Yang Segar-segar dalam Seni Kaligrafi Islam Kontemporer

 Yang Segar-segar dalam Seni Kaligrafi Islam Kontemporer

Catatan Pameran “ASEAN Contemporary Islamic Calligraphy Art Virtual Exhibition”

Apa yang Anda bayangkan tentang seni kaligrafi Islam? Mungkin sebagian Anda akan langsung teringat pada kaidah-kaidah klasik, katakanlah seperti Farisi dan Tsulutsi yang njelimet; atau terlintas gambaran jalinan huruf-huruf Arab jenis dekoratif di dinding masjid atau mushaf Alquran dengan ornamentasi meliuk-liuk. Imajinasi itu lumrah belaka karena memang seni kaligrafi sudah lama identik dengan penampilan berkarakter semacam itu.

Namun, saat memasuki ranah seni rupa modern atau kontemporer (dalam pengertian lebih luas sebagai kekinian), bayangan lama tentang seni kaligrafi tersebut bisa jadi bergeser atau malah buyar. Dalam perkembangan mutakhir, penampilan seni kaligrafi semakin segar, bahkan sebagian mungkin rada “liar”. Tidak saja menerabas berbagai batas-batas konvensional gaya kaidah klasik atau melepaskan diri dari pakem-pakem lawas, para seniman lebih jauh juga menjajal atau bereksperimen dengan unsur-unsur visual yang lebih anyar.

Zaman berubah, dunia bergerak cepat, masyarakat bergeser. Jika tak ingin kehilangan relevansi dengan kenyataan, maka seni juga dituntut mampu beradaptasi dengan peralihan itu. Adaptasi membuka peluang-peluang atau kemungkinan-kemungkinan baru untuk mengembangkan estetika visual.

Kurang-lebih semangat kesegaran itu terasa pada Pameran “ASEAN Contemporary Islamic Calligraphy Art Virtual Exhibition”. Pameran diikuti 92 peserta dari empat negara. Sebanyak 70 seniman di antaranya berasal dari Indonesia, 14 dari Malaysia, empat dari Brunei Darussalam, dan empat seniman dari Singapura. Mengambil tema “Colour Changes The World”, pameran ini digelar selama bulan Ramadhan 1442 Hijriyah, yaitu 11 April sampai 11 Mei 2021.

Mengikuti protokol pandemi Covid-19, pameran digelar secara virtual. Seluruh karya tidak dipajang dalam satu ruangan nyata di galeri atau ruang pamer, melainkan dirangkum dalam satu katalog digital format PDF, dalam bentuk 3D interaktif, dan format video. Semua itu dapat diakses memalui www.asean.islamicartexhibition.com. Di situs itu, publik dapat melihat-lihat profil seniman, catatan biografi ringkas, beserta foto-foto karyanya.

Mencermati karya-karya tersebut, terasa bahwa para peserta menyajikan karya yang beragam. Beragam dalam metode kerja, pendekatan visual, dan hasil akhirnya. Dengan diikuti hampir 100 seniman, maka pameran juga banyak mengajukan tawaran visual. Menatap lembar demi lembar katalog digital, karya demi karya, kita seperti diajak bertamasya dalam variasi seni kaligrafi. Setiap bentuk mewaliki selera dan inklinasi masing-masing seniman.

Lalu, bagaimana cara menikmati rentetan karya yang beragam dan dalam jumlah banyak itu? Juga, di mana persisnya kekuatan kesegarannya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, sekaligus mempermudah pembacaan, coba kita pilah-pilah karya di sini. Pemilahan berdasarkan bentuk kaligrafi, wujud visual sebagai latar belakangnya, teknik pengerjaan, serta kaitannya dengan kaidah-kaidah baku (al-qawaid al-manshubah). Setelah dirunut, setidaknya ditemukan tujuh kelompok visual, yaitu kelompok visual berkecenderungan abstrak, ekspresionis, dekoratif, realis-figuratif, landskap-naturalis, surrealis, dan visual bergaya klasik.

Tujuh kelompok visual
Kelompok abstrak merujuk pada karakter lukisan abstrak secara umum (dengan sejarah berpangkal pada seni rupa di Amerika tahun 1940-an), yaitu tidak mengacu pada bentuk-bentuk nyata di alam (non-representatif). Elemen visual terbebas dari tiruan obyek-obyek sehari-hari. Seniman fokus mengarap elemen-elemen visual (seperti garis, bentuk, bidang, warna). Di Indonesia, seniman dalam kelompok ini kadang memanfaatkan tekstur untuk memperkuat aksen.

AD Pirous, bapak “lokomotif” seni lukis kaligrafi modern di Indonesia sejak tahun 1970-an, mewakili kecenderungan ini. Dia banyak mengolah jalinan kaligrafi, umumnya dengan tekstur, dalam gugus-gugus bidang, garis, dan warna yang menawan. Kekuatan desain grafis membuat lukisannya bercitra modis.

Dalam kelompok ini, ada juga Syaiful Adnan. Pelukis ini lekat dengan kaligrafi bergaya Syaifully dengan anatomi huruf berkarakter rancak, dinamis, lentur, meliuk, runcing. Gajala abstrak juga terasa dari karya sejumlah seniman lain, katakanlah seperti Fadjar Sutardi, Miftahul Khoir, dan Popi Andri Harahap.

Kelompok berkecenderungan visual ekspresif sebenarnya juga bisa berangkat dari abstrak, tetapi kemudian lebih memberi ruang bagi pengungkapan emosi spontan. Kaligrafi kerap diulang, repetitif, demi mencapai ekspresi tertentu sehingga terkadang menjadi sulit terbaca. Demi mencapai ekspresi yang kuat, huruf-huruf kaligrafi kadang kurang terbaca.

Dari kelompok ini, dapat disebut Agus Baqul. Lukisannya mengandalkan repetisi huruf-huruf kaligrafi secara ritmis, dalam sapuan antara jelas dan buram, timbul-tenggelam, sehingga tampak antara kaligrafi yang terbaca dan kaligrafi yang kabur. Pendekatan repetisi juga ditekuni S Handono Hadi dengan mengulang kaligrafi pendek sehingga membentuk kerumunan huruf yang “mengalun”. Begitu pula M Arif Syukur yang getol membaurkan atau menumpuk huruf secara bebas. Termasuk dalam kecenderungan ini, Anwar Syamsuddin, Ilham Khoiri, Syahroni, dan Abdul Ghofur (Malaysia).

Para pelukis yang bersemangat dekoratif umumnya gemar mengolah kaligrafi dalam kepungan ornamentasi warna-warni. Sumber dekorasi itu bisa menambil inspirasi dari arabesque (dekorasi khas Timur Tengah), pola geometri, atau stilasi dari tradisi lokal seperti batik atau wayang.

Ki Lutfi Caritogomo dan Ummi Sholikha, adalah dua pelukis yang sama-sama mengolah unsur dekoratif wayang sebagai bagian dari kaligrafinya. Unsur dekoratif juga terlacak pada karya Abdul Jalil Hawary, Amir Syarif, Rifatul Anwiyah, Nur Azlin Hamidon (Malaysia), Norazlan Ahmad (Malaysia), Ainu J Yacoob (Malaydia), Khairol Helmy (Brunei Darussalam), dan Fahmy Said (Singapura).

Kecenderungan realis-figuratif menunjukkan hasrat seniman untuk menampilkan kaligrafi dalam figur-figur manusia. Jalinan huruf kaligrafi dikemas bersama gambar figur manusia atau hal ihwal terkait citra manusia. Pilihan ini membuat kaligrafi menjadi bagian dari kehidupan manusia atau “manusiawi.”

Ambil contoh, lukisan Sys Paindow, yang menggambar topi resmi gubernur dengan latar belakang kertas bertuliskan Surat Al Maidah. Dengan judul “The Story of Al Maidah 51”, lukisan ini mengingatkan kita pada kasus yang menyeret mantan gubernur DKI Jakarta kala itu. Dengan mengangkat ikon sederhana tapi mengena, lukisan memantik memori tentang peristiwa politik dan hukum di Indonesia beberapa tahun silam, lengkap dengan kontroversinya.

Dengan pendekatan agak serupa, Noor Rahman Zaini (Singapura) juga menampilkan sosok manusia yang duduk tepekur di atas kursi. Di belakangnya, berdiri gagah kaligrafi “embossed” (bercitra timbul) berbentuk “Allah.”

Masih dengan dasar realis, tetapi gambaran realis itu kemudian ditautkan dengan obyek lain secara tidak lazim, maka lahirlah kecenderungan surrealis. Obyek-obyeknya nyata, tetapi kerap dipadu-padankan secara ganjil sehingga lebih terlihat bagai alam khayal atau imajinasi dari jagat antah berantah. Pangkal mazhab ini merujuk pada sejarah surealisme dalam seni rupa di Eropa tahun 1920-an.

Tersebutlah dalam kelompok ini, pelukis Said Akram. Dia mengembangkan kaligrafi berbentuk mirip tetesan air, teapi dengan warna-warni pekat. Acap kali jalinan kaligrafi itu muncul dari celah-celah onggokan karang di tengah laut. Suasananya dingin, agak misterius, persis suasana air di pedalaman samudera.

Beberapa seniman lain juga punya gaya serupa. Sebut saja, antara lain, D Sirojuddin AR, Badrus Zaman, Suharno El Faiz, Tulus Warsito, atau Melsa Oktaviani, M Zulkifli bin Yusoff (Malaysia), dan Adi Zain (Brunei Darussalam). Di tangan mereka, kaligrafi tampak hidup dalam alam mimpi. Sebagian pelukis sering mengemas kaligrafi serupa ukiran yang ditatahkan di atas batu, lengkap dengan kesan retak-retak.

Dalam tatanan landskap-naturalis, seni kaligrafi dimasukkan dalam bentang pemandangan alam. Jalinan kaligrafi diolah, dihadirkan, dan kadang juga disarukan di tengah semesta. Huruf-huruf bisa menjelma bagai awan di langit, akar yang menjulur-julur, pepohonan, air, atau benda-benda lain.

Karya semacam ini mengingatkan kita pada kecenderungan sebagian lukisan kaligrafi kontemporer pada Musabaqah Khattil Quran (MKQ). Kaligrafi dibuat menyatu atau menyaru sebagai akar pohon, air, atau langit. Untuk kategori ini, dapat disebut beberapa seniman, seperti Zen Ahmad, Camil Hadi, Ahmad Sholeh, dan Akhmad Mansur.

Kaligrafi bergaya klasik mudah ditandai karena menjunjung bentuk-bentuk dasar klasik, seperti Tsulust, Dewani, atau Farisi. Meski sebagian visual dimainkan secara lebih luwes, tetapi kuda-kuda huruf kaligrafinya berdiri kokoh pada kaidah baku. Untuk katergori ini, tersebutlah karya Isep Misbah, Hurip Prayogi, Syah Tumin (Malaysia), Asyriadie (Malaysia), dan Awang Zamady (Brunei Darussalam).

Tentu saja, identifikasi dalam tujuh kelompok kecenderungan visual ini tidak bersifat final karena memang belum sepenuhnya mampu merangkum keunikan setiap gejala visual. Ada kemungkinan beberapa karya memiliki satu-dua kelompok kecenderungan visual sekaligus, atau tidak sepenuhnya cocok ditempatkan dalam satu kelompok tertentu. Bisa juga ada pelukis atau kaligrafer yang gemar melompat-lompat dari satu kecenderungan ke kecenderungan lain. Penyebutan nama sejumlah seniman dalam kelompok-kelompok itu pun sebagai sampel alias perwakilan.

Meski demikian, setidaknya pengelompokan itu memudahkan kita untuk mengidentifikasi kecenderungan visual dalam seni kaligrafi kontemporer di Indonesia—mungkin juga sebagian Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Bacaan ini pada akhirnya memperlihatkan keberagaman visual, semangat, dan kebebasan seniman dalam mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Bagaimanapun, seni ini masih sangat terbuka utuk terus dieksplorasi sesuai semangat zaman.

Islam yang Indah
Lalu, setelah menikmati perayaan keberagamam seni kaligrafi Islam, apa pentingnya pameran ini dalam konteks kehidupan zaman sekarang?

Pameran ini memperlihatkan daya kreatif para seniman yang tetap “berdenyut hidup” di tengah pandemi Covid-19. Para seniman serasa dikurung selama setahun lebih sehingga tidak leluasa bergerak, bertemu banyak orang, termasuk sulit menggelar pameran secara tatap muka. Namun, semua itu tidak mematahkan semangat untuk tetap berkarya dan berpameran bersama. Tidak terpuruk meratapi nasib yang dibekap protokol kesehatan ketat, para seniman berusaha untuk melampaui keadaan sulit ini.

Hasil usaha itu adalah pameran ini. Lewat pametan ini, eksplorasi visual dari para seniman akhirnya dapat dinikmati publik, meski sementara masih secara virtual. Siapa pun boleh bertamasya dalam keelokan jalinan seni kaligrafi yang diolah dalam berbagai kemungkinan estetis dalam pameran ini. Semua itu menawarkan hiburan segar di tengah hari-hari yang sumpek selama pandemi.

Dalam konteks sosial-politik terkait Islam zaman sekarang, terutama setelah kasus-kasus terorisme di Indonesia, pameran ini juga bermakna penting. Baru-baru ini, tepatnya 28 Maret 2021, sepasang suami istri meledakkan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan. Keduanya tewas dan 20-an orang terluka. Tiga hari kemudian, seorang perempuan bersenjata air gun menyerang Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia di Jakarta Selatan. Dia tewas ditembak polisi di tempat.

Kasus ini sekali lagi memperlihatkan paradoks praktik keagamaan. Hasil pengusutan polisi menunjukkan, dua serangan teror itu diduga kuat terkait jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD), kelompok yang terafiliasi ke organisasi global Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Artinya, masih menggeliat sel-sel dari organisasi yang menempuh jalan kekerasan demi mencapai tujuan dengan mengatasnamakan Islam.

Padahal, kita memahami, ajaran Islam sangat menekankan perdamaian. Kata “Islam” berakar dari kata “salam”, yang berarti damai. “Salam” pun terus kita ucapkan berulang-ulang dalam setiap shalat atau saat berjumpa orang. Lantas, kenapa ajaran Islam yang bersmangat damai itu dapat disimpangkan untuk gerakan terorisme? Ada banyak teori dan analisis dalam soal ini.

Untuk menujukkan keselarasan antara ajaran damai dan praktik perdamaian, perlu lebih banyak ditujukkan bukti-bukti nyatanya. Salah satu buktinya terbaca jelas dalam karya seni kaligrafi yang
menampilkan keindahan. Ini adalah dimensi madani (keadaban) Islam yang indah, dan ramah. Dimensi estetik ini perlu terus digaungkan untuk mengimbangi dominasi dimensi politik (siyasah) dan dimensi hukum formal ¬(fiqh).

Pameran “ASEAN Contemporary Islamic Calligraphy Art Virtual Exhibition” menyajikan semangat “salam” dalam Islam: damai, ramah, dan indah. Keragaman visual dan warna-warni—sesuai tema “Colour Changes The World”—memperkuat spirit untuk menghargai kemajemukan dunia. Ayat-ayat Al Quran atau matan hadis Nabi Muhammad SAW dalam jalinan seni kaligrafi menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa berpikir dan berperilaku indah.

“Inna Allah jamilun yuhibbu al-jamal.” Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. (HR Muslim).

Bagikan yuk

Ilham Khoiri

Wartawan, pelukis, dan dosen DKV Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.