan. Buku-buku berantakan, sampah di mana-mana belum lagi makhluk lain (Ayam dan Tikus) mungkin saja mereka gemar membaca.
Memang merawat peradaban (perpustakaan) itu tidak mudah membutuhkan orang-orang yang ikhlas, berkomitmen dan harus di kerjakan oleh banyak orang. Maka virus literasi penting untuk disebarluaskan.

Setiap harinya saya harus berkelahi dengan Ayam yang mampir untuk tidur dan melanjutkan keturunan (bertelur). Disuatu waktu karena rasa prihatin, saya harus ikhlaskan untuk membiarkanya tidur dan bertelur di RBK dengan menyediakan sedkit ruang yang jauh dari buku.
dan saya harus membersihkan kotoran ayam itu. Bekerja sebagai pengusir ayam terlihat sederhana namun membutuhkan ketebalan iman untuk tetap sabar dan berkasih sayang dengan makhluk lainya di Alam semesta yang fana ini.

Tak terasa profesi mengusir ayam sudah saya lakukan selama setahun. Kini sudah saatnya saya pensiun dari pekerjaan itu. dan beralih ke perkerjaan lain, menulis dan menyelesaikan tuntutan akademik mengerjakan tesis.

Dengan berbekal pengalaman selama setahun di RBK, kini saya harus mempersiapkan diri untuk bergerak menggapai mimpi-mimpi sebagaimana Mahzab Kalibedog yang telah duluan menjelajah langit Indonesia dan Eropa. dan mungkin dalam waktu dekat saya harus berhijrah sebagai langkah awal untuk memulai. Akhirnya saya mengucapkan selamat bergabung kepada: Kak Lutfi, Sahrul, Arif dan Hengki Pradani Selamat memulai kehidupan di Rumahnya Manusia. Pensiun dari pengusir ayam bisa-bisa saja namun aktivitas literasi tidak mengenal pensiun.*

)* Pegiat RBK, bukan pengusir Ayam Biasa

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup