Ajaran agama bisa dianggap mendukung kerusakan atau keberlanjutan lingkungan hidup. Tergantung pada pemeluk agamanya masing-masing. Ayat yang dianggap mendukung kerusakan lingkungan ada. Begitu pula ayat yang dapat digunakan untuk mendukung perbaikan lingkungan.

Gerakan lingkungan sekularis ada yang skeptis dengan keterlibatan agama. Mereka  menganggap agama terlalu seide dengan gagasan eksploitasi alam. Tidak seratus persen benar. Tidak seratus persen salah.

Di dunia muslim, sejak dekade 1960an banyak pemikir berupaya menghasilkan perspektif baru tentang pelestarian lingkungan. Seyyed Hossein Nasr pada tahun 1968 menulis buku berjudul “Man and Nature”. Ini adalah karya pertama yang memperkenalkan teologi lingkungan dalam Islam.

Gagasan Nasr cukup radikal untuk waktu itu: kerusakan lingkungan adalah akibat manusia modern menganut filsafat totalitarian. Apa yang dimaksud Nasr dengan “filasafat totalitarian” adalah sainstisme modern. Pada dunia sains modern manusia tidak diizinkan memaknai sesuatu di luar dunia-fisik. Nasr tidak mendakwa sains sebagai malapetaka. Bukan sains dalam arti ilmu pengetahuan. Tapi sainstisme, keimanan pada objektivitas.

Setelah Nasr ada Mawil Izzi Din yang menulis buku “Environmental Dimensions of Islam”. Jika Nasr fokus pada filsafat, Izzi Din pada ranah “syariah”. Saya perlu memberi tanda kutip kata “syariah” di situ. Karena publik Indonesia menganggap “syariah” identik dengan “hukum Islam.” Padahal keduanya berbeda. Syariah lebih tepat dimaknai sebagai sistem pemikiran Islam. Bukan hukum. Menurut Izzi Din, Islam harus punya ideologi independen dan mendesak syariahtisasi kewajiban menjaga lingkungan. Sebab menurut Izzi Din, kaum muslim terlalu tergantung pada alam, misalnya air untuk wudhu. Sehingga wajib melestarikan lingkungan.

Setelah Izzi Din, ada pula Jasser Auda yang menyusun sistem syariah kontemporer. Auda memperluas teori maqasid syariah sehingga dapat dihubungkan dengan problem terkini, termasuk kerusakan lingkungan. Di luar figur sarjana muslim, ada aktivis bernama Ibrahim Abdul-Matin yang menulis buku berjudul Green deen (2010). Buku Abdul-Matin berkisah tentang praktik-praktik “iman hijau” komunitas muslim di AS.

Bagaimana di Indonesia? Pemikiran lingkungan disebarkan melalui tokoh dan aktivis muslim, lembaga pendidikan Islam serta organisasi Islam. Buya Hamka mungkin perlu disinggung. Dalam buku “Pelajaran Agama Islam” yang terbit pertama kali tahun 1956, mengatakan Allah ada dalam keindahan alam. Hamka menyajikan kisah percakapan antara Nabi Muhammad dan Bilal sewaktu di Madinah. Percakapan itu mengenai ayat Ali Imran ayat 189-190, berisi tentang kesenggasaran orang-orang yang mengabaikan hikmah penciptaan alam semesta.

Tapi uniknya pemikiran lingkungan kaum muslim tidak selalu bersumber pada teologi. Pada 1993, teori ekologi-dalam yang diperkenalkan Arne Naess, dibahas di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Meski pada akhirnya, nada persuasi perbaikan moral demi melestarikan alam dan iman tetap menjadi pola utama. Pola ini misal, bisa dibaca pada penulis produktif tentang Islam dan lingkungan, Fachruddin Mangunjaya.

Kemudian ada organisasi Islam Muhammadiyah yang merumuskan banyak produk pemikiran lingkungan. Menurut pelacakan saya, pemikiran lingkungan di Muhammadiyah muncul pertama kali pada Muktamar ke-41 tahun 1985. Setelah itu secara bertahap dimatangkan terus menerus. Produk pemikiran lingkungan yang lebih dikenal barangkali adalah buku Lingkungan: Sebuah Amanah (2007), Teologi Lingkungan (2007), Pendidikan Lingkungan (2009), Fikih Air (2014), Fikih Kebencanaan (2015) dan seterusnya.

NU dan MUI juga turut memiliki produk-produk pemikiran lingkungan. Kemudian pada ranah aktivisme, kehadiran komunitas muda muslim, misal, Front Nahdliyin untuk Kedaultana Sumber Daya  Alam (FKNSDA) dan Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) memperpanjang napas gerakan iman hijau di Indonesia.

Perkembangan gagasan iman hijau terutama dalam komunitas muslim tidak harus merupakan hasil menggali khazanah klasik Islam. Ada pula yang betul-betul baru, dan bahkan meminjam pemikiran lingkungan Marxis hingga gerakan lingkungan kaum muda Eropa. Kampanye iman hijau alih-alih unjuk identitas, lebih tepat sebagai keikutsertaan dan kekuatan alternatif.

Ini ringkasan singkat materi diskusi saya untuk Kampanye Iman Hijau oleh Rumah Baca Komunitas kolaborasi dengan greenfaith dan Kader Hijau Muhammadiyah Cabang Yogyakarta.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link