Ingat lho ya, ada dua tipe energi: Energi surga dan energi neraka

Energi surga itu punya sifat yang mendukung keberlangsungan siklus kehidupan yang mulia. Contohnya: angin (dalam surat Ar-Rum berbunyi: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian rahmat-Nya”). Berikutnya adalah energi panas matahari (Al-Qur’an punya satu surat yang dinamakan “al-Syams”).

Sebaliknya energi neraka adalah sumber daya yang diambil dari bawah tanah. (“Neraka” selalu digambarkan ada di dalam perut bumi yang panas. Sedangkan orang yang masuk surga selalu disebut “naik ke atas”). Contoh energi neraka: minyak dan batu bara.

Buku Greendeen (2010) termasuk yang buku non-fiksi keagamaan yang saya baca berulang-ulang. Seruan-seruan moral di dalamnya kok makin penting.

Ibrahim Abdul-Matin, sang penulis buku adalah seorang muslim “kulit hitam” (dia sendiri menulis begitu) yang tumbuh besar di Brooklyn. Pengalaman rohani terpentingnya adalah ketika berlibur di Bear Mountain. Di tempat “surga para pendaki” yang terletak di Utara New York itu, bersama ayah dan saudaranya, mereka istirahat untuk salat ashar (sore). Abdul-Matin kecil bertanya pada sang ayah: “di mana akan salat?” Sang ayah menunjuk ke sepetak tanah kecil yang sedang dibersihkannya dari ranting dan dedaunan.

Sembari bersiap salat, sang ayah mengingatkan Abdul-Matin: “di mana pun kamu berada saat waktu salat tiba, kerjakanlah salat. Sebab bumi adalah masjid.”

Intinya Abdul-Matin mau menunjukkan dua hal yang dilupakan banyak kaum muslim sekarang. Pertama, bahwa pusat doktrin teologi Islam sebetulnya sangat “hijau”. Konsep “tawhid” misalnya adalah kesadaran psikologis tentang “cahaya terang” Allah pada alam semesta. Jadi memusnakan alam sama artinya dengan mengingkari keberadaan jejak cahaya itu.

Kedua, Islam menyerukan kondisi keadilan sosial (Abdul-Matin menyebut “environmentalisme rakyat) dan keadilan ekologi yang seimbang (konsep “mizan” alam semesta). Satu ketimpangan akan membawa ketidakseimbangan pada yang lain. Contoh: dengan menyebarnya tren “energi neraka”, skala perang manusia modern semakin brutal.

Negara-negara yang bermain-main dengan energi neraka selalu menjadi makin otoriter dan represif. Abdul-Matin mencontohkan bahwa akumulasi kapital akibat energi neraka ini telah jadi faktor penting meletusnya Perang Dunia I.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link