Merdeka Sekali Lagi

Oleh: Dafrin Muhsin)*

17 Agustus, 1945 kurang lebih 73 tahun yang lalau, Bangsa Indonesia mengalami peristiwa-peristiwa yang menentukan kemerdekaan. Sebagaimana dimuat dalam lembaran sejarah, desakan kemerdekaan oleh angkkatan muda dalam peristiwa Rengasdengklok menjadikan Soekarno-Hatta yakin untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan semenjak peristiwa mengharuhkan itu disepakati sebagai hari kemerdekaan.

Peristiwa kemerdekaan yang penuh dengan ketegangan, waktu yang sempit dan keadaan mendesak itu, secara detail dijelaskan oleh Gonawan Muhamad di Tempo, 27 Agustus 2006. Tulisan berjudul “D.L.L” mengupas apakah proklamsi yang di tulis Bung Karno itu dengan sikap keberanian atau mungkin dalam keadaan gugup? Kita tak tahu. Apa yang akan dilakukan setelah kekuasaan berada di tangan bangsa Indonesia. ”… mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., akan diselengarakan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.“ D.l.l adalah pengakuan, jika kemerdekaan adalah sebuah wacana. Ia sebuah wacana yang belum selesai”

Perihal kemerdekaan, masih ingatkah kita sama Bapak Republik Tan Malaka yang tak mengenal kompromi “merdeka 100 persen” kemerdekaan harus seratus persen tak boleh di tawar-tawar. sebuah negara harus mandiri dan terbebas dari intervensi asing. Atau oleh sang Proklamator Ir. Soekarno (dalam ajaran Trisakti) sebuah bangsa yang merdeka mutlak berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya.

Bagian terpenting dan utama di tanggal 17 Agustus adalah soal “kemerdekaan” namun kemerdekaan macam apa yang hendak dicapai. Bagi kebanyakan orang kemerdekaan dimaknai sebagai pembebasan dari belenggu penjajahan, tidak bergantung kepada pihak lain, dan mandiri dalam bersikap maupun bertindak. Lantas bagaimana dengan Indonesia hari ini. Pemaknaan semacam ini membuat kita harus berkerut dan berfikir secara serius, sehingga persoal bangsa dapat terlihat dengan jelas.

Merayakan kemerdeka tidak sebatas mengibar sang saka merah putih, yang sering dijadikan dalil untuk menembak dan menendang yang tidak mengibarkan merah putih, Kita harus merdeka (dari segala macam penindasan) hentikan segala macam kekerasan, menghargai dan melindungi yang lemah, barulah merah putih dikibarkan.

Sebab, masyarakat tidak akan dipaksa mengerek bendera dalam keadaan perut yang lapar. Atau malah sebaliknya, sungguh nista menjual bendera bangsanya demi urusan perut belaka. Nasionalisme tidak boleh dijadikan dalil sahih menanggalkan semangat kebangsaan, apalagi sampai mengkomersialkannya. Amatlah tidak elok, jika demi perut kenyang, tanpa sadar kita melilitkan tali gantung kepada anak cucu sendiri (Dhandy Dwi Laksono)

Menyaksikan Indonesia pada hari-hari ini, kekerasan terhaadap kaum minoritas, kemiskinan merajalela yang tidak berkesudahan, kerusakan alam semakin nampak di depan mata kita. Belum lagi persoalan lapangan pekerjaan, kehidupan yang semakin mahal (orang miskin dilarang sakit, sekolah, ketoilet bayar, akses air bayar dan sampai mati pun harus bayar) gambaran pahit ini kita bisa membaca dalam ulasan Dandhy “Indonesia For Sale”.

Kita mesti jujur, bahwa Indonesia hari ini sangat jauh dari cita-cita kemerdekaan, menjadi negara yang tidak madir (menjadi korban atas permainan ekonomi global), sumber daya Alam yang mestinya dikelola dan diperuntukan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat berubah menjadi derita. Negara menjadi makhluk buas dan menakutkan yang setiap harinya menerkam ruang hidup masyarakat. hal itu mengigatkan kita pada Pidato Sukarno “ bahwa perjuanganku lebih muda karena mengusir penjajah dan perjuanganmu jauh lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Memang, Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan mengalami banyak tantangan dan rintangan. Untuk itu dihari yang penuh kegembiraan ini, perlu untuk merenung kembali perjalanan panjang negara Indonesia yang kini telah memasuki usia 74 Tahun. Apa yang sudah dicapai dari cita-cita kemerdekaan. Dengan menyaksikan realitas Indonesia masa kini, maka yang dibutuhkan bukan hanya mempertahankan kemerdekaan, namu perlu untuk merdeka sekali lagi. Merdeka dari segala macam kekerasan dan penindasan, merdeka untuk menuntaskan dan menghapus segala macam penderitaan Bangsa Indonesia.
Merdeka…!

*Pegiat Rumah Baca Komunitas

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup