Rachel Carson, Mother of Environmental

 Rachel Carson, Mother of Environmental

Sumber: pbs.org

Rachel Louis Carson atau yang lebih dikenal dengan Rachel Carson adalah pelopor gerakan pelestarian lingkungan modern. Selain menjadi inisiator gerakan pelestarian lingkungan modern, perempuan kelahiran Pennsylvania, Amerika Serikat, 27 Mei 1907 tersebut juga dikenal sebagai ahli biologi kelautan dan penulis buku-buku tentang konservasi alam.

Carson memulai karirnya sebagai biolog di US. Bureau of Fisheries, ia juga pernah bekerja di Woods Hole Marine Biological Laboratory di Massachusetts dan mengajar di University of Maryland dan Johns Hopkins. Selanjutnya, pada tahun 1936, ia mengambil pekerjaan sebagai penulis di Biro Perikanan Amerika Serikat di Washington DC untuk menulis artikel mengani kehidupan laut.

Selama bertahun-tahun ia dipromosikan menjadi staf ahli biologi, dan pada tahun 1949 ia diangkat menjadi pimpinan redaksi publikasi Fish and Wildlife Service. Tetapi pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Fish and Wildlife Service tidak bertahan lama, ia harus mengundurkan diri pada tahun 1951 untuk tetap menulis.

Berangkat dari kebiasaan masa kecilnya yang sering menulis cerita-cerita pendek, maka Carson mulai menulis majalah tentang sains untuk menambahkan penghasilannya. Alhasil, pada tahun 1941 ia berhasil mengadaptasi salah satu artikelnya menjadi sebuah buku dengan judul Under the Sea Wind, dimana ia mencoba mengomunikasikan keindahan dan keajaiban lautan.

Perempuan yang pernah menerima penghargaan National Book Awards tahun 1951 untuk karya non-fiksi ini pernah menerima laporan dari salah satu rekannya yang menjelaskan bahwa telah terjadi kerusakan di cagar alam burung pribadi miliknya di Massachusetts akibat pemberian pestisida dalam rangka pengendalian nyamuk di negara bagian itu. Walaupun demikian, Carson sebenarnya telah lama menyadari bahaya dari penggunaan racun kimia terhadap kondisi lingkungan, tetapi ia belum menemukan bukti yang kuat untuk argumen yang bergejolak di dalam pikirannya itu.

Atas dasar itu, Carson pun mulai bergerak menyuarakan dan menentang praktik penggunaan pestisida berbahaya, ia tahu bahwasanya pikirannya ini akan melahirkan perdebatan di kalangan masyarakat. Karena, hampir seluruh sektor pertanian sudah sangat bergantung pada penggunaan bahan-bahan kimia tersebut untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

Tetapi, setelah melakukan penelitian di Amerika dan Eropa selama beberapa tahun, Carson tetap konsisten untuk menyuarakan akan bahayanya penggunaan bahan-bahan kimia. Bahkan, pada tahun 1962, ia menerbitkan sebuah buku fenomenal yang menguraikan berbahayanya bahan-bahan kimia. Silent Spring, sebuah buku yang sangat berpengaruh terhadap kebijakan penggunaan pestisida di Amerika Serikat kala itu.

Silent Spring, Narasi Ekologi Rachel Carson

Silent Spring merupakan salah satu karya paling masyhur dan menjadi pusat perhatian dunia dari seorang Rachel Carson yang diterbitkan pada tahun 1962. Buku tersebut merupakan hasil penelitian yang mengulas tentang efek merugikan dari pestisida – penggunaan bahan-bahan kimia – terhadap air, tanah, dan udara.

Kehadiran buku Silent Spring memberikan efek yang tidak main-main. Tulisan-tulisan Carson terkait lingkungan hidup memberi pengaruh yang luas bagi publik. Bahkan, buku Silent Spring disebut sebagai inisiator gerakan lingkungan modern dan pengembangan Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency) Amerika Serikat.

Buku yang diterbitkan dua tahun sebelum kematiannya akibat kanker payudara yang dideritanya kini menjadi warisan abadi seorang Rachel Carson sebagai salah satu pelestari lingkungan hidup paling berpengaruh di dunia sepanjang waktu.

The Silent Spring adalah panggilan moral untuk mempersenjatai dan dakwaan atas kekuasaan yang diambil manusia atas alam. Sebagai seorang ilmuwan alam, Carson mengisyaratkan kebodohan manusia dalam mencoba mengendalikan alam: “Manusia adalah bagian dari alam, dan perangnya melawan alam adalah perang melawan dirinya sendiri.

Rachel Carson percaya bahwa kesehatan manusia merefleksikan keadaan lingkungan. Jika dunia modern direpotkan dengan mewabahnya virus-virus ganas, ia menunjukan bahwa lingkungan kita sedang tidak baik-baik saja. Penyakit, virus, kuman, akan muncul menginvasi ruang hidup manusia karena mereka kehilangan rumah akibat habitat yang rusak. Dengan kata lain, ketika manusia mengambil resiko demikian besar dalam usaha-usaha untuk membentuk alam demi kepuasan manusia, namun gagal dalam mencapai tujuannya sudah barang tentu akhirnya merupakan sebuah ironi.

Dalam kebanyakan kasus, monokultur di tanam di area yang terbakar. Praktik-praktik ini merusak keseimbangan ekologis, mengikis tanah, dan membuat pertanian sangat rentan terhadap hama (yang menyebar karena kenaikan panas, dan seran­gan hama pohon yang melemah di daerah tetangga). Mengikuti logika apa yang disebut sebagai produksi efisien, semakin banyak pupuk kimia dan insektisida digunakan, yang meracuni tanah dan air. Seringkali, area yang ter­bakar juga digunakan untuk budidaya ternak atau untuk produksi tanaman hijauan seperti kedelai dan jagung untuk ternak, yang menambah masalah.

Kekhawatiran yang dirasakan oleh Carson akan hasil-hasil pertanian yang telah terkontaminasi dengan zat-zat pestisida, secara tidak langsung membawa dampak buruk bagi kelangsungan kehidupan mahluk hidup di Bumi, termasuk manusia itu sendiri. Unsur-unsur kimia yang terkandung dalam pestisida tidak dapat dengan mudah dihancurkan. Unsur-unsur itu bahkan terakumulasi melalui rantai makanan dan tersebar melalui ekosistem. Bersamaan dengan pupuk nitrogen, pestisida juga dapat membahayakan kesehatan petani dan buruh tani.

Selain itu, dalam skala global, penggunaan pupuk kimia telah mendegradasi tanah yang digunakannya sehingga bentuk pertanian ini hanya dapat dipraktikkan untuk sekitar lima puluh fase panen lagi. Setelah itu, tanah untuk budidaya makanan tidak bisa lagi digunakan. Pengembalian ke sistem pertanian berbasis pupuk or­ganik tidak dapat dihindari – ini adalah pertanyaan “kapan”, bukan “jika”.

Melalui Silent Spring, Carson telah mengingatkan bahwa planet tak akan lagi seindah dibanding setelah kita mendesain kerusakan alam demi keserakahan. Burung-burung tak akan terdengar bernyanyi lagi ketika pagi. Suara-suara hewan liar akan hilang karena habitatnya kita rebut. Musim semi akan menjadi sunyi. Kelak, kesunyian itu tak hanya karena bumi kehilangan kicau burung, tapi mungkin juga suara manusia.

Buku yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Musim Bunga Yang Bisu (1990) tersebut secara gamblang menjelaskan bahwa:

“Vegetasi bumi merupakan bagian dari jalinan kehidupan di mana terdapat hubungan yang akrab dan penting antara tanaman dan tanah, antara tanaman dengan tanaman, antara tanaman dengan hewan. Kadang-kadang kita terpaksa merusak hubungan ini, tetapi walaupun demikian kita seharusnya melakukan hal ini dengan bijaksana dan dengan lebih sadar, bahwa apa yang kita lakukan itu mempunyai akibat yang lebih jauh di hari depan pada suatu waktu dan tempat tertentu.

 Tetapi kebijaksanaan sedemikian ini tidak kita jumpai pada usaha produksi “obat pembasmi gulma” yang berhasil dewasa ini, di mana penjualan yang memuncak dan penggunaannya secara meluas merupakan sasaran produksi bahan-bahan kimia pembasmi tanaman”

Silent Spring tidak hanya menggugah kesadaran masyarakat Amerika tentang kontribusi pestisida terhadap hancurnya ekosistem seperti matinya flora dan fauna termasuk terganggunya kesehatan manusia, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan sekaligus motivasi mereka untuk melakukan aksi konkret meminta pemerintahnya melakukan tindakan drastis menghentikan penggunaan pestisida sebagai cara membasmi hama. Akhirnya, fenomena Silent Spring dapat memfasilitasi larangan dari pestisida DDT pada tahun 1972 di Amerika Serikat.

Musim Bunga Yang Bisu, terjemahan The Silent Spring karya Rachel Carson ke dalam Bahasa Indonesia

The Silent Spring adalah panggilan moral untuk mempersenjatai dan dakwaan atas kekuasaan yang diambil manusia atas alam. Sebagai seorang ilmuwan alam, Carson mengisyaratkan kebodohan manusia dalam mencoba mengendalikan alam: “Manusia adalah bagian dari alam, dan perangnya melawan alam adalah perang melawan dirinya sendiri”. Sebagai pecinta alam, dia ingin membunyikan alarm untuk melindungi bumi yang hidup.

Di bagian akhir bukunya ia menjelaskan bahwa “pengendalian alam” adalah suatu ucapan yang disusun dalam kesombongan, lahir dari biologi dan filsafat zaman Neanderthal, ketika ada anggapan bahwa keberadaan alam adalah untuk menyenangkan manusia.

Konsep-konsep dan praktek-praktek ilmu serangga terapan sebagian besar lahir dari ilmu pengetahuan zaman batu, merupakan kemalangan yang menimbulkan kekhawatiran kita pada ilmu pengetahuan yang demikian primitif telah mempersenjatai diri dengan senjata-senjata yang paling modern dan sangat menakutkan itu, dan dalam menghadapkan senjata-senjata ini melawan serangga-serangga, secara tidak langsung kita juga menghadapkannya merusak bumi ini.

Ia juga mengungkapkan secara gamblang dalam Silent Spring bahwa ketika bahan-bahan kimia dalam abad industri datang melanda lingkungan kita, suatu perubahan drastis telah terjadi menyangkut masalah-masalah kesehatan masyarakat yang paling serius. Baru saja kemarin manusia hidup dalam ketakutan karena bencana penyakit cacar, kolera, dan wabah yang pernah melanda bangsa-bangsa lain yang hidup sebelum mereka.

Sekarang ini kekhawatiran kita bukan lagi pada organisme-organisme yang pada suatu ketika ada di mana-mana itu; kebersihan, kondisi kehidupan yang lebih baik, dan obat-obatan baru telah memberikan kepada kita suatu tingkat pengendalian yang tinggi terhadap penyakit menular. Dewasa ini kita menghadapi jenis bahaya lain yang mengintai lingkungan kita. Suatu bahaya yang kita datangkan sendiri di dunia kita pada saat berkembangnya kehidupan modern kita.

Bagikan yuk

Arifin Muhammad Ade

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.