Bagian II

Percakapan-percakapan getir

.

.

Yang maha getir bukan kematian

Lalu apa?

Ketakpahamanmu akan hakikat mati

Apa mati menurutmu?

Seperti kau tak pernah dilahirkan

Dan kau tak pernah menatap tikus sebagai tikus binatang pemakan kertas dalam rak rak bukumu

Lalu apa lagi?

Kau akan rasakan dan tak punya waktu untuk membagi rasa itu

Apa nasehatmu?

Kau harus siap mati di saat kamu paling tidak siap menerimanya

2021

 

Lewat tengah malam

Dan rasa getir tak pernah padam

Aku belum mati

Tapi aroma kematian terus mengetuk di balik ponselku

diam-diam Aku rindu perjumpaan

Tapi bukan mati dalam kegetiran. Ah manusia….getir lan khawatir

2021

 

Bedebah…

Ini malam sungguh jahanam

Tak ada kabar baik

Buruk menyeruak sampai tulang yang sudah lelah menyanggah

.

.

Shaf panjang dan terus memanjang

Seperti antrian tak pasti

Gelisah dan isi kepala ratusan juta orang itu: kegetiran yang lebih besar dari bayangannya.

.

Orang orang kampung bertanya: ada gawean kah di kota? Di sana? Apa saja mau. Sudah tak mampu bertahan.

Tetangga rumah pun demikian.

Getir dalam dan luar

Terang dan tersembunyi

.

.

Dan kau sibuk mewarnai udara

Dan kau peduli pada ukiran dalam air di sungai.

“Malam bedebah

Malam jahanam”

Umpat kepala.kepala yang sedang getir.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

David Efendi

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan pendiri LibgenSpace serta aktif di Kader Hijau Muhammadiyah

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link