Manusia dan Kelahirannya

Oleh: Dang Arief D. Saputra*

Manusia sebagai makhluk yang mempunyai kodrat menjadi makhluk yang dilahirkan ataupun melahirkan “women”. Proses ini akan terus berlangsung dan ntah sampai kapan dapat dihentikan. Dari zaman Adam hingga zaman sekarang. Melalui proses perjuangan dan persaingan antara ribuan sel sperma yang berpadu dengan sel ovum dan pada masanya akan menghasilkan kelahiran. Perpaduan inipun dilandasi dengan hasrat dan harapan. Ini tidak akan dapat dihindari karena dengan proses kelahiran inilah kehidupan akan tetap berlangsung. Dari kelahiran inilah yang akan membuat setiap pola kehidupan akan terbentuk. 

Saat lahir dan membuka mata kedunia, ntah apa yang terlintas dalam pikiran ? ntah apa yang terbayang pada saat itu ?.Mungkin kah pada saat itu manusia telah memikirkan tentang apa yang harus dilakukan dan telah mempunyai rencana-rencana dimasa depan ? ataukah manusia dilahirkan hanya dengan sebuah kehampaan ?. Mungkin dulu manusia-manusia yang telah sukses di hari ini adalah manusia yang telah memulai lebih dini, tentang apa yang sepatutnya dilakukan. Bisa dikatakan bahwa dengan semakin mempercepat laju dalam berpikir agar menghasilkan pengalaman akan mempercepat pemahaman-pemahaman tentang apa yang akan menjadi tujuan. Memang tak terbayangkan dengan hal-hal yang demikian. Karena sejatinya proses yang telah dialami adalah media perbaikan yang akan dilakukan dimasa mendatang.

Dimasa yang hidup dengan segala hiruk pikuknya pada tata ruang dan kelola hedonisme ini terkadang memaksa manusia untuk selalu melakukan perandai-andaian. Kolonialisme terhadap pemikiran teraplikasikan yang bahkan menyasar pada aspek-aspek fundamental. Terkadang adanya tendensi untuk melakukan pemahaman-pehamanan semu dan palsu tentang kebahagian-kebahagiaan yang harap dicapai. Intervensi terhadap ketetapan yang terkadang menimbulkan friksi bahwa andai saya dulu dilahirkan dengan menjadi……. ?. Andai dulu saat dilahirkan dapat memilih dengan siapa dan kapan dilahirkan mungkin pada saat ini tidak ada yang menjadi anak buruh atau petani. Menjadi anak dari bangsawan merupakan pilihan yang akan mendominasi. 

Pergolakan ini bak cerita dongeng yang menghantarkan lelapnya tidur. Dibuai dengan iming-iming lembut dan mesra dengan merasakan sejuknya tiap-tiap bait yang disuguhkan. Hingga tertidur pulas memasuki dunia kesunyian dan berharap setelah itu akan muncul mimpi indah. Namun, seindah apapun itu tetap sebuah fatamorgana. Setidaknya jika tidak memunculkan cerita dongeng, adakah cerita-cerita lain dalam upaya menggugah masa sadar ?. Masa-masa realis yang benar-benar akan dilakukan hingga menjadi sebuah pengharapan. Sekarang mungkin ruh-ruh yang telah dipersiapkan untuk lahir kedunia ini sedang berharap-harap cemas. Tentang penentuan kelahiran hidup manusia yang hakiki. 

Terkemuka dengan kata-kata “beruntunglah”, beruntunglah mereka, beruntunglah manusia-manusia itu yang diberi kesempatan lahir pada setiap perjalanan hidupnya, dengan hartanya, dengan tahtanya, dengan popularitasnya. Pada kata-kata ini pula jika selalu menjadi panduan dalam hidup maka seolah-olah akan mendiskreditkan manusia yang lain bahkan diri sendiri. Selanjutnya dengan kata-kata ini juga akan menciptakan perbandingan-perbandingan antara kesempatan yang satu dengan kesempatan lain yang diperoleh. Lebih lagi, keadaan ini mencoba memanipulasi dengan seolah-olah pada kata ini akan melahirkan moment-moment indah dan menghasilkan setiap kenangan menakjubkan.

Lalu, apakah ketidakberuntungan patut disematkan kepada manusia yang terlahir pada setiap kesederhanaannya, tidak dengan hartanya, dengan tahtanya, dengan popularitasnya ?. Sungguh suatu ironi jika merefleksikan kata beruntung tersebut untuk menghakimi manusia yang dilahirkan pada setiap pelunya, dengan setiap perjuangan tangguhnya. Penganggapan bahwa pada saat ini mereka yang belum dapat merasakan perlambangan dari suatu kemewahan tidak merasa bahagiapun  jika dianggap demikian maka ini merupakan sebuah kekejaman, karena tentunya tidak ada seorangpun yang dapat mengukur  kebahagian yang menghiasi setiap kehidupan yang dijalaninya. 

Ketika dilahirkan didunia memang manusia tidak dapat memilih, dari rupa, status keluarga, keadaan perekonomian dan lain sebagainya. Dari hal-hal itupun sesungguhnya tidak ada yang dapat menjelaskan definisi kebahagian terhadap hidup. Jika dengan kemewahan dianggap sebuah kebahagian, lalu bagaimana dengan kebahagian yang dihasilkan dari kesederhanaan. Bagaimana juga dengan kondisi yang menjelaskan bahwa pada suatu ketika dengan kemewahan justru berbanding terbalik dengan kebahagian. Maka supremasi akan kebahagian terhadap lahirnya manusia dengan kemewahan itu dapat ditolak. Begitupun sebaliknya. Dan pada intinya, tidak ada seorangpun dari manusia yang diperkenankan untuk menjustifikasi seorang manusia lainnya.

Ada sesuatu yang tidak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya akan ada ketetepan yang menjadi kekuatan. Setiap kelahiran ini sifatnya berkaitan dan berkesinambungan. Jika ingin membayangkan, pada suatu keadaan selalu ada hal-hal positif dan negatif yang akan disapa dan dijalani. Ntah itu kebahagian atau kemurkaan maupun imajinatif atau realitas. Mencoba menemukan perasaan positif bahwa kebahagian absolut terletak pada dirinya sendiri. Jika manusia pada setiap kelahirannya merupakan tempat dimana kebahagiaan absolut berada, maka manusia sepatutnya berusaha untuk menjaga hal itu bukan menggugurkannya.  

Terhadap benih-benih yang telah tumbuh, ada pengharapan besar yang berada dipundak. Sekalipun akan dibumbuhi dengan cucuran keringat dan mengalirnya darah, namun bijaknya jangan sedikitpun untuk menurunkan intensitas berfikir dan membuka kepalan tangan disetiap tujuan. Pada setiap kelahiran merupakan ajang untuk meningkatkan moral pada tatanan kehidupan yang akan dijalani. Kelahiran pada manusia merupakan suatu ketetapan, lalu terhadap manusia yang telah digrogoti perasaan dilema pada realita akan kelahirannya, sepatutnya memahami bahwa setiap proses kelahiran adalah penyempurna. 

“Realita adalah sesuatu yang anda ciptakan”. – Liza Minneli

*Penulis adalah egiat Rumah Baca Komunitas 

Yogyakarta, 18 September 2019

Kelahiran pada manusia merupakan penyempurna.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup