Paradoks Ekologi (Catatan Kecil Ekologi yang tidak Ekologis)

 Paradoks Ekologi (Catatan Kecil Ekologi yang tidak Ekologis)

Pada jejak pertama menuju kehidupan (pertemuan sperma dan sel telur), hingga meninggal, setiap aktifitas manusia, tidak bisa lepas dari praktik-praktik yang mengorbankan alam! Akan ada beragam pertimbangan-pertimbangan paradoksal (pada titik yang paling ekstrem adalah eco-anxiety), untuk mengambil satu keputusan yang muaranya selalu mengorbankan alam. Kajian kekinian ekologi, yang kawin dengan seksualitas, melahirkan term baru, yakni ekoseksualitas. Membicarakan pertemuan sperma dan sel telur dalam hubungannya dengan perubahan iklim, adalah bidangnya term ini. Sementara ketika meninggal, pertimbangan akan membenturkan antara etika dan budaya manusia, serta perspektif teologis, dengan aspek ekologi. Dalam kuliahnya di Jurnal Perempuan bertajuk “Etika Lingkungan,” Rocky Gerung mengilustrasikannya dengan narasi pertimbangan ekologis yang paradoksal (dalam kacamata teologi dan etika kemanusiaan) oleh biksu Tibet dengan para murid. Tulisan ini, ingin menelaah sedikit tentang paradoks ekologi, dimana di satu sisi alih-alih kita bersuara untuk membela hak-hak lingkungan, namun di sisi lain justru berlaku sebaliknya.

Ekologi yang tidak Ekologis

Dalam beberapa dasawarsa belakangan, diskursus publik kian condong ke hal-hal yang berbau lingkungan. Dokumen-dokumen tentang ekologi, telah bertumpuk digaungkan oleh beragam golongan (kiri hingga kanan), mengatasnamakan hak dan etika lingkungan. Bahkan, beberapa tahun terakhir, lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan PBB, kerap mencetuskan istilah-istilah yang selalu diikuti dengan kata/term “hijau”. Ringkasnya, diskursus dan fakta ekologi mempengaruhi manusia untuk memindahkan siklus diskusi dari yang antroposentris ke yang biosentris. Tapi, apakah di era masyarakat industri, masihkah memungkinkan untuk menjadi seorang environmentalist yang benar-benar radikal (100%)? Secara tegas, saya mengatakan tidak! Karena, dalam setiap aktivitas yang dilakukan, faktor lingkungan selalu menjadi korban.

Tulisan ini, bahkan termasuk sebagai bagian dari praktik yang mengorbankan faktor lingkungan, karena harus melalui beragam aktifitas. Mulai dari proses penulisannya, pengiriman melalui email, hingga dicetak di atas kertas. Itupun terhitung dengan jumlah lembaran/eksemplar yang dicetak dan disebarkan. Secara paradoksal, dapatlah dianggap bahwa tulisan ini, adalah tulisan tentang ekologi yang tidak ekologis.

Pada jejak-jejak awal misalnya, laptop sebagai medium bermulanya tulisan ini dituangkan, berkontribusi sebagai sumber utama emisi karbon. Hasil penelitian Lotfi Belkhir dan Ahmed Elmeligi, berjudul “Assessing ICT Global Emissions Footprint: Trends to 2040 & Recommendations” dalam Journal of Cleaner Production, menemukan bahwa kontribusi relatif ICT (Information and Communication Technology) terhadap total jejak (karbon) global diperkirakan akan tumbuh dari sekitar 1% pada 2007 menjadi 3,5% pada 2020 dan mencapai 14% pada 2040. Lebih lanjut, pada saat tulisan dikirimkan melalui email, prosesnya akan memakan sekitar 0,0001% ton karbon, untuk setiap satu kali pengiriman. Statistik ini merupakan hasil perhitungan dari OVO Energy.

Tinta, pun dibuat dari tumbuhan dan hewan, yang artinya faktor lingkungan dikorbankan (antroposentris). Kertas dihasilkan dari tumbuhan, yang artinya harus ada pohon yang ditebang. Proses percetakan, membutuhkan mesin, yang artinya ada karbon yang dibuang. Itu belum terhitung dengan akumulasi indikator “destruktif” melalui proses pembuatan mesin cetak yang mengorbankan faktor lingkungan. Penyebaran kertas, juga mengonfirmasi jumlah pohon yang ditebang, serta berkontribusi sekian persen karbon yang dihasilkan dari kendaraan saat pengantaran, serta terganggunya ekosistem laut yang disebabkan oleh rutinitas kendaraan laut yang berlalu lalang lintas pulau karena jangkauan media cetak yang dilanggani lintas kabupaten/kota. Secara ringkas, dapat disimpulkan bahwa, bahkan untuk menghasilkan satu tulisan, beberapa indikator yang mengorbankan faktor lingkungan, sudah ikut berkontribusi.

Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan

Secara gamblang, dapat ditegaskan bahwa penerapan prinsip-prinsip ekologis, potensial lebih baik jika dilakukan oleh masyarakat pedesaan (rural) dibanding masyarakat kota (urban) -touch the reality-. Persentase mengorbankan lingkungan oleh masyarakat rural, akan lebih kecil dibanding masyarakat perkotaan karena memiliki jarak dengan modernitas, sebagaimana mengutip Anthony Giddens (2004: 9), bahwa masyarakat urban merupakan masyarakat yang lahir sebagai konsekuensi modernitas. Sebagai contoh kecil, pencaplokan lahan-lahan masyarakat adat/di desa, kebanyakan berangkat dari akumulasi kapital, yang lekat dengan term modernitas. Artinya, persentase pengrusakan lingkungan pun naik, dari yang tadinya sama sekali belum tersentuh modernitas. Produk-produk hasil teknologi, yang kebanyakan dalam pengoperasiannya kerap mengorbankan lingkungan, pun lebih dari tiga perempatnya lahir di kota.

Berbanding terbalik dengan masyarakat urban, masyarakat rural justru lebih peduli dengan lingkungan, karena mereka bersentuhan langsung dengan alam, pun diberi status sakral dan dipercayai secara kolektif (misalnya, sasi di Ambon). Masyarakat desa (pun kota), pada era industri sekarang, tak dapat dinafikan telah masuk dalam spektrum-spektrum yang pada muaranya akan selalu mengorbankan lingkungan. Yang paling realistis (bila tidak bisa disebut radikal), adalah memilih di antara satu, dengan mendahulukan yang persentasi mengorbankan lingkungnnya lebih kecil. Dalam hal ini, saya menganalogikannya dengan istilah “gali-tutup lubang”.

Pilihan yang Dikotomis (Gali-Tutup Lubang)

Saya membayangkan semacam kiasan atau simulasi di kepala, lewat istilah “gali-tutup lubang”. Misalnya, volume hasil galian A dengan massa 2 kg, lebih baik ditutupi dengan volumen 1,5 kg dibanding 1 kg atau tidak sama sekali. Atau, menanan sepuluh atau lebih pohon, setelah menebang satu pohon, dibanding tidak sama sekali. Paling banter, inilah yang bisa dilakukan, yakni dengan memilih salah satu diantara dua opsi pada satu aktifitas, yang memiliki dampak lingkungan lebih kecil. Contoh kecil, saat bepergian, kita bisa memilih untuk menggunakan kapal laut dibanding pesawat terbang, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Greta Thunberg. Dengan catatan, bila sangat mendesak atau keadaan mengharuskan. Konsekuensinya, prinsip ekologis kita, harus rela dikikis lebih besar. TABEA.

NB: Artikel ini sebelumnya sudah dipublish di Malut Post pada 9 Mei 2022

Bagikan yuk

Syamsul Bahri

Mahasiswa MIP UMY (Pembelajar Ilmu Lingkungan dan Studi Gender)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.