Ekoliterasi: Sampahmu yang Merusak Bumi Harus Diakhiri

Oleh : Umi Amaliyah)*

Krisis lingkungan dan permasalahan lingkungan yang hadir di tengah tengah kita merupakan akibat dari hasil kesalahan dalam memperlakukan lingkungan / bumi tempat tinggal kita. Tanpa sadar, manusia sering lupa akan tindakan yang menurutnya “benar” dalam memperlakukan bumi. Dengan membuang sampah sembarangan, menebangi pohon yang secara sadar mereka tahu bahwa itu sumber oksigen mereka, juga dengan membangun gedung-gedung pencakar langit yang mereka jadikan itu adalah suatu kewajaran. Tindakan-tindakan pengrusakan bumi tidak hanya itu saja, masih banyak lagi yang bisa disoroti. Dari hal yang terkecil sampai kepada hal-hal besar. Jika dihitung secara matematis, tindakan kecil apabila dilakukan secara berulang-ulang maka akan menjadi besar dampak atau akibat yang akan ditimbulkan dari nya. 

Menyoroti terhadap beberapa penyebab yang dapat menimbulkan kerusakan pada bumi, penulis disini akan membahas salah satu penyebab yang dianggap sepele oleh manusia tetapi besar dampaknya terhadap bumi. Pembuangan popok bayi bekas akan menjadi tema dalam penulisan artikel ini. Seperti yang kita tahu bahwa kelahiran di Indonesia pada tahun 2017 berjumlah 1,49 persen. Yang berarti sama dengan 4,8 juta jiwa dilahirkan pada tahun tersebut.  Itu berarti 4,8 juta bayi yang membutuhkan popok untuk keseharian nya. Bisa dibayangkan, jika dalam sehari semua bayi tersebut digantikan popoknya 3 kali. Maka akan sangat banyak limbah atau sampah bekas popok yang terbuang dalam setiap harinya.

Adapun alasan dari masyarakat membuang limbah popok bekas ke sungai karena masih berkembang mitos dimasyarakat. Membuang popok bekas yang berujung pada tindakan pembakaran dipercaya akan mengakibatkan kulit di pangkal paha dan pantat bayi menjadi merah seperti luka terbakar, atau populer disebut Suleten. “Ada keyakinan atau kepercayaan masyarakat, kalau memusnahkan popok bekas dengan cara dibakar akan menjadikan anak sakit. Maka kemudian cara yang paling aman, yaitu dibuang ke sungai,” ungkap salah satu masyarakat Sidoarjo. Adapun alasan lain pembuangan dikarenakan mereka yang tinggal diperkotaan dan sangat sulit untuk pembakaran dikarenakan terbatasnya lahan. Lahan yang sempit itulah yang menyebabkan masyarakat lebih memilih langsung membuang limbah popok bekas ke sungai, karena lebih menghemat waktu dan tidak repot. 

Limbah popok bekas yang dibuang di sungai memang lebih praktis bagi orang tua. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan terhadap bumi sangat besar. Karena popok bekas yang dibuang, akan membutuhkan waktu yang lama dalam penguraiannya. Butuh puluhan hingga ratusan tahun untuk bisa mengurai satu limbah popok. Bisa dibayangkan dengan jumlah kelahiran anak yang tinggi, tingkat pemakaian popok yang tinggi, dan pembuangan yang tidak benar akan membuat bumi semakin rusak. dalam popok bayi sekali pakai, terdapat banyak bahan kimia. Selain kualitas kadar air bakal memburuk, tumpukan popok itu bisa menjadi penyebab macetnya arus air dan tidak menutup kemungkinan menyebabkan banjir. Belum lagi, limbah popok dapat memicu berbagai pencemaran lingkungan yang berakibat pada munculnya penyakit seperti iritasi paru-paru dan kulit, sesak nafas. Tidak hanya pada manusia, tapi juga reproduksi ikan dan mengganggu senyawa hormon pada ikan.

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi mengatakan, terkait maraknya pembuangan bekas popok sekali pakai di sungai, memang harus mulai dikurangi. Sebab, kebiasaan buruk tersebut bakal memberi dampak jangka panjang. Terutama dampak kesehatan bagi masyarakat yang menggunakan air sungai. “Belum lagi, itu jenis sampah yang susah diurai. Karena itu mindset masyarakat harus diubah agar tidak membuang popok di sungai,” kata dia.  Betapa buruk dampak popok bekas itu pada ekosistem sungai. Belum lagi jika air sungai itu dikonsumsi masyarakat. Harusnya, masyarakat sudah diberi edukasi tentang cara memisahkan popok bayi dengan limbah rumah tangga yang lain.

Berikut ada beberapa solusi yang dikutip dari berbagai sumber yang diharapkan mampu mengurangi masalah pembuangan limbah popok bayi ini kesungai. Dari pemerintah, menurut dari BBC.Com upaya yang harus pemerintah jalankan adalah dengan memberikan solusi konkrit semisal dengan menyediakan drop-box khusus sampah popok bayi kesegala penjuru bukan daerah perkotaan saja bahkan sampai kepada daerah pelosok. Dengan drop-box khusus ini akan memudahkan aktifis pengerak lingkungan untuk bisa diolah kembali untuk dijadikan sebagai pupuk. Juga akan sangat meminimalkan pembuangan ke sungai. Akan tetapi, butuh beberapa pihak terkait yang harus bersinergi untuk menjalankan kegiatan ini. Solusi lain yang mungkin bisa meminimalkan pembuangan limbah popok bayi bekas ke sungai adalah adanya peraturan yang ketat terkait pembuangan sampah apapun ke sungai. Peraturan yang sifatnya bisa membuat orang jera dan berfikir dua kali untuk membuang sampah ke sungai.

Bukan hanya pemerintah, sebagai masyarakat kita harusnya sadar bahwa kita hidup di bumi, kita butuh bumi dan anak cucu kita juga akan sangat membutuhkan bumi. Karena itulah kesadaran untuk lebih menyayangi bumi dengan kegiatan sekecil apapun sangat perlu dilakukan dalam menjaga bumi. Adapun solusi yang bisa kita lakukan terkait limbah popok bekas ini adalah dengan memusnahkannya. Akan tetapi sebelum pemusnahan, sangat perlu dibersihkan dahulu popok bayi tersebut dengan menyiram atau mencucinya. Hal ini yang nantinya akan memotong budaya yang berkembang dimasyarakat tentang dampak dari popok yang dibakar terhadap bayi. Selain itu juga bisa membuat limbah popok tersebut menjadi pupuk yang nantinya juga akan bermanfaat bagi kehidupan ekosistem lain. bagaimana caranya, nanti penulis akan membahasnya pada artikel berikutnya.

Alasan penulis mengapa ingin berpartisipasi aktif dalam kelas pemuda ekoliterasi adalah karena kegundahan dan kegelisahan penulis akan hal yang dibahas diatas, juga terhadap bumi. Penulis ingin bisa lebih berkontribusi aktif melalui komunitas terkait bagaimana merawat bumi, juga membuat penyadaran terhadap masyarakat terkait tindakan dan perilaku kecil nya yang membuat bumi semakin rusak. Selain itu juga ingin membuat satu solusi yang nantinya bisa diterapkan dimasyarakat sekitar terkait kegelisahan tentang pembuangan limbah popok bayi ini. 

)* Peserta sekolah Ekoliterasi RBK, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, email : umieeliya96@gmail.com

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup