Bumi Manusia, Rumahnya Manusia, dan Segala Persoalannya

Oleh: Dafrin Muhsin, Pegiat RBK

15 Agustus 1945 dikenang sebagai hari-hari yang menentukan kemerdekaan, dan kini sejarah akan mencatat, 15 Agustus 2019 adalah hari dimana film “Bumi Manusia” (Adaptasi dari novel Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer) pertama kalinya ditayangkan. Meskipun, banyak yang memberikan kritikan atas alur cerita yang sangat Tergesah-gesah, dimana hanya menfokuskan pada kisa cinta seorang anak pribumi bernama “Minke” dan melompati banyak kisah didalam Bumi Manusia. Tapi hal itu tidak membuat Bumi Manusia tidak mendapatkan tempat, justru mendapatkan atusias dari berbagai pihak.

Bumi Manusia, film yang disutradarai Hanung Bramantio berhasil menghipnotis para penontonya. Mengapa tidak! film yang berdurasi 3 jam itu tidak membuat bosan penontonya. Serasa jarum jam berputar begitu cepat sehingga tak terasa waktu pun berlalu dan berakhir bersama perpisahan antara Minke dan Annelies sang pujaan hati sebagai akhir dari cerita.

Lewat film ini, tidak hanya persoalan cinta tapi kita dapat menyaksikan bagaimana konflik bisa terjadi: Perbedaan identitas (Pribumi dan Eropa), komunikasi yang tidak baik (“Monyet” sebagai panggilan penghinaan kepada Minke), hukum yang tidah berkeadilan (Hukum yang tajam kebawah namun tumpul keatas), sampai pada perrsoalan asmara. Yang kesemua ini bisa saja menjadi akar dari sebuah konflik.

Disisi yang lain, jika kita menyimak dengan baik, film ini banyak memberikan pesan penting bagi umat manusia terutama kaum terpelajar. Lebih lengkapnya kita dapat membacanya dalam buku “Bumi Manusia” sehingga tidak memandang Bumi Manusia hanya persoalan kisah cinta.

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri,bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena perjuanganya sendiri”, “Dengan melawan kita tidak sepenuhnya kalah”, “Kaum terpelajar sudah harus berlaku adil semenjak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”, “Menulis adalah keberanian”, “Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain” “Duniaku bukan jabatan,pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi Manusia dan segala persoalannya.”

Bumi Manusia mengajarkan kita akan pentingnya menjadi manusia yang bebasa dan merdeka. Mengajarkan untuk menghargai kemanusiaan. Tidak memandang rendah orang lain yang tidak memiliki pemahaman atas berbagai persoalan kehidupan, dengan mengagap diri yang paling pintar dan benar. “Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi.”

Zaman semakin sulit (post-truth) sehingga nyaris hampir tidak bisa dibedakan mana orang baik dan pura-pura baik. #catatn senja

“..Namun baiknya kita tetap berteman dengan orang walau ia pura-pura baik.”

Sebagai seseorang yang baru belajar menulis dan mencintai sastra, melalui film diatas saya menjadi paham betapa Pramoedya Ananta Toer sangat dikagumi. Tidak hanya dikalangan sastrawan saja, namun juga di sebagian besar kalangan dan komunitas literasai.

Kekaguman itu, tanpa terkecuali juga menyeret salah satu komunitas literasi di Yokyakarta. Yakni Rumah Baca Komunitas (RBK) didirikan pada tahun 2012 dimana di dalamnya berkecimpun manusia pembelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Sehingga RBK sering dikenal dengan Rumahnya Manusia. Rumah bagi setiap manusia yang menimbah ilmu di Yogyakarta. Untuk itulah ketika ditanyakan jumlah anggota dari komunitas RBK, jawaban yang biberikan adalah “Tidak Terbatas” siapapun yang merasa senang dengan dunia literasi maka dia bagian dari RBK.

Bagi Rumah Baca Komunitas (RBK) Pram Seakan-akan menjadi kiblat dalam berfikir dan bertindak ataupun turut membenarkan karya Muhidin M Dahlan “Ideologi Saya adalah Pramis.” Kita bisa melihat kekaguman itu dalam kativitas keseharian para volunter RBK. Misalnya, Cak Ozan volunter berdarah manado yang menjadikan buku “Bumi Manusia” sebagai mahar pernikahannya. Pernikahan itu dikenal dengan pernikahan Bumi Manusia dan Keluarga Bumi Manusia.

Ataupun nasehat Cak David selaku Ketua Serikat Taman Pustaka sekaligus pendiri RBK yang selalu mengutip kata-kata pamungkasnya Pram “Dengan melawan kita tidak sepenuhnya kalah”, “Kaum terpelajar sudah harus berlaku adil semenjak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”, “Menulis adalah keberanian”, Kita harus menghargai kemanusiaan. Itulah alasan RBK terbuka untuk siapapun yang merasa dirinya manusia.

Di Rumahnya Manusia itu juga, kita dapat menyaksikan bagaimana peran Minke dan Robert Suurhof yang saling berebut mendapatkan cinta Annelies… (RBK Mahzab kali bedog). Sesekali kita menyaksikan konflik akibat diskomunikasi ataupun perbedaan identitas, namun yang membedakaan konflik di Rumahnya Manusia diselesaikan secara kemanusiaan. Dan cerita di Rumahnya Manusia biasanya berakhir dengan pergesaran koper entah menjelajah ke langit Eropa ataupun kembali ke kampung halaman atau kembali ke pengasingan.*

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup