Lingkar Tambang dan Rezim Pembangunan Minus Demos

Oleh Dafrin Mukhsin)*

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi atas wacana agraria yang dilakukan oleh Rumah Baca Komunitas (RBK) melalui diskusi rutin Raboan. Diskusi rutin Raboan tidak melulu persoalan agraria namun ditargetkan untuk mendiskusikan tema-tema progresif, ganas mencerahkan dan tentunya menyenangkan.

Pemilihan isu agraria sebenarnya adalah representasi dari program ekoliterasi yang digagas pada tahun 2015 lalu (Madzhab Kali Bedog). Sebagai upaya untuk menghubungkan gerakan literasi dengan lingkungan dan juga sebagai sikap Pro terhadap keamanan lingkungan hidup.

Diskusi Raboan kali ini di inisiatif oleh Penghuni Rumah Baca Komunitas (Mahdzhab Kanoman) yang kurang lebih satu tahu bermukim di dusun Kanoman kelurahan Banyuraden, Gamping Sleman yang sebelumnya bermukim di Kali Bedog. Kemudian, berhijrah ketempat yang baru dan penghuni yang baru terkecuali KaK Hanafi Volunter berdarah Jambi yang Hidup di dua zaman “Mazhab Kali bedog dan Mahzab Kanoman”. Inisiatif yang dilakukan adalah demi memberdayakan volunter serta untuk mengasa pikiran dan pengetahuan bagi volunter.

Potret Kejahatan Lingkungan di Pulau Buruh
Diskusi awal pada; Rabu, 10 Juli 2019 di Presentasikan oleh Kak Ode sapaan akrab La Ode Alimin Volunter asal pulau buruh yang menggerakan motor pustaka RBK berkeliling kota Jogja untuk menyediakan fasilitas baca buku gratis.

Diskusi tersebut bertemakan “Kejahatan Lingkungan” yang mendiskusikan terkait dengan masalah pencemaran dan perusakan lingkungan sebagai akibat dari pertambangan emas ilegal di gunung botak.

Dalam narasi yang dibangun, La Ode Alimin menjelaskan bagaimana awal mula pertambangan emas itu di mulai. Berkisah tentang seorang petani bernama Suyono yang menemukan emas melalui mimpinya, ia kemudian meninjau ke lokasi dan berhasil menemukan lima gram emas murni. Lokasi tersebut berada di dusun Wamsait, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru Provinsi Maluku. Di lokasi penemuan emas tersebut di tempati oleh masyarakat yang mengunakan identitas marga (besan, wael dan nurlatu) untuk mengklaim diri sebagai masyarakat Adat.

Politik marga menjadi legitimasi yang kuat untuk menguasai sumberdaya emas. Marga-marga tersebut kemudian menjadi orang kaya baru atas hasil emas yang diperolehnya. Meskipun demikian masyarakat yang hidup dengan berlebihan sumberdaya emas namun selalu merasa tidak berkecukupan disebabkan karena tidak adanya kemampuan untuk mengelolanya. mengelola bukan atas dasar kebutuhan namun atas dasar keinginan. Membeli dan mengoleksi barang-barang mewah seperti motor, mobil, telefon gengam dan semacamnya secara berlebihan.

Pada awalnya penambangan emas hanya dikelola oleh masyarakat yang berada di pulau buruh dengan mengunakan alat penambangan seadanya. pada pertengahan 2012 terjadi ledakan populasi manusia yang berdatangan dari berbagai daerah seperti Kalimantan, Sulawesi dan Jawa dengan tujuan untuk berburu emas.

Pengelolaan tambang emas dilakukan tanpa mengantongi surat izin ataupun melalui kajian amdal terlebih dahulu “tambang ilegal” mengakibatkan terjadinya pencemaran dan kerusakan terhadap lingkungan. Pencemaran atas air, tanah, hutan, lahan pertanian serta hutan sagu adalah efek ari limbah yang di hasilkan dari tambang-tambang ilegal tersebut.

Merasa Lingkungan dicemari dan megancam keberlangsungan hidup, masyarakat di pulau buruh kemudian melakukan aksi protes kepada pemerintah setempat untuk memberhentikan aktivitas penambangan. Aksi-aksi protes selalu dan terus menerus dilakukan meski mendapatkan kecaman dari berbagai pihak yang berkepentingan untuk memperoleh emas.

Setelah kesekian tahun aksi protes tersebut akhirnya direspon oleh pemerintah. Tepatnya, akhir Agustus, 2018 aparat gabungan TNI/POLRI, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup dan sejumlah organisai kemasyarakatan melakukan pembersihan dan penertiban ratusan penambang ilegal yang beroperasi di kawasan gunung botak pulau buruh.

Meskipun demikian, pasca penertiban para pelaku penambang emas ilegal sebagian besar kasus-kasus tersebut belum maksimal penaganannya yang jelas-jelas melakukan pelanggaran hukum. Kasus pencemaran lingkungan tersebut terkesan ditutup-tutupi menunjukan lemahnya peran perintah untuk menegakan hukum. Asas persamaan dimata hukum menjadi asas keberpihakan kepada kelompok kepentingan tertentu.

Menulis Cerita, Mengingat Luka

Setelah mendiskusikan persolan Tambang, Pada pertemuan berikut Rabu, 24 Juli 2019 wacana agraria di geserkan dari pulau buruh ke daerah Istimewa Yogyakarta. Menulis Cerita, Mengingat luka adalah hasil riset yang dilakukan oleh Kak Hanafi atau Hanafi Wardana yang sudah layak mendapatkan gelar sufi karena kemampuan untuk hidup didua zaman. Hasil riset tersebut memetakan bagaimana konflik pembangunan apartem yang terjadi di Kota Yogyakarta yang memilih lokasi penelitian di Tumoho.

Menjelaskan bagaimana relasi antara pembangunan dengan konflik yang cenderung diabaikan oleh rezim pembangunan. bagaimana masyarakat menghadapi rezim pembangunan atas perampasan ruang hidup.
Dalam penjelasan riset yang dikakukan oleh Hanafi Wardana, ada argumentasi menarik yang dibangun dalam tulisan tersebut. Bahwasanya pada setiap agenda pembangunan tidak bersifat netral, semua arena mempunyai kepentingan dan ideologi. Dimana pembangunan yang dilakukan lebih banyak mengikuti logika kapitalistik yang menyebabkan hancurnya sistem ekonomi masyarakat. Perampasan lahan dan tanah warga menajadi dilegalkan kasus kulon progo misalnya. hal ini juga menjadi sebab dari konflik agraria yang berkepanjangan dan tidak berkesudahan.

Disisi yang lain, Rezim pembangunan berupaya mendefinisikan kesejahteraan kepada masyarakat mengunakan logika kapitalis. Dapat dikatakan sejahtera apabila pemukiman warga di himpit oleh gedung-gedung pencakar langit yang nantinya menjadi tempat masyarakat bekerja untuk melangsungkan hidup. Tentunya hal ini sangat bertentangan dengan prinsip ataupun indikator kesejahteraan masyarakat setempat.

Perampasan Ruang hidup sangat berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Rezim pembangunan mengakibat pecahnya struktur sosial masyarakat menjadi masyarakat pro terhadap pembangunan dan kontra pembangunan. Masyarakat yang pro terhadap lingkungan selalu mendapatkan perlakuan baik yang dilakukan oleh Pemerintah (negara) serta developer (pihak yang berkepentingan) sedangkan masyarakat yang kontra pembangunan sebagai sikap keberpihakan terhadap keamanan lingkungan hidup selalu di kecam, dikucilkan dan dibuat tidak berdaya.

Minus Demos
Hasil diskusi diatas memperlihatkan wajah kusut dari negara yang harusnya menjadi penengah dan pelindung masyarakat berubah menjadi mahluk buas yang setiap harinya menerkam ruang hidup masyarakat.
Pembangun Selalu menjadi alat kaum yang dominan untuk melancarkan ekspansi atas modal kapital, Kesejahteraan selalu menjadi topeng untuk menutupi wajah kerakusannya. Kekerasan menjadi jalan untuk menekan gerakan-gerakan perlawanan rakyat yang menuntut keadilan.
wilayah tambang dan Rezim Pembangunan menjadi minus Demos disebabkan karena Hukum tidak berpihak kepada masyarakat wilayah lingkar tambang, rakyat dibuat tidak berdaya oleh Rezim Pembangunan. Rakyat kehilangan peran sebagi pemegang kedaulatan, rakyat tidak lagi berkuasa dalam negara demokrasi. Kekuasaan di tangan rakyat berubah menjadi kekuasaan ditangan yang berkepentingan

Sebagai catatan pamungkas. Disisi yang lain, penindasan terus berlanjut disebabkan karena kaum terpelajar mengalami defisit kesadaran dan defisit bacaan . Hegomoni Rezim kapitalis berhasil mempengaruhi sebagian kaum terpelajar sehingga tidak ada lagi gerakan-gerakan perlawan. Namun yakin sungguh bahwa suara perlawan bagi sebagian kaum terpelajar akan selalu di gaungkan sekalipun berada di balik penjara. wacana Kejahatan Lingkungan dalam pengalaman riset yang diramu oleh Hanafi :”Menulis cerita, Mengingat Luka” adalah bukti tidak terbantahkan lahirnya bentuk perlawan kaum terpelajar akan Rezim penindasan bernama pembangunanisme yang membabi dan membuta.

)*Pegiat Rumah Baca Komunitas

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup