Neoliberalisme Kegemaran Indonesia

Oleh: Dafrin Muhsin)*

Judul: Indonesia For Sale

Penulis: Dandhy Dwi Laksono

Cetakan: Ketiga, Juli 2018

Penerbit: Penerbit Jalan Baru

Tebal: 333 Halaman

Ketika membaca pemikiran Dandhy Dwi Laksono lewat “Indonesia For Sale”,yang begitu kritis dan profokatif, mengigatkan kita bahwa Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Hal ini membutuhkan keseriusan berfikir untuk dapat melihta problem bangsa dengan jelas.           

Sebagai seorang wartawan yang bekerja untuk mencari data dan fakta, melalui percakapan ringan dengan supir taxi, petugas parkir, dan pengalamanya menyaksikan perlawanan kaum akar rumput. Megajak kita untuk memahami makna dari Neo-liberalisme serta dampaknya terhadap kehidupan umat manusia. 

Lelaki kelahiran, 29 Juni 1976 berkeyakinan, pengetahuan atas neo-liberal dan bahaya neo-liberalisme, melahirkan tindakan untuk memperbaiki tatanan yang semakin hari dikuasai oleh Rezim Neolib. Dimana kemiskinan kemelaratan dijadikan sebgai logika keberhasilan ekonomi.

Indonesia sebagi negara yang memiliki sumberdaya alam berlimpah, namun Rakyat tidak menikmatinya yang dinikmati adalah dampak limbahnya. Disebabkan karena kebijakan pemerintahan mengikuti mekanisme pasar bebas. Misalnya, pencabut subsidi BBM dimasa pemerintahan SBYdan naik turunya harga BBM karena mengikuti harga minyak mentah ditingkat global.

Sebagai negara penghasil, namun tidak mampu mengatur harga, malah sebaliknya menjadi korban atas permainan politik harga. Gambaran ini merupakan situasi jebakan structural neolib mengakibatkan terjadinya kemiskinan dan kemelaratan yang tidak berkesudahan.  .

Bahaya neo-liberalisme lainya adalah pembentuk konstruksi berfikir negara dan masyarakat dengan menanamkan ideology Komersialisasi “Kalau bisa mendapatkan uang kenapa harus di gratiskan” Sehingga seharusnya menjadi prioritas pelayanan publik, dikomersialisasikan untuk kepentingan ekonomi (Bissnsis)melalui eksploitasidemi terciptanya akumulasi modal dan keuntungan yang sebesar-besarnya. 

Semuanya harus serba berbayar, tempat parkir bayar, ke toilet harus bayar dan lebih mengerikan lagi adalah fasilitas umum yang harusnya menjadi priorotas pelayan juga harus berbayar Akses atas air, udara, ruang terbuka hijau telah dikomersialisasi sehingga yang dapat mengakses sumberdaya tersebut hanyalah kalangan ekonomi mapan tertentu. 

Dan sudah tentu Rakyat Kecil (Wong Cilik)tidak dapat mengakses sumberdaya tersebut, yang merupakan karunia dari tuhan karena keterbatasan ekonomi. Hal ini telah menggeserkan nilai-nilai sosial kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Sebagaimana dijelaskan dalam pasal 33 UUD 1945 Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam terkandung didalmnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. 

Dengan menyerahkan urusan pelayanan kepada swasata, menujukan ketidak mampuan Negara damlam menyediakan kesejahtraan (welfare State). Bukan berarti bahwa Negara tidak boleh bekerja sama dengan swasta, namun negara harus hadir dan bertindak dalam urusan kepentingan yang lebih besar mengenai urusan hajat masyarakat umum.

Secara singakat liberalisme adalah sebuah paham yang menghendaki atas kebebasan bagi setiap individu. Dan neoliberal adalah varian baru dari liberalisme klasik yang menghendaki kebebasan pasar dan individu. Pasar diyakini sebagai solusi Ekonomi dan Sosial. 

Selanjutnya, dengan mengutip pandangan Harry yang berkarir sebagaia dosen di Sekolah Tinggi Driyakarta, Jakarta. Bahwa neoliberal bukanlah persoalan ekonomi tetapi persoalan ekonomi Politik. Untuk itu persoalan neolib tidak bisa dibatasi hanya dalam ruang lingkup ekonomi. Neoliberalisme sebagaiman telah dijeaskan diatas yaitu cara berfikir menolak intervensi negara dan menyakini bahwa mekanisme pasar adalah pilihan terbaik untuk menata semua sendi kehidupan sosial. (hlm. 135 –136)

Dengan demikan, wajah neoliberal tidak hanya persoalan ekspor – inpor , privatisasi BUMN ataupun penanaman modal asing. namun meliputi semua sector diantaranya: swatanisaisi pendidikan, kesehatan, kebijakan trasportasi umum, privatisasi air hingga dalam urusan sepele seperti parkir dan toilet umum. 

Kemunculan neoliberal di Indonesia, telah terjadi semenjak masa akhir orde baru melalui resep neoliberal yang diberikan IMF kepada Indonesia dan menjadi warisan sampai pada periode-periode selanjutnya. Aset Negara dijual, pendidikan dikapitalisasi (anak miskin dilarang sekolah), penanaman modal Asing dan Hutang luar negeri. Inilah Yang menjadi tanda akan kemunculan neoliberan dalam perekonomian Indonesia.

Pada bagia terakhir menceritakan bagaimana kekuasaan dan pemburu kekuasaan yang telah terkontaminasi oleh neoliberal untuk melakukan pengaruh terhadap media. Pers dipengeruhi untuk memastikan ideology neoliberal berkembang tanpa adanya kritikan. Sehingga, media Indonesia kehilangan independesi karena diarahkan untuk kepentingan memenangkan kompetesi Politik. 

Media Televisi Indonesi yang digerakan oleh kaum pemodal memiliki ambisius untuk urusan keuntungan ekonomi. Memungkikan dijadikan sebagai alat untuk melindungi status kuo. Akibatnya, Negara menjadi makhluk yang menakutkan untuk masyarakat, terutama masyarakat kecil. Melahirkan rezim yang otoriter dengan ciri narasi-narasi kritikan atas penguasa ditekan dan dibungkam. 

Selanjutnya, dengan merefleksikan makna “Indonesia For Sale”. Jikalau ditanyakan kepada masyarak, Indonesia untuk dijual.? tentu akan memunculkan kontrofersi dan perdebatan. Dengan semangat nasionalisme, tidak akan mengiklaskan Indonesia dijual walupun hanya sejengkal tanah. 

Disisi yang lain, masyarakat tidak akan dipaksa mengerek bendera dalam keadaan perut yang lapar. Atau malah sebaliknya, sungguh nista menjual bendera bangsanya demi urusan perut belaka. Nasionalisme tidak boleh dijadikan dalil sahih menanggalkan semangat kebangsaan, apalagi sampai mengkomersialkannya. 

Amatlah tidak elok, jika demi perut kenyang, tanpa sadar kita melilitkan tali gantung kepada anak cucu sendiri. Sebab nasionalisme dan kesejahtraan, atau tegasnya ekonomi adalah senyawa dalam membangun sebuah bangsa sejati. ***

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup