Pelajaran dari Animal Farm

 Pelajaran dari Animal Farm

Sumber: medium.com

Halufi (Pegiat Rumah Baca Komunitas)

Belakangan banyak isu dan kejadian yang menyeruak kepermukaan, mulai perubahan aturan untuk memudahkan prosesi keikut serataan dalam pesta demokrasi, perumusan dan pengesahaan Undang-Undang yang dikebut dalam waktu yang singkat sampai pada desakan pemakzulan wapres yang diinisiasi Purnawirawan, yang membuat bola liar ini merembet kemana-mana.

Kondisi ini dapat di katakan selaras dan sejalan dengan sebuah novel, “Animal Farm” atau “Peternakan Binatang”. Dilatarbelakangi oleh ide kebebasan dan perasaan yang sama akan ketertindasan menjadi salah satu pemikiran pemberontakan Binatang di peternakan tersebut. Dalam sebuah perkumpulan oleh para Binatang pemikiran tersebut disampaikan dan menggugah kesadaran Binatang lainnya.

Momentum yang ditunggu hadir tatkala aksi kekerasan yang dilakukan peternak membuat muak dan marah para Binatang yang berujung pada kekalahan para peternak. Maka secara tidak langsung Binatang berhasil menggulingkan kekuasaan dan mengelolah sendiri peternakan tersebut.

Atas keberhasilan tersebut, terciptalah aturan yang disepakati semua Binatang diantaranya (1) Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh; (2) Apapun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman; (3) Tak seekor Binatang pun boleh mengenakan pakaian; (4) Tak seekor Binatang pun boleh tidur diranjang; (5) Tak seekor Binatang pun boleh minum alkohol; (6) Tak seekor Binatang pun boleh membunuh Binatang lain; dan (7) Semua Binatang setara.

Dalam perjalanan keberlanjutan aktifitas peternakan, belum diputuskan pemimpin peternakan tersebut. Maka muncullah gagasan dari masing-masing toko Binatang yang dianggap sebagai teladan. Salah satunya Snowball, seekor babi yang memiliki pemikiran revolusioner dan progresif, yang berkeinginan membangunan kincir angin sebagai sumber kelistrikan yang menawarkan kemudahan dan kemewahan yang akan diterima para Binatang di Peternakan Binatang.

Di sisi lain Napoleon, juga seekor babi, yang berfikir dan bertindak licik untuk melengserkan dan mengusir Snowball atas ide yang ditawarkan namun tetap meneruskan Pembangunan tersebut. Dan secara tidak langsung Napoleon diangkat sebagai pemimpin Peternakan Binatang. Namun dalam perjalanan kepemimpinannya mulai terasa ketidak adilan yang dialami oleh Binatang lain diluar dari golongan Babi karena golongan ini memperoleh hak dan perlakuan Istimewa dibandingkan golongan lainnya.

Hal ini dapat terlihat ketika waktu bekerja dipeternakan dan diladang pertanian dimana golongan babi bertindak sebagai pengawas sedangkan Binatang lainnya bekerja seperti biasanya, dan hasil peternakan dan pertanian dikelolah dan dinikamati oleh Penguasa dan golongan serta kroni-kroninya dengan bagian yang lebih besar dengan dalih bahwa mereka harus bekerja keras memikirkan keberlansungan peternakan Binatang dan kesejahteraan Binatang lain sedangkan yang lain hanya mendapatkan sedikit dan ada kalanya jatah mereka dikurangi dengan dalih penghematan dan efisiensi.

Maka terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara penguasa dengan bobot tubuh yang lebih besar dari yang sebelumnya, sedangkan para pekerja tampak lebih kurus.

Selain itu, Penguasa benar-benar menikmati kemewahan yang dimiliki dengan hidup yang glamor dan terlibat dalam kehidupan seksualitas dengan memiliki banyak anak karena Napoleoan seorang dirilah satu-satunya babi jantan di peternakan, sedangkan lainnya adalah betina. Upaya lain yang dilakukan penguasa untuk menjaga kekauasaan dan dinasti politiknya adalah membuat fasilitas berupa sekolah untuk mendidik anak-anak penguasa sebagai penerusnya dan juga memberlakukan militerisme dalam menjaga kondisi internal peternakan dan menghalau upaya serangan dari luar.

Selayaknya pemimpin yang dapat membongkar pasang peraturan untuk memudahkan kekuasaannya, menikmati semua fasilitas dan kemewahan yang dimiliki serta hidup serakah dan berfoya-foya, Penguasa melakukan pelanggaran dan mulai mengubah aturan yang telah disepakati seperti poin 4 dan 5 bahwa “Tak seekor Binatang pun boleh tidur diranjang dengan seprei” dan “Tak seekor Binatang pun boleh minum alkohol berlebihan”.

Kondisi ini memunculkan polemik ditenggah para Binatang lain karena pelanggaran aturan ditambah keterbasan pengetahuan dan daya ingat yang mereka miliki sehingga ada kesimpang siuran atas aturan tersebut dalam benak mereka. Selayaknya pemimpin, Penguasa memiliki juru bicara untuk meredam isu tersebut dengan dalih mereka, Penguasa dan kroninya, harus merasakan kenyaman atas kerja keras mereka memikirkan Peternakan Binatang tersebut.

Para peternak sebelumnya mencoba melakukan invasi untuk merebut kembali peternakan tersebut namun Upaya tersebut bisa diatasi dan bahkan Binatang dapat memukul balik para peternak tersebut. Atas kejadian ini, Napoleon dalam upayanya menjaga kekuasaannya membuat isu bahwa invasi tersebut telah ditunggapi Snowball dan agen-agennya yang berada dalam peternakan.

Sehingga hal ini menjadi alasan penguasa untuk menjatuhkan hukuman pada Binatang lain yang sebenarnya Binatang tersbut tidak terafiliasi dengan Snowball dan pelanggaran yang mereka lakukan hanya memakan atau menyembunyikan beberapa hasil pertanian untuk cadangan makanan mereka.

Hukuman ini diambil sebagai langkah penguasa, menjaga kekuasaannya, untuk memberikan tekanan psikologis pada Binatang agar tidak ada yang boleh melanggar aturan dan mencoba mengkritisi keputusannya, serta mencegah aksi penggulingan terhadap kekuasannya.

Atas dasar tersebut, mereka dijatuhkan hukuman mati padahal ini bertentangan dengan aturan poin 6. Hukuman ini diambil sebagai langkah penguasa, menjaga kekuasaannya, untuk memberikan tekanan psikologis pada Binatang agar tidak ada yang boleh melanggar aturan dan mencoba mengkritisi keputusannya serta mencegah aksi penggulingan terhadap kekuasannya.

Karena kerja keras dan kesetiaan serta loyalitas para Binatang terhadap Peternakan Binatang maka penguasa menjajikan masa pensiun pada Binatang yang telah bekerja sepanjang waktu. Namun janji tersebut tak kunjung diwujudkan dan jika terdapat pekerja yang sakit maka akan dijual dan dikirim ke tempat pemotongan hewan agar dapat memperoleh tambahan penghasilan dengan isu yang dihembuskan pada yang lain bahwa pekerja tersebut akan dirawat di rumah sakit.

Sampai pada akhirnya bahwa peraturan “semua Binatang setara” berubah menjadi “semua Binatang setara tetapi beberapa Binatang lebih setara daripada yang lainnya” karena babi dan kroninya bersumsi bahwa mereka lebih daripada Binatang lainnya. Disamping itu, Binatang lain sudah mulai menyuarakan perasaan dan perilaku yang tidak adil atas apa yang mereka dialami.

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *