Dari Greta Effect, GejayanMemanggil, sampai STM Effect: Menjadi Bermakna itu Mudah

Oleh: Rbk Fauzan A sandiah*

Tidak seperti prediksi banyak orang yang menganut teori konspirasi dan penganut teori bumi bulat tapi datar-datar saja dengan pelanggaran HAM 2019, aksi damai #GejayanMemanggil2 berjalan lancar. Kali ini, berkat “STM Effect”, pelajar dari empat penjuru Yogyakarta ikut turun ke jalan. Mereka berjalan kaki dari bundaran UGM hingga pertigaan gejayan. Saya ikut berjalan beriringan dengan massa pelajar. Jika di Eropa Barat ada “Greta Effect”, maka di Jakarta, aksi massa pelajar STM telah menginspirasi remaja ini turun ke jalan. Ini mirip dengan kejadian 1998 saat gabungan pelajar GAPCI di Yogyakarta ikut menggulingkan kekuasaan otoriter pimpinan negara paling koruptif sepanjang sejarah dunia.

Dalam dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Pergolakan terjadi di berbagai tempat. Mulai dari Hongkong, Mesir, Prancis, Jerman, Amerika, Yunani, Itali, dan banyak lagi. Inilah gerakan protes berantai yang bisa dihubungkan dengan “moral panic” atas penetrasi perdagangan global, perubahan iklim dan rezim korup.

Gerakan mahasiswa dan pelajar itu membuka mata banyak pengamat sosial politik bahwa ancaman serius negara bukanlah ekstrimisme keagamaan, melainkan konsentrasi kapital yang berdampak pada kegagalan negara membuat regulasi yang memproteksi kesejahteraan warga dan menurunnya kualitas hidup akibat degradasi ekologi.

Aksi #GejayanMemanggil2 bahkan lebih bervariasi. Bukan saja massa mahasiswa yang bertambah banyak, tapi melibatkan banyak warga. Sebelah barat pertigaan gejayaan dipadati massa mahasiswa UMY, UGM, UII, dan UAD. Sebelah selatan ada mahasiswa UIN. Sebelah utara ada pelajar SMA, mahasiswa ISI, ada juga massa UMY depan gerbang USD, dan pegiat serta aktivis lain lintas organisasi, lembaga atau komunitas.

Massa #AksiGejayan2 berkumpul di titik pertigaan pada pukul 13.00. Orasi dilakukan oleh sejumlah perkumpulan aliansi. Mereka tetap menyampaikan 7 desakan yang diangkat pada aksi #GejayanMemanggil tanggal 23 September. Tambahan lain adalah pengecaman terhadap pembunuhan massa aksi yang terjadi di Kendari, kekerasan terhadap massa demo yang terjadi di Jakarta, Makassar, Kendari, serta mendesak akses informasi ke Papua.

Gerakan protes di Indonesia akan terus membesar dan kian matang. Represi dan sikap pongah pemerintah akan menghasilkan preseden buruk selama lima tahun ke depan.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup