Pegawai Negeri: Imaginasi ‘Kelas Menengah’ Merebut Kesejahteraan

Oleh : Agus Andika Putra, MA)*

Badan Kepegawaian Nasional (BKN) baru saja merilis data pelamar cpns 2019 hampir mencapai angka 4.994.056. Lalu apakah ini sebuah bentuk prestasi atau sebaliknya? Pertama, yang harus kita sepakati adalah pelamar CPNS rata-rata kaum terdidik berusia produktif. Syarat minimum yang ditetapkan pemerintah untuk pelamar CPNS adalah 18 tahun dan maksimum 34 tahun. Apakah ini bukan sebuah ukuran angka produktif untuk sdm? Jawabannya jelas iya, usia 18-34 tahun merupakan performa terbaik dari produktifitas seseorang. Performa jadi prasyarat penting dalam mengurus urusan birokrasi yang menjadi nyawa dari pelayanan publik. Kedua, Selain syarat minimum usia, Pemerintah juga menetapkan syarat yang tidak kalah pentingnya dari batas usia adalah batas minimal pendidikan.

Untuk menjadi seorang PNS atau setidaknya calon PNS kita harus berpendidikan minimal Sekolah Menengah Atas atau sederajat, tentu ini merupakan kelas terdidik yang jumlahnya sangat besar di Indonesia.
Dengan jumlah pelamar yang mencapai jutaan ini tentu kita harus berfikir keras, apakah kaum terdidik selama ini tidak mendapat pekerjaan yang layak sesuai tingkat pendidikan mereka. Jumlah pelamar yang banyak menunjukan bahwa tak banyak ruang dan pilihan pekerjaan yang laik bagi kelas-kelas terdidik ini. Hal ini bukan sebuah prestasi bagi ketersediaan lapangan pekerjaan yang menjamin kesejahteraan bagi masyarakat di Indonesia.

Meningkatnya jumlah pelamar CPNS 2019 menimbulkan pertanyaan sederhana mengapa banyak kaum terdidik ini begitu mendambakan menjadi ASN? Jawaban dari refleksi saya secara pribadi sebagai pelamar CPNS dan beberapa narasumber mempunyai alasan yang terbentuk dari pengalaman panjang dalam perjalan hidup sehingga harus memilih PNS. Bagi kaum terdidik perkotaan memilih PNS bukan karena alasan sosial yang melekat ditubuh seorang PNS tetapi karena kemanan ekonomi. Seorang teman yang merupakan kaum terdidik perkotaan yang mempunyai latar belakang keluarga PNS sejak generasi pertama dalam keluarganya, memilih mendaftar CPNS untuk menjaga tradisi mereka serta kemanan ekonomi. Selain itu, bagi kelas pendidikan perkotaan menjadi PNS adalah pilihan paling logis untuk jaminan hari tua mereka. Persaingan yang tinggi disektor swasta menambah alasan lain mengapa mereka harus memanfaatkan peluang CPNS yang tidak musti setahun sekali melakukan rekruitmen.

Berbanding terbalik dengan kelas terdidik perkotaan, alasan lain datang dari kaum terdidik pedesaaan. Alasan ekonomi tidak menjadi satu-satunya yang menjadikan kelas ini memanfaatkan ruang pendaftaran CPNS. PNS adalah sebuah imaginasi tentang kemapanan kenyamanan dan kesejateraan. Bagi kaum menengah cenderung kebawah yang rentan tentu untuk mengamankan sebuah posisi yang penuh ketidak pastian, PNS menjadi sandaran pengamanan yang menjamin. PNS menjadi satu-satunya ruang yang bisa diakses secara terbuka oleh kaum menengah kebawah terdidik dibanding ruang-ruang lainnya. Menjadi Kelas menengah kebawah yang rentan tentu imaginasi kesejahteraan ibarat seorang musafir yang mendambakan tetesan air di tengah padang pasir. Tak ada ruang lain yang bisa diakses secara terbuka bagi kaum terdidik menengah ke bawah ini sehingga ruang yang hampir terahir ini menjadi pilihan logis untuk direbut. Selain jaminan keamanan ekonomi, budaya yang melekat di masyarakat dalam memandang PNS sebagai bentuk pencapaian yang patut dibanggakan tentu menambah gairah kaum menengah kebawah untuk memperjuangkannya.

Menjadi PNS berarti bisa merubah struktur kelas, alasan semacam ini tidak terkontruksi begitu saja, ada sejarah panjang yang membentuknya. Dari zaman kerjaan menempatkan para pegawainya mempunyai privilege dibanding mereka yang tak terikat dalam struktur kerajaan. Privilege ini membuat para pegawai ini disegani, dihormati yang menjadikan banyak orang ingin juga mendapatkannya. Sejarah panjang ini yang kemudian menjadi kontruksi berfikir yang menjadi landasan mengapa mereka ingin menjadi PNS yaitu kesempatan menaikan kelas sosial dan menaikan taraf kesejahteraan.

*Jebolan Perguruan Pencak Pakis Kalibedog, Alumni Program Pasca Sarjana Depertemen Politik Pemerintahan UGM

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup