4 Poin dari Donatur Buku tentang Pembentukan Satker dalam Kebijakan Kargo Literasi Gratis

Oleh: Aura Asmaradana
Studi di STF Driyakara, Penulis buku Solilukui (2018)

Saya melihat dari sudut pandang seorang donatur. Pembentukan Satuan Kerja (Satker) akan berdampak pada donatur buku seperti saya. Sudah pasti akan ada dampak pada alur tambahan yang perlu dilewati dan beban biaya sebelum berhasil mengirim buku menggunakan program Kargo Literasi Gratis (FCL). Tapi persoalan ini akan dibahas belakangan, karena ada poin utama yang hendak saya sampaikan terkait pembentukan Satker yang juga tak kalah penting.

  1. Pertama, apakah pihak penyusun pedoman pengiriman buku dalam program FCL dapat menjelaskan alasan pokok mengapa buku-buku yang dikirim perlu disortir? Tentang alasan pembuatannya, kemungkinan besar tak jauh dari upaya untuk mengawasi buku-buku yang beredar, supaya tidak mengancam kemaslahatan NKRI (lihat poin B (Kriteria Buku)). Jujur saja ini membuat saya baper. Saya merasa tidak dipercaya sebagai seorang donatur buku. Memang saya tidak rutin mengirim buku setiap bulan untuk didonasikan, tetapi saya punya komitmen pribadi tentang bagaimana saya akan memperlakukan buku-buku yang sudah tak ingin/mungkin saya simpan. Ketika Negara memfasilitasi komitmen itu, rasanya menyenangkan sekali. Sesuatu yang menyenangkan tak akan mungkin berhenti di angka 1.
  2. Kedua, benar bahwa saya separuh pengangguran, tapi kalau diwajibkan mencatat judul buku yang hendak saya donasikan itu cukup makan waktu. Bagaimana kalau saya punya 10 kilo buku? Apakah sebaiknya saya mengantarkannya secara nyicil ke Balai Bahasa? Bukannya saya nggak mau ribet, tapi memang saya nggak mau ribet (nah loh). Nah, soal pengantaran itu… mari ke poin selanjutnya.
  3. Ketiga, apakah benar kalau saya hendak mendonasikan buku lagi, saya harus mengantarnya ke Balai Bahasa di Jalan Sumbawa dengan biaya dibebankan pada saya – yang berdomisili 20-26 Kilometer dari lokasi markas Satker itu?
  4. Keempat, yakin nih, hanya akan ada satu markas Satker perprovinsi – mengingat satu provinsi di Indonesia ada juga yang terdiri lebih dari satu pulau? Bagaimana kalau kelak Dede Aton, misalnya, hendak donasi buku. Apakah ia harus “mengantar” donasinya ke Kupang lebih dulu?

Bagi kengkawan yang paham, mohon bantu jawab. Kalau saya salah dan emosi duluan, mohon maaf. Kalau saya benar, mari kita “urus” di tulisan dan media yang lebih serius. Sekalian saya juga mau mempreteli alasan betapa mubazirnya konsep Satker itu.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup