Saat Komunitas Literasi Berkebun: Tanam Pohon Tin, Panen Rambutan

Oleh: David Efendi*

Suatu pagi yang cerah, aku bangun dari salah satu ruang yang dapat dibilang ‘kamar tidur’ di Rumah Baca Komunitas di Kawasan sub urban Jogja. Tiga laki-laki sudah bergiat di halaman markas komunitas literasi ini: ada yang menyapu kebun, ada yang menyiram tanaman yang jumlahnya ratusan di samping kanan kiri rumah dan halaman depan rumah kontrakan. Bergiat pagi hari dan ‘menghidupi’ tanaman adalah tindakan berani sekaligus tindakan mulia yang patut dilestarikan. Di lain kesempatan, yang berkebun jauh lebih banyak. Ada yang mencangkok, ada yang membenam biji, mengganti pot yang lebih besar, memindahkan tanaman agar dpaat lebih banyak gizi dari sinar matahari agar lebih paripurna proses fotosintesis, lebih segar daunnya, dan lebih besar buahnya. 

Sejak tahun 2014, pegiat komunitas ini sudah membangun kebun yang mandiri, kini dinamai kebun ekoliterasi untuk belajar menanam, mengamati tanaman, membuat eksperimen Teknik bertanam: vertikultur, hidroponik, dan permakultur yang terus diujicobakan. Walau kadang tak semua hal berhasil, setidaknya dapur pernah hidup dari kebun sendiri dengan segala keterbatasan. Tanah yang tak luas, tetapi dipenuhi semangat menanam dan mencoba berkebun secara lebih baik. Sering juga pegiat menggunakan tutorial dari internet untuk mencoba Teknik tertentu. Ini Namanya ekoliterasi—bagaimana sumber daya informasi dapat membantu tindakan merawat lingkungan hidup. 

Di Jogja, sudah banyak komunitas literasi yang berurusan dengan tanam menamam alias ekoliterasi walau skala berbeda dengan eksistensi kegiatan berkebun/menanam yang pernah dilakukan beberapa pesantren atau komunitas di daerah. Point pentingnya adalah keberanian belajar, mencoba, membangun habitus ekoliterasi, memperkuat kesadaran akan lingkungan hidup dan konservasi. Keberadaan komunitas literasi berkebun ini sangat penting diapresiasi dan diperluas sebab keberadaan lingkungan dan manusia (literated) itu tak terpisahkan. Betul itu, bagaimana kita bisa dikatakan makluk yang terpisah dengan tanaman? Dengan air?udara? material yang disebut non-human (non-manusia) jelas ada dalam tubuh kita, bahkan di dalam otak manusia. 

Jadi, menjadi ecoliterated itu artinya tidak memisahkan antara kehidupan lingkungan dengan manusia seutuhnya. Seorang yang punya daya pengetahuan yang baik ya seharusnya menghargai tabiat alam, mencintai kehidupan dalam ekosistem hidup yang terus dilakoni tanpa jeda. Kalau alam raya istirahat sebentar saja dari urusan manusia, itu artinya sudah qiamat. Jika komunitas literasi sudah unggul, mereka juga akan berfikir tentang konservasi sebagai daya transformasi manusia yang telah diberikan akal dan kebudayaan dalam hidupnya.

Sehar-hari, pegiat RBK secara alamiah memperdulikan lingkungan kebun sekitar dengan upaya masing-masing. Aktifitas ini menjadi amalan ekologis bagi komunitas literasi. Menjadi ekologis adalah peduli dalam keseharian—termasuk juga peduli pada kerusakan alam yang disebabkan oleh industry,tekhnologi, ekonomi pasar yang menjadikan berbagai petaka dan patogen terhadap kesehatan bumi. Orang orang yang melek ekologi belajar menjadi penduduk bumi yang baik, bukan hanya warga suatu kampung, warga daerah, atau penduduk suatu negara. Kesadaran ini sering diwacanakan dalam komunitas sehingga loyalitas seseorang yang telah banyak mengambil dari bumi, adalah loyalitas yang autentik untuk memberikan apa yang berguna bagi kesejahteraan non-manusia dan manusia sebagai dwi tunggal—satu tak terpisahkan, berbeda beda tetapi tetap satu jua.

Kejadian menarik dalam judul tulisan ini (pakai hehehe): sudah lebih dari setahun menanam pohon Tin jumlahnya ratusan dan sudah banyak diberikan kepada komunitas, teman komunitas, pegiat literasi lain sebagai souvenir kenangan berinteraksi dengan RBK. Bulan ini di kebun RBK ada tiga pohon besar rambutan, dan kini sudah panen walau kami tak pernah menanam tiga pohon di rumah kontrakan komunitas ini. Tentu saja kami bahagia, berjibagu berkebun apa saja macam macam tanaman, puji Tuhan, alhamdulillah kami dihadiahi buah rambutan yang banyak. Berkebun pohon tin, memanen buah rambutan. Inilah nikmat tuhan yang tak pernah kita dustakan, bukan?

Pesan akhirnya begini. Jadi, menanam tak selalu untuk ego penanam karena menamam apa pun itu pasti ada daya guna dan manfaatnya. “tanamkah bibit yang ada di tanganmu walau kamu tahu besok itu hari kiamat”, pesan Nabi Muhamamd yang sangat penting di zaman di mana planet semakin rusak. Jika tanaman itu dimakan binatang buas atau burung, itu adalah sedekah (dari beberapa hadis). Karena sudah banyak kekuatan teologis untuk memberi semangat komunitas berkebun, ada baiknya kita mulai secepatnya untuk berinvestasi untuk kemaslahatan dan kesejahteraan lingkungan hidup. Kepada komunitas literasi yang tekun berkebun dan menanam serta diet plastik, semoga kelak akan menjadi manusia yang bermakna dan berguna bagi kebaikan planet di mana manusia benar-benar tergantung kepadanya.

*Relawan RBK berkebun, Ketua Serikat Taman Pustaka.

Mari Berbagi

1 thought on “Saat Komunitas Literasi Berkebun: Tanam Pohon Tin, Panen Rambutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup