Sumber foto: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-47759198

Hoax dalam Pilpres 2019, Kenapa Tak Bisa Diredam?

Oleh: Timo Duile
Antropolog Politik dan Pengajar di Universitas Bonn

Waktu saya di Jakarta, saya masih ingat spanduk-spanduk melawan hoax politik di pinggir jalan. Di spanduknya, Jokowi sendiri minta kampanye bersih tanpa berita bohong. Sekalipun demikian, media sosial masih penuh dengan berita hoax yang menggambarkan kubu lain sebagai ancaman besar. Jokowi PKI atau Prabowo mau bangun khilafah. Setiap kali aku buka facebook, aku melihat hoax disebar baik dari kubu Jokowi maupun Prabowo.

Sebenarnya gampang buat Jokowi dan Prabowo melawan berita palsu itu: Jokowi tinggal memberi pernyataan di perdebatan pilpres bahwa Prabowo tidak akan mendirikan negara islam. Sedangkan Prabowo menyatakan bahwa Jokowi bukan PKI. Tapi ternyata gak ada. Malahan hanya pernyataan basa-basi dan abstrak bahwa mereka juga turut serta melawan hoax. Kemudian, setiap orang punya tugas masing-masing untuk memutuskan sendiri apa yang hoax, apa yang benar.

Kenapa begitu? Setelah saya baca banyak unggahan dan diskusi di facebook, baik dari teman yang berpihak kepada Jokowi maupun Prabowo, saya yakin bahwa hoax memiliki sebuah fungsi penting dalam struktur politik Indonesia. Karena politik Jokowi dan Prabowo tidak memiliki identitas politik sendiri dan mandiri (dua-duanya mengunakan bahasa dan penanda (signifier) berupa “nasionalisme” dan “islam”). Kedua kubu itu membutuhkan ‘makna tambahan‘ untuk mewujudkan identitas dan semangat persamaan serta solidaritas dalam kubunya masing-masing. Di sini, hoax menjadi sangat penting. Hoax bahwa Jokowi PKI, misalnya, akan memberikan alasan bagi pendukungnya untuk marah bersama-sama dan mempertahankan diri. Teman saya dari FU Berlin pernah menyebut fenomena seperti ini dengan konsep “rezim kemarahan” (indignation regime). Perasaan marah, dapat mendorong suatu kelompok untuk tampil dan bergerak. Jadi, hoax punya dua fungsi: menakutkan kubu sendiri karena ancaman imajiner, sekaligus mewujudkan kemarahan di kubu lain. 

Kampanye Jokowi dan Prabowo agak kosong: “Pilih orang baik” atau “Pilih pemimpin kuat.” Banyak slogan tapi sebenarnya tidak punya isi politis. Hoax bisa memberi dasar untuk mewujudkan identitas dalam kubu, bahkan identitas yang jadi imun terhadap argumen lain. Termasuk fakta dan argumentasi ilmiah. Saya beberapa kali berusaha untuk berdiskusi dengan pedukung Jokowi dan Prabowo, tapi mereka sama sekali tidak mampu menerima fakta yang melawan narasi hoax itu. Mereka ingin percaya kepada ancaman. Kita tidak hanya mengalami masalah hoax, tapi masalah narasi yang berdasar hoax, dan narasi sendiri menyediakan dasar untuk percaya kepada berita hoax.

Indonesia mungkin tidak terancam oleh model Pakistanisasi, tapi justru oleh Thailandisasi atau Filipinasasi yang lebih dekat. Sebuah elit yang menguasai melalui populisme, yang mengosongkan wacana politik dan mengisi ulang dengan narasi yang tidak pernah peduli dengan masalah yang diciptakan oleh elitnya sendiri. Menurut Oxfam, 4 orang terkaya memiliki kekayaan yang sama dengan 100.000.000 warga termiskin. Di belakang Jokowi dan Prabowo ada konglomerat media, pemilik lahan besar, pemilik perusahan, jalan tol, pabrik, dan elit organisasi agama yang memberi legitimasi terhadap pemerintahan yang melestarikan kesenjangan sosial itu. Walaupun ada pertumbuhan ekonomi yang besar, kemiskinan di Indonesia hampir tidak turun. Hanya kekayaan orang kaya saja yang terus bertambah. 

Baik Prabowo maupun Jokowi tidak pernah mebicarakan akar masalah itu. Mereka berkutat pada solusi simbolis. Warga sibuk takut PKI dan khilafah, takut LGBT dan ISIS. Dengan hoax dan kepanikan moral, pemerintahan dan politik resmi pada umumnya berhasil membangun (walaupun mereka membangun tidak sengaja) sesuatu yang ingin saya sebut sebagai ‘mesin ketakutan‘ yang terus-menerus menakuti warga. Dengan ketakutan, warga tidak berpikir mandiri, hanya ikut jalan yang mereka percaya aman. Hoax adalah alat efektif untuk menakuti warga. Kepanikan moral pun demikian. Yang mengancam demokrasi Indonesia bukan PKI atau khilafah, tapi ketakutan.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup