Perempuan BerEco Jihad demi Selamatkan Generasi

 Perempuan BerEco Jihad demi Selamatkan Generasi

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّن الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-A’raf/7: 56)

Berdasarkan bunyi ayat di atas, manusia diperintahkan agar menjaga bumi dengan cara tidak melakukan kerusakan yang didalamnya mengandung perintah larangan (untuk tidak berbuat kerusakan di bumi) dimasa sekarang maupun di masa mendatang.  Allah SWT menegaskan bahwa rahmat-Nya atau kasih sayang Tuhan dekat sekali dengan orang-orang yang berbuat baik, bukan pada mereka yang membuat kerusakan.   

Dalam konteks saat ini, menjaga lingkungan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh umat. Dampak yang sangat besar dan terus terjadi karena krisis iklim tidak bisa di tangani dengan biasa – biasa saja, namun harus segera dilakukan dengan segera. Perbuatan baik disini adalah melakukan kegiatan saat ini dengan menempatkan lingkungan sebagai sebuah meanstream dan juga melakukan koreksi terhadap perlakukan yang salah dimasa lalu.

Ibu Bumi yang makin terluka

Laporan IPCC pada Agustus 2021 yang dihasilkan oleh lebih dari 200 ilmuwan dunia menyatakan bahwa kondisi bumi sudah semakin mengenaskan dengan istilah “Code Red for Humanity”. Kondisi ini menyebutkan bahwa pemanasan global menjadi penyebab krisis iklim dan yang paling mengerikan  dalam 20 tahun kedepan berisiko tidak lagi dapat dikendalikan apabila kegiatan yang dilakukan hanya terbatas perlakuan biasa.  Penyebab kenaikan suhu tertinggi disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fossil, salah satunya industri pembangkit listrik yang mayoritas bahan bakarnya masih menggunakan batubara.

Apabila tidak bisa dikendalikan maka kenaikan suhu bisa mencapai 1.1 derajat Celcius. Hal ini bisa berdampak pada siklon tropis, banjir, dan musim kemarau yang semakin panjang penyebab kebakaran skala besar, tenggelamnya banyak pulau – pulau kecil, kerusakan karang karena memanasnya suhu air laut dan banyak lagi penderitaan terjadi. 

Ditanah air bencana karena krisis iklim terlihat nyata dari data BNPB. Sepanjang 2021 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebanyak 3.034 kejadian bencana terjadi. Dari angka itu terdapat gempa bumi 31 kali, erupsi gunung 1 kali, kebakaran hutan dan lahan 15 kali, banjir 1.279 kali, tanah longsor 621 kali, cuaca ekstrem 779 kali, serta gelombang pasang dan abrasi 43 kali. Banjir, longsor cuaca ekstrem, gelombang pasang dan abrasi adalah bencana hidrometerologi. Bencana ini disebabkan oleh utamanya karena dampak perubahan iklim.

Tidak hanya, bumi makin luka karena sering dipertaruhkan dengan berbagai kebijakan yang atas nama pembangunan justru malah melukai rakyat dan merusak lingkungan. Sebut saja berbagai perjuangan perempuan seperti Mama Aletta, Wadas dan Sikep.

Dalam kasus terkini, warga Desa Wadas melakukan aksi perlawanan atas akibat sengketa tanah warga untuk keperluan pembangunan Bendungan Bener, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pembangunan proyek Bendungan Bener merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dan sudah dimulai sejak 2013.  Proses dalam pembangunan proyek ini dimulai dengan pelibatan masyarakat desa yang ada di sekitar bendungan dan berlangsung secara berkala dan diperkirakan pembangunannya memerlukan 598 hektare tanah, dengan 10 desa yang akan terdampak.

Pada Selasa (8/2/2022), ratusan aparat gabungan TNI dan Polri mengepung desa Wadas dengan senjata lengkap dan bentrok bentrok tak bisa dihindarkan. Puluhan warga pun ditangkap oleh aparat dan digelandang ke Polres Purworejo. Menurut Kuasa hukum warga Desa Wadas, Julian Dwi Prasetya mengatakan, ada 64 warga yang ditangkap aparat dalam peristiwa itu. Meskipun pada akhirnya masyarakat dibebaskan namun masyarakat Desa Wadas sangat terluka atas tindakan ini. Banyak perempuan yang menjadi penopang keluarga dan penyemangat gerakan ini.


Tak hanya itu, Gunretno, perempuan tangguh berjuang melawan Pabrik Semen Gersik. Dia menjadi simbol bahwa perjuangan warga Kendeng menolak Pabrik Semen Gresik tak pernah padam, karena hadirnya pabrik semen dinilai akan menambah kerusakan resapan air yang ada di Pegunungan Kendeng. Stigma negatif yang sering kali ditimpakan kepada Komunitas Sedulur Sikep yang mempunyai pekerjaan sebagai petani, menjadi cambuk untuk menyatakan bahwa dengan bertani sudah bisa sejahtera. Ia juga menjadi Ketua Kelompok Kerja Forum Karst Sukolilo untuk penyelamatan Pegunungan Kendeng yang anggotanya terdiri atas para profesor dan doktor lima universitas, meski ia ia sendiri tak mempunyai pendidikan tinggi.  Gunretno menjadi penyambung lidah Sedulur Sikep hingga saat ini.

Perempuan dan Bumi

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman/31: 14).

Makna dari ayat ini, manusia diwajibkan untuk berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, dan ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Disini dimaknai bahwa Ibu mempunyai tempat istimewa.

Ibu Pertiwi, Gaia atau Mother Earth (Ibu Bumi), atau dengan sebutan lain yang bermakna perempuan atau ibu. Alam sebagai sebagai ibu. Jika alam disakiti, maka sakitlah sang ibu.

Bumi disebut dengan earth berasal dari kata Terra Mater, yaitu nama seorang dewi Yunani yang berarti mother earth atau ibu bumi.

Data PBB menyebutkan bahwa 80% perempuan menjadi kelompok terdampak adanya perubahan iklim, karena perempuan berperan sebagai perawat dan penyedia makanan. Sehingga akan memberi dampak pada pangan, lingkungan, kesehatan, energi, sosial budaya hingga perekonomian.

Dua contoh diatas merupakan bukti bahwa perempuan akan menjadi paling berani bila ada kedasaran pada dampak yang akan diterima pada dirinya, keluarga dan anak cucunya. Perempuan akan selalu berpikir tentang kehidupan generasi yang akan datang.

Kita harus sadari perempuan merupakan agen perubahan bagi keluarga dan komunitasnya. Perempuan juga memiliki potensi, pengetahuan, pengalaman dalam pengelolaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Maka, kondisi ini juga dapat menempatkan perempuan sebagai pihak yang memiliki kemampuan dan dapat berbuat sesuatu untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Eco Jihad

Kerusakan  bumi itu bukan takdir. Peringatan atas “Code Red for Humanity” sudah didengungkan dan apabila tidak dilakukan kerja-kerja yang sungguh maka kita akan mengalami krisis dan kerusakan bumi yang akan menghancurkan generasi yang akan datang.

Perempuan mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk menjadi garda terdepan dari Eco Jihad.   Eco Jihad adalah langkah juang yang harus segera di dengungkan, di lafaskan dalam ucapan dan hati lalu dilakukan dalam semua tata kelola, baik dalam komunitas, pemerintahan maupun pihak swasta.

Mengapa Eco Jihad ? Karena dampak perubahan iklim bukan tidak lagi bisa di tangani dengan biasa – biasa saja, namun ada keterdesakan untuk melakukan dengan segera. Ramadhan adalah bulan suci dimana kita semua lebih ‘wening dan berdialog dengan mata batin kita untuk berkatarsis dan menemukan makna dan cara yang paling tepat pada hal-hal penting disekitar kita. Ini menjadi moment yang tepat untuk melakuan revolusi pada pengelolaan lingkungan.

Bagi kita Eco Jihad adalah wujud dari ketauhid-an manusia sebagaimana firman Allah SWT

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. QS. Al-Baqarah Ayat 30

Surah ini kita maknai bahwa sebagai khalifah di bumi, manusia dilarang membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Makna kerusakan disini adalah tindakan perusakan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam, sementara pertumpahan darah dapat terjadi dalam bentuk konflik atau peperangan diantara sesama manusia. Menjaga bumi adalah sebuah perwujudan dari ketauhid-an seseorang dan bisa kita sangsikan ketauhidan seseorang apabila melakukan perbuatan merusak dan tiak menjaga lingkungan. Eco Jihad juga mengandung nilai keseimbangan dan adil dalam pengelolaan lingkungan. Dan tidak bisa ditunda lagi, Eco Jihad ini mari kita dengungkan dan kita implementasikan.


Bagikan yuk

Hening Parlan

Kepala Devisi Lingkungan Hidup, Pimpinan Pusat ‘Aisiyah, Fellow Green Faith International, Fasilitator the Climate Project Indonesia, LEAD Fellow

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.