Keyakinan bahwa krisis ekologi juga disebabkan oleh krisis spiritual makin banyak diaminkan oleh para pemantik diskusi dan peserta diskusi di zoom (baca: eco-zoomiyah). Tak perlu saya membawa bukti satu-satu sebab hasanah teologi dan agama belum banyak dijadikan referensi untuk membela lingkungan hidup—artinya ada krisis pengetahuan agama dan akhirnya krisis refleksi pada ajaran-ajaran mulia di dalamnya yang terhubung dengan isu krisis ekologi. Indonesia, barangkali banyak diam-diam kafid ekologis sebab tak mempercayai jika tangan manusia menyebabkan global warming. Survey membuktikan, Indonesia ini masyarakat muslim mayortas yang tak percaya pada adanya climate change akibat ulah manusia dan mendapat skor tertinggi di 23 negara yang disurvey oleh YouGove (18% dari 1001 responden). Angka yang sangat tinggi. Juga, kita saksikan bahwa sangat minor banget suara yang menarusutamakan bahwa covid-19 itu bagian dari ekspresi kerusakan alam.

Saya kira sudah sangat banyak  kegiatan kegiatan webinar dan diskusi-diskusi online di zoom bertemakan ekologi. secara keadilan gender, saya merasa banyak perempuan aktif bicara soal krisis ekologi dalam beragam forum baik seminar, conference, pengajian, dan bahkan diskusi ringan-ringan. Saya bisa menyebut banyak nama: Rahmawati Hussein, Mbak Nana Firman dari greenfaith, Mbah Hening dan tim LLHPB di pusat dan wilayah yang aktif di banyak forum, Prof Riri dari GreenMetric UI, Susi Pudjiastuti, Musda Mulia, Lilik Prihantini, Deny Ana I’tikafia,  dan Setyarti dari MLHPB Aisyiyah, Endah Saptyningsih dari MLH, Myrna Safitri dari BRG RI.  ada Nyai Nissa Wargadipura,  dari At Thariq, Mbak Yaya, Mbak Asfinawati, Bu Wahya dari SALAM, Dewi Kartika dari KPA, Dewi Candraningrum, Wini Anggraeni produser film ibu bumi, Kholidah Annisa dan Siti Ulfah Fadhilah dari IPM, Amalia rezeki, Eka Imbia dari AMM/IMM, Dwikorita, Ane Permatasari,  Gita Syahrani dari Lingkar temu, teman-teman perempuan di Nusa, dan seterusnya.  Dari mancanegara ada Anna Gade, Vandana Shiva, dan lain-lain yang turut mendinamisasi eco-zoomiyah yang diikuti orang Indonesia. Setidaknya kabar gembira mengenai kekuatan dunia ekofeminisme atau Islamic ecofeminism sangat dahsyat dan kontributif. Setidaknya ini kesan saya.

So what?

Ada banyak pekerjaan rumah dan luar rumah yang segera kita kelarkan. menjadi pegiat di madrasah eco-zoomiyah tanpa ada aktifisme yang melibatkan fisik kita bisa kecewa dengan keadaan dan lemes sendiri. setidaknya ada beberapa agenda mendesak. Pertama, perkuat ekoliterasi untuk memastikan pejuang ekologi terus bergenerasi dan makin kaya secara pengetahuan dan praksis. Nana Firman dalam room chat di zoom saya kutip bahwa mencata rute ekoliterasi untuk memperkuat upaya menyelamatkan bumi dalam tiga hal utama, edukasi, sosialisasi dan perubahan budaya. “Perlu ada divestment dari fossil-fuel based energy…and reinvest to clean & renewable based energy…yaaay!!!”, afirmasi Mbak Nana untuk penguatan literasi masyarakat dan tentu saja dapat berguna untuk masukan bagi pengambil kebijakan. Kedua, memulai praktik mendayagunakan energi ramah lingkungan, dalam hal ini kita bisa mengambil banyak obrolan dalam forum zoom selama ini mulai dari film produksi watchdoc yang bermuatan ekologis sinambi menandingi narasi dominan energi tak dapat diperbaharui yang maha ekstraktif. Di tengah ekonomi pangan yang limbung ada pula energi misalnya dari film the Man who hasness the wind di Afrika yang memunculkan ide penggunaan tenaga angin untuk memompa air agar kemarau tetap bisa bertanam. Kerja-kerja penguatan pengetahuan ekologis sangat urgen diperjuangkan.

Dalam karya monumentalnya Fritjof Capra, The Web of Life, dikatakan bahwa pada dasawarsa-dasawarsa ini dan mendatang, nasib bangsa manusia akan sangat tergantung pada melek ekologis—ekoliterasi, yaitu kemampuan memahami prinsip-prinsip ekologis. planet bumi jelas wajah rahmat dan petakanya tergantung pada kelakukan manusia—khususnya tangan-tangan korporasi yang merusak dan kita punya kemampuan menahan dan mencegahnya.

Untuk perintisan energi bersih di lembaga Pendidikan misal.  Danet Suryatama dalam sesi diskusi di PCIM USA soal energi mengusulkan energi listrik tenaga matahari (solar panel) yang  ramah lingkungan untuk sekolah dan gedung-gedung Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Jika kelebihan tampungan daya listrik bisa saling sharing ke Gedung Muhammadiyah lainnya. Menurut Pak Danet sangat meyakinkan bahwa solar panel dapat bertahan 10 tahun dan maintainance tidak costly. Ketiga, sifak inclusive jelas terbangun pada gerakan ini nalar-nalar sekularisme dalam ekologi tidak dikutuk tetapi saling mendekat ke sumber potensial untuk sama-sama menyelamatkan bumi. Buktinya, banyak NGO lingkungan juga sangat antusias memasuki forum-forum kajian keagamaan dan lingkungan hidup sebagaimana yang saya mension para pemantik perempuan dalam kajian eco-zoomiyah di atas. Problem krisis ekologi tak mungkin dibereskan oleh satu dua agama, apalagi hanya oleh gerombolan negara-negara yang pasang surut pasang naik dalam perjanjian dan komitmen global untuk atasi resiko climate change politik selalu menjadi penglima dan ekosistem bumi non-manusia paling parah harus menanggung akibatnya.

Pun demikian, bahwa krisis ekologi tak lagi didominasi oleh concern kaum laki-laki, banyak perempuan yang sudah berada digaris terdepan perjuangan ekologi dan perlawanan terhadap korporasi pesusak alam. Artinya, dengan kekuatan tanpa diskriminasi sejak dalam pikiran apalagi perbuatan gerakan ekologi insaniyah, gerakan ekologi liberatif, teokologi, ekoliterasi, ekologi radikal, ecojustice, dan seterusnya akan semakin kuat daya ubahnya.

Jamaah eco-zoomiyah yang budiman, dari serentetan tak putus-putus kegiatan diskusi lingkungan hidup selama ini ada banyak hikmah, kebijakan, dan teladan serta menyumbangkan bantyak refleksi ihwal apakah ekologi dan teologi kita masih terdominasi oleh rezim entroposentrisme yang diam-diam menghunjam di dalam akal batin kita. Ada keengganan untuk memikirkan ulang dan mengkritiknya kemudian pelan-pelan muncul rasa karsa berbuat adil dengan paradigma lainnya: biosentrisme, ekosentrisme, dan mendorong tauhid murni dan mempertahankan al mizan di dalam relasi kehidupan. Kita semestinya tau dari jamaah ekozoomiyah bahwa ada titik temu agama-agama dalam relung satu bumi.  Bahwa satu bumi untuk banyak agama, banyak bangsa, dan banyak makhluk hidup adalah fitrah kehidupan dan universlisme ini akan dapat menghadang gelombang keserakahan yang dapat meluluhlantakkan bumi dan isinya.

Alhamdulillah Ala Kulli Hal, tiga agenda di atas penting sebagai agenda yang tak selamnya digantung sebagai pekerjaan yang akan dilakukan tetapi harus bergeser sedang diupayakan dengan jihad yang sebenar-benarnya jihad. Jihad yang dibutuhkan bumi hari ini bukan untuk mematikan kehidupan dengan angkat senjata atas nama/demi marwah agama dan identitas kesukuan atau chauvisme lainnya, tetapi jihad hari ini adalah bagaimana merawat kehidupan di planet bumi untuk jangka waktu dan generasi mendatang. Di saat pandemic ini kita sesungguhnya punya peluang memulai fase kehidupan yang disebut Ecozoic. Zaman ketika kelakuan manusia dibimbing oleh gagasan komunitas bumi yang utuh, suatu periode kehidupan di mana manusia tampil di bumi untuk saling menjaga dan melindungi serta mengguatkan. Dalam konteks mencegah dampak terburuk climate change, nilai-nilai tersebut merupakan sebuah keniscayaan. Wallahu alam bi shawab.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

David Efendi

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan pendiri LibgenSpace serta aktif di Kader Hijau Muhammadiyah

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link