“buku merubah takdir orang-orang, orang-orang merubah takdir buku-buku”

Pada tahun 2007-2008 beberapa orang yang berada dalam satu kontrakan yang notabene statusnya adalah mahasiswa cum activist yang di dalamnya menyimpan kekayaan ragam buku yang cukup  banyak karena minat disiplin ilmu yang sangat beragam mulai dari politik, buku hasanah agama, pertanian, psikologi, hukum, dan peternakan. Seiring berjalannya waktu, dengan semakin banyaknya personil yang keluar dari kontrakan karena alasan bekerja/pekerjaan keluar kota/daerah karena sudah waktunya  kami yang tinggal  kepikiran untuk bagaimana caranya agar lebih banyak manusia lebih banyak orang yang bisa memanfaatkan dari adanya buku-buku di kontrakan ini.  Singkat cerita tahun 2011 yang awalnya kontrakan ini merupakan markas lembaga pelatihan lembaga pemberdayaan sumber daya Insani (Lapsi)  dengan spirit berbagi bacaan: merubah dari kepemilikan pribadi menjadi aksesibel untuk publik maka lahirlah  rumah baca komunitas (RBK) awalnya komunitas rumah baca (KRB) lalu rumah baca komunitas menjadi pilihan karena artinya komunitas ini adalah rumah bagi komunitas-komunitas yang beragam yang bisa memanfaatkan ruang sebagai wadah perjuangan untuk mengaktualisasi diri, ruang sebagai sarana saling bersolidaritas dan saling memajukan alam pikir dan keberpihakan pada aktivisme sosial.

RBK hidup dan tumbuh pada zaman pengetahuan bergerak yang ditandai oleh spirit berkomunitas, berbagi bacaan, dan meluasnya akses pengetahuan yang diperkuat oleh revolusi informasi. Dalam konteks negara, pada tahun 2017 juga negara menggratiskan biaya kirim buku untuk komunitas literasi yang rupanya tak bisa berlanjut alasan keuangan negara. Free cargo literasi itu menumbuhkan politik harapan—yang rupanya layu sebelum berkembang pesat. Apakah negara takut rakyatnya baca buku, kritis , dan berdaya?

Dalam kesempatan ini saya hendak menceritakan secara singkat perjalanan pengalaman dan kekuatan yang ada di rumah baca komunitas.  Pada periode 2011-2012 kami mengontrak rumah di dusun Onggobayan, Bantul lalu kita sebut sebagai mazhab onggobayan. Periode ini lebih banyak urusannya adalah menjadi learning Community termasuk memberikan pelayanan pelajaran kepada Masyarakat khususnya anak-anak untuk belajar menyelesaikan pekerjaan sekolah atau memotivasi agar anak-anak itu mau belajar, memberi kursus computer, belajar fotografi dan juga memberikan kesempatan untuk belajar dari video yang kita tampilkan setiap pekan. Aktivitas ini sangat sederhana karena mudah dan gampang diupayakan. Hanya resikonya buku-bukunya waktu itu diambil anak-anak untuk dijadikan bahan mercon/petasan. Beberapa anak-anak diam-diam mengamankan buku untuk dipakai jadi petasan. Dalam hati saya, itu tindakan sangat kreatif walau tak sedikit yang kaget dan terpukul melihat “bibliosida” ala anak-anak tanpa dosa ini. Pada saat itu, kita punya semacam kartu baca atau kartu ngegame. Cara kerjanya kalau anak-anak sudah baca buku boleh bermain game di computer. Game saat itu belum banyak seingat saya kartu soliter itu. Kemudian berikutnya tahun 2013-2014 ini kita pindah kontrakan di Jalan Parangtritis sehingga RBK ahun ini disebut dengan RBK madzab Paris. Sebagian besar aktivitas adalah bersolidaritas kepada teman-teman kelompok yang kurang mendapatkan akses bacaan misalnya kami membuka Ruang Baca di Pesantren Waria, memberikan bacaan kepada anak jalanan, pengamen, dan juga kami lebih banyak berurusan dengan wacana emansipasi. Pada saat itu forum-forum kecil setiap pekan kita adakan dari warung kopi ke warung kopi, dari angkringan ke angkringan kadang di basecamp, kemudian juga memberi membuka ruang kolaborasi juga dengan mahasiswa KKN mahasiswa yang punya dayaa kreativitas. Waktu itu ada dari UII,  UGM, UPN, UAD, UMY, UIN Suka, Sanata Dharma yang terlibat menggembirakan komunitas dengan aneka warna aktifitas. Sejak 2015 kami mulai menerima wakaf buku hingga kini, tak pernah berhenti menggerakkan buku-bukunya untuk menyokong komunitas lain.

Pada tahun 2015 tahun 2018 kami pindah ke kalibedok di dusun Sidoarjo, bantul maka periode tersebut dinamai rumah baca mazab Kali Bedog. Untuk aktivitas di saat itu banyak merespon persoalan politik,  bersolidaritas dengan perjuangan membuka diskusi diskusi yang mungkin sebagian masih tabu baik itu tentang feminisme, melawan stigma, keadilan gender tentang keadilan lingkungan dan seterusnya sampai kepada ekoliterasi (nanti akan kita terangkan). Pada tahun 2018 akhir kita sempat pindah transisi di asrama Bangka di jalan ibu ruswo di timur alun-alun utara sebelum mendapatkan rumah kontrakan. Kami sangat berterima kasih atas kebaikan pengurus asramah mahasiswa Bangka.

Kemudian di tahun 2018, kita mendapatkan tempat baru di Kanoman, Sleman. Tahun itu penghuni padepokan semakin banyak, sangat beragam dari latar belakang yang berbeda-beda baik agama maupun suku yang dengan senang hati menjalani aktivisme kritisi dan demokratisasi pengetahuan dengan menyemarakkan RBK on the street yang sejak menjelang pemilu 2014 sudah mangkal di alun-alun kidul Yogyakarta dan keliling dengan motor pustaka. salah satu driver militan motor ini kini membuka rumah baca di pulau buru dengan nama rumah Belajar komunitas yang dinakhodainya sendiri—Laode Alimin.

Ada tiga hal yang ingin kami bagi yaitu cerita tentang mantra: membaca, menulis, dan menanam (dulu dipakai juga tagline: aku datang, aku membaca, aku merdeka di tahun 2012-an).   Tiga hal ini menjadi karakter bagaimana komuynitas literasi sebagai living laboratorium, sebagai sejarah yang hidup, sebagai kesenian yang menggerakkan dan menyegarkan.

Pertama adalah membaca. Membaca—dalam arti seluas-luasnya, sebagai satu titik berangkat yang paling sederhana sekaligus komplek bahwa gerakan literasi itu melibatkan daya baca, persepsi, imajinasi, melibatkan militansi dalam membaca terutama juga membaca karya sastra yang dapat memperkuat gerakan literasi. karya-karya sastra seperti puisi Rendra, karya-karya tulis cerpen dan essai, seperti karya Kuntowijoyo, Pramoedya AT, Cak Nun, Mustofa W Hasim, dan lain sebagainya termasuk dari sastrawan sastrawan muda seperti itu semua Eka Kurniawan,  Gus Muh, Felix Nesi, dan masih banyak lagi karya terjemahan yang telah mempengaruhi alam pikir pegiat literasi secara diam-diam atau bersuara, sendiri atau berjamaah.  Saya kira sangat mewarnai dari sana gerakan literasi urusan lainnya adalah mendemokratiskan pengetahuan melalui membuka akses bacaan kepada publik dengan memberikan ruang-ruang yang egaliter, dialogis, termasuk juga membuka ruang-ruang kritisisme. Pegiat RBK dengan iman miroba literasi itu berusaha untuk terlibat di dalam isu-isu politik seperti korupsi kerusakan lingkungan, kritik terhadap pembangunan yang nir-ekologis, sehingga kita selalu berada di ruang ruang masyarakat sipil yang antusias terhadap perjuangan keadilan dan anti kekerasan. Selain itu aktivitas membaca juga diikuti dengan berbagai macam kegiatan termasuk wakaf buku, diskusi dan bedah buku secara regular baik offline atau online.

Sastra bagi gerakan literasi adalah spirit, ideologi, senjata, dan aksara propaganda. Bergerak dan menggerakkan literasi tanpa sastra adalah tindakan baik tanpa memberi makna bagi sejarah kemanusiaan. Tetapi hidup tanpa sastra barangkali bukan suatu aib atau dosa. Namun, bagi pegiat literasi saya sarankan haruslah berguru pada sastra, sekuat semampunya.

Kedua adalah menulis. Menulis adalah sebuah keberanian, kata Pram. Peradaban lahir dan dirawat oleh karya tulis sehingga ini menjadi sangat vital. Menulis menjadi sangat penting terutama di era informasi in. Untuk menopang gerak demokratisasi ilmu maka aktifisme literasi digital juga penting sehingga RBK merawat website: rumahbacakomunitas.org, berinteraksi di ragam sosial media untuk terus membangun koneksi dan konsolidasi baik eksternal maupun internal. Dalam gerakan literasi RBK, seni menjadi sangat penting. untuk mengekpresikan realitas yang hendak disampaikan dan diubah. Stensil, cukil, lukis, zine, graffiti menjadi media propaganda positif untuk menyuarakan protes dan keadilan.  Ada pentas apresiasi seni yang juga melibatkan seni instalasi, dekorasi, sehingga secara umum seni dipakai untuk mewarnai aktivisme literasi dengan karya-karya ini juga termasuk komunitas dapat dikenal atau dapat berhubungan dengan berbagai macam pihak yang dapat memperkaya wawasan memperluas solidaritas dan juga terlibat di dalam isu yang aktual. Gerakan literasu jelas bukan hanya soal baca-baca, atau tumpukan buku-buku saja. Literasi adalah segala sesuatu tata kehidupan baik yang menyankut perubahan sumber kesejahteraan atau cara hidup berkelanjutan.

Terakhir adalah menanam. “Sudah krisis, saatnya nanam.” salah satu pesan dalam karya stensil. Bumi ini sedang tidak baik-baik saja. Gandhi menginagtkan kita semua untuk sadar dan melawan: bumi cukup menghidupi semua manusia, tetapi tak cukup bagi satu orang serakah. Ada kesadaran bahwa ini adalah dekade keserakahan sehingga harus diubah menjadi dekade demokrasi kebumian (earth democracy) dalam Bahasa Vandana Shiva. Sebetulnya sejak tahun 2014 rumah baca komunitas sudah terlibat dalam isu isu pendidikan ekoliterasi yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Frtijof Capra, seorang fisikawan yang berhasil mengintegrasikan antara kemanusiaan dan kealamrayaan dalam jejaring kehidupan. Kriitknya pada kapitalisme uang tumbuh sangat keras sehingga perlu menciptakan kemungkinan lain akan tata kehidupan di bumi. Bagaimana relasi manusia dan alam harus diperjelas penghargaan terhadap ekosistem keberagaman ekosistem yang itu juga berkelindan dengan kehidupan manusia itu sendiri yang beragam. Pola pikir dan proses Web Of Life jejaring kehidupan itu apabila diikuti secara paripurna maka manusia akan bisa lebih sejahtera dan lestari tanpa harus merugikan keamanan lingkungan.

Dalam mendorong kesadaran lingkungan RBK mengembangkan Kebon ekoliterasi sejak tahun 2014 sampai sekarang masih menciotakan hutan skala komunitas dan secara praksis juga mengikuti aksi aksi solidaritas untuk keadilan iklim, keadilan lingkungan baik di dunia virtual maupun turun ke jalan. salah satu aktifitasnya adalah melakukan Pendidikan lingkungan bagi pemuda, membangun kelekatan anak-anak dengan alam dan berkampanye penyelamatan bumi. Tahun 2014 istilah ekoliterasi masih minim dipakai di komunitas perbukuan, kini makin santer terdengar di berbagai ruang komunitas. Kerja ekoliterasi adalah kerja pencerahan sehingga memerlukan proses dan energi terbarukan yang amat besar.

Rumah Baca Komunitas sebagaimana yang saya ceritakan di atas sebetulnya sangat percaya bahwa kondisi demokrasi yang memburuk kondisi krisis lingkungan yang buruk harus diperjuangkan, bagaimana cara recovery-nya dan bagaimana cara mendemokratisasi kan bumi ini sumberdaya ini menjadi sesuatu yang lebih Lestari harus menjadi komitmen semua dan kita sangat yakin apa yang Capra janjikan bahwa another world is possible.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

David Efendi

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan pendiri LibgenSpace serta aktif di Kader Hijau Muhammadiyah

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link