Ada banyak kegembiraan untuk memberikan kata pengantar pada sebuah buku karya anak muda. Ada kredit dan saham besar dari kaum muda untuk mencegah planet bumi ini kiamat secara premature. Salah satu jihad anak muda adalah menuliskan narasinya, pikirannya, gagasannya, aksinya, pembelaannya, pemuliaannya kepada kehidupan dan lingkungan hidup. Penulis buku, Arifin, adalah satu dari jutaan anak muda yang peduli dan mau berbagi untuk membangun kesadaran dan pencerahan ekologi bagi setiap orang di muka bumi ini. Dua puluh tiga esai ini mewakili keragaman dan dunia ekologi: mulai paradigma, ekofemisnime, komunitas ekoilogi, anti plastik sampai kiamat serangga secara apik dan aktual disajikan.

Merespon perkembangan keamanan ekologi global maka seminar pertama tentang ekologi diadakan pada tahun 1972 di Bandung (Soemarwoto, 1991) menjadi monumental untuk berpihak pada alam. Tak lama dari waktu itu juga dibentuk Lembaga ekologi di Universitas Padjajaran (bukan Lembaga lingkungan hidup karena ada epistimologi yang berbeda). Namun, saya pribadi kadang merasa campur aduk pikiran saya. Di satu sisi ada geliat kesadaran dan pewacanaan ekologi di kalangan masyarakat terlebih sata pandemi covid-19 ini. Di sisi lain, saya juga galau mengenai involusi praktik ekologi (habitus) di kalangan masyarakat. Secara politis, seringkali saya melihat gelagat pendangkalan urusan ekologi menjadi sangat artifisial, event-based, positifis, dan serangkaian kecurigaan lainnya. Ada pengabaian yang nyata dilakukan oleh negara dan ‘pasar’akan keselamatan lingkungan hidup di berbagai sudut tanah air. Karenanya, perlu sekali membedakan ekologi dengan lingkungan hidup. Jika lingkungan hidup diartikan sebagai entitas yang terpisah dari manusia (alam sebagai sesuatu yang bejarak dengan manusia), maka ekologi adalah memasukkan kompleksitas interaksi antar makluk hidup, antara manusia dengan non-manusia, dan sebagainya. Masalah ekologi menjadi titik perhatian dan bukannya lingkungan hidup sebagai milieu.

Penulis buku ini pertama kali saya tahu karena dia ikut menjadi warga belajar dalam kelas pemuda ekoliterasi yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Komunitas di tahun 2018 silam. Puluhan anak muda belajar ekologi dan segala pernak-perniknya secara komunal dan inklusif. Ada beragam mahasiswa dengan latar belakang etnis, kampus, dan budaya yang beragam. Kelas ini berlangsung kurang lebih sampai 8 sesi selama dua bulan yang dipimpin oleh fasilitator saat itu mas Meredian Alam, doktor baru jebolan Australia. Suasana belajar yang asik dan menggembirakan. Buku yangs banyak didiskusikan selama forum ini adalah buku buku ekologi terbitan yayasan Obor sejak tahun 1980an dan juga buku ‘ciamik’ karya Abdul-Matin, Green Deena tau agama hijau terbitan Zaman.

Jika kita percaya kehancuran ekologi disebabkan oleh system kapitalisme ekstraktif yang mewabah di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia ini, maka koreksi radikal harus dilakukan dan tawaran-tawaran pengalaman empiric mengelola sumber daya alam harus diberikan kepada pengelola negara ini. Secepatnya, sebisa kita lakukan. Itu adalah tugas kita: mencegah kerusakan lebih diutamakan ketimbang mengajak berbuat baik sekalipun. Ada banyak gagasan dan dekontruski atas fanatisme pasar. Tokoh-tokoh penerima nobel sudah banyak mengingatkan misalnya EF Schumacher dalam small is beautiful, pentingnya mencegah rezim pertumbuhan yang seolah tanpa batas padahal planet bumi dan isinya ini punya batas daya. Ekonomi biru, ekonomi yang ramah pada kelompok rentan atau yang membela rakyat kecilk sebagai keniscayaan. Bisa ditemukan pemikiran yang inline dengan ini seperti Stiglitz, Muhammad Yunus, dan seterusnya.

Sekarang saatnya saya mengapreasiasi buku keren ini. Bagi saya, buku ini punya dimensi kesegaran narasi yang baik. Selain kumpulan esai ini punya daya gugat pada pihak-pihak yang selama ini memegang kuasa yang menistakan alam, buku ini juga mengajak pembaca membangun nalar ekologi transformative—atau memikirkan ekologi secara kritis dengan daya radikalitas yang bertanggungjawab, misal, membangun praktik skala kecil, komunitas, dan lokal untuk mencegah dominasi wacana yang membelenggu kesadaran manusia: diam-diam orang kemudian menormalkan proyek sawitisasi, penggundulan gunung, pembolongan bukit dan tanah-tanah di berbagai area di tanah air. Narasi ini jelas sangat kuat counter-narasinya atas berbagai macam model Pendidikan neolib yang menjauhkan manusia dari perkara ekologinya, membangun tembok kebodohan ekologis dengan memanjakan dengan piranti digital dan beerbagai janji bisnis platform kapitalistik. Penulis buku ini menolak tunduk dengan terus belajar, meningkatkan daya nalar kritisnya melalui beragam bacaan yang bergizi yang itu sebagian telah dituangkan dengan baik, ringan, dan segar dalam esai-esai di buku ini. Tentu saja, saya sangat senang membacai satu demi satu, kata demi kata, seolah saya sedang didoakan agar selamat dari malapetaka kiamat bumi yang sudah kian dekat. Begini mantra kupanjatkan: 

Bumi makin panas

Pohon pohon meranggas

dan serangga serangga ditarik ke alam baka  

manusia

teralienasi

terpenjarah dalam sunyi

gulita dalam kefanaannya sendiri

taubat ekologi

adalah kunci

Saya kadang merasa sebel dan marah ketika ada manusia yang selalu menuntut aktifis lingkungan membentikan secara ilmiah dari sebuah proyek mega raksasa yang mengancam kehidupan seperti proyek semen, bandara, PLTN, dan lain sebagainya. Mereka yang pegang ‘kuasa paksa’ seharusnya yang membuktikan bahwa proyeknya itu tidak akan menghadirkan dampak buruk bagi kehidupan. Inilah yang diminta Gus Dur agar menjadikan keresahan publik menjadi bukti akan dampak buruk dari proyek pembangunan atau kemajuan yang notabene lebih sering menghadiahkan petaka bagi rakyat ketimbang berkah. Gus Dur mengajukan perlawanan yang pasif agar diperhitungkan oleh pengambil kebijakan. Ini semua direkam dalam kata pengantarnya di buku Pembangunan PLTN: Demi Kemajuan Peradaban?(1996). Pertanggungjawaban dan pembuktian akan resiko pembangunan sudah seharusnya menjadi tanggungjawab pemegang proyek dan bukannya diberikan kepada masyarakat untuk membuktikan dampak buruknya. Kesebelen saya ternyata dibantu E.F. Schumacher dalam bukunnya small is beautiful yang mengutip Ralp dan Mildred Buchsbaum dalam Basic Ecology (1957)kalimat gugatan dari sebagaimana saya cantumkan di sini:

Agama ilmu ekonomi memuja perubahan yang cepat, tidak menghiraukan akibatnya. Perubahan yang cepat yang yang tidak jelas membawa perbaikan belum tentu menjadi berkah. Namun seringkali, tanggung jawab pembuktian itu malah dipaksakan kepada kelompok yang berpihak pada pandangan ekologis: kalua kelompok ini tak bisa membuktikan akibatnya perubahan akan menimbulkan bencana, maka tak bokleh menghalangi proyek berjalan. Padahal menurut akal sehat, harusnya pelaku perubahan keseimbangan ekosistem itulah yang harusnya membuktikan jika rencana rencananya tak mencelakai alam dan manusia. Keberatan mereka karena proses ini akan memakan waktu dan tidak ekonomis. Di sinilah perlunya ekologi bagi ilmu ekonomi agar kiranya pengetahuan ekologi dapat memulihkan dampak buruk dari aktifitas ekonomi. Ekologi mengajarkan bahwa tata lingkungan hidup yang telah berkembang selama jutaan tahun pasti mempunyai segi-segi yang berguna. Sesuatu yang begitu rumit seperti planet yang dihuni lebh dari satu juta jenis tumbuhan dan hewan yang semuanya hidup dalam keseimbangan yang selaras, tidak dapat diperbaiki dengan ambisi perubahan sana sini yang tidak jelas dan tanpa pengetahuan. Perubahan apa pun yang dilakukan pada suatu mekanisme yang rumit selalu mengandung resiko, dan sebelum orang mengadakan perubahan, setiap fakta harus diteliti dengan sangat mendalam. Perubahan harus dilakukan secara kecil-kecilan terlebih dahulu, supaya masih ada kesempatan memeriksa akibat-akibatnya sebelum dilakukan secara luas. Jika tidak ada data yang lengkap, maka perubahan harus tetap dekat dengan alam, yang telah terbukti mampu mendukung kehidupan dalam waktu yang lama sekali.

Saya kira kutipan Panjang ini harus kita renungkan dan tentu saja harus menjadi perhatian pemangku, meminjam Bahasa Purwo Santoso, “kuasa paksa” pembangunan yang sedang mengepung dan mengancam keamanan dan keselamatan lingkungan hidup: biodiversitas di laut, hutan, dan di udara. Semua ini jika tak kita usahakan, maka kiamat besar kecil akan hadir di dalam rumah bersama kita.

***

Dalam kesempatan ini pula saya berharap ada aliansi besar dari kaum muda, tokoh agama. Organisasi, dan juga setiap manusia yang tidak ingin bumi-nya kiamat terlalu awal. Untuk memastikan bumi lestari butuh sebesar-besanya keterlibatan manusia untuk peduli dan memberi guna menyelamatkan ekosistem yang kian limbung dan guncang oleh aktifitas manusia. Hasrat kemajuan kaum pemuja rasional memang telah mencipta bencana yang maha mengerikan bagi kehidupan menyeluruh. Rasionalitas teknologi yang dipuja dan didukung kekuasaan  punya watak yang harus senantiasa diwaspadai karena watak piciknya, ekspansifnya, serakahnya, dan agresifnya. Jelas, oligarki sedang mengeoksploitasi bumi dan isisnya, menhadirkan kiamat bagi setiap orang pada akhirnnya.

Belum lama ini dihelat banyak diskusi urusan manusia, tanah, sumber daya, dan kebebasan sipil. Semuanya saling kait-mengkait seperti ekosistem serangga yang juga terhubung dengan perilaku keseharianb manusia. Ada siding rakyat ada rembug nasional atau kongres rakyat telah dihelat untuk mencegah bangsa ini mengalami bunuh diri masal. Beberapa poin catatan rembug nasional dengan tema Keberdaulatan sumber daya alam untuk kesejahteraan yang mana saya menjadi moderator kegiatan tersebut. Pertama, Keanekaragaman hayati (biodiversity) sebagai sumber kesejahteraan rakyat harus dipertahankan dan menjadi orientasi pembangunan ekonomi. Ekonomi ekstraktif yang dimonopoli oleh kekuatan oligarki telah menjadikan keragaman hayati tidak memiliki makna dan karenanya banyak sekali kutukan sumber daya dialami oleh rakyat. Kutukan sumber daya adalah paradok kekayaaan alam. Lautnya kaya, rakyatnya miskin. Hutannya kaya raya, tetapi penderitaan rakyat tidak berkesudahan, dan juga efek efek negatif dari politik tambang yang berakibat pada kesehatan dan kelestarian Sumber daya alam (air, tanah, udara, dan sebagainya). Plasma Nutfah harus dilindungi dan dijaga jangan dibiarkan dijarah dan dirusak oleh gerombolan manusia yang tak bertanggungjawab.

Kedua, SDA terutama “kekayaan alam alami” harus ditempatkan sebagai anugerah Tuhan yang harus dilestarikian dan bukan hanya dipakai dan dieksploitasi dengan nalar utilitarian yang merusak dan mengancam keamanan di masa depan (merusak keseimabngan ekosistem tempat manusia bergantung dan pad aakhirnya juga mengancam masa depan manusia.Keberdaulatan sumber daya alam sangat terkait dengan akses terhadap tanah. Tanah, air, udara, energi sebagai barang publik yang harus ditegakkan untuk dapat diakses secara luas oleh masyarakat. Mafia tanah harus dihentikan karena menabrak konstitusi dan beragam Undang-undang yang berlaku dan juga menabrak beragam hak asasi manusia (HAM).

Ketiga, Undang-undang yang tidak mempunyai moral politik dan ekonomi yang mendorong keadilan sosial bagi seluruh rakyat haruslah dihentikan terlebih karena pandemic covid-19 sangatlah tidak bermoral jika terus menerus memaksakan kehendak oligarki yang dilegalisir oleh pemerintah (sebagai praktik vetokrasi). Kedaulatan, keberdayaan, keberlanjutan, dan kesejahteraan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat haruslah diutamakan di atas kepentingan sekelompok oligarki. UU Minerba dan RUU Omnibus Law atau cipta kerja harus dibatalkan dan dihentikkan.

Keempat, Ekonomi biru yang menghitung kepentingan alam sangat perlu didorong dalam orientasi pembungunan ekonomi bangsa baik sekala lokal maupun nasional. Pegiat ekologi haruslah melek dengan konsep ekonomi biru ini yaitu ekonomi yang berbasis kekayaan lokal, tidak nyampah, dapat diperbaharui, tidak kapitalistik, dan tentu saja ekonomi yang membela keamanan lingkungan hidup. Nenek moyang kita sudah banyak memberikan contoh empiriknya. Apakah kita mau menaladaninya?melanjutkannya sebagai cara produksi, distribusi, dan konsumsi?

Aliansi masyarakat sipil yang luas sangat mendesak dilakukan untuk menegakkan keadilan sumber daya alam. Kewajiban Bersama anak bangsa ini haruslah diperkuat oleh semua orang sebagai moral politik anak bangsa. Jihad konstitusi seperti yang pernah dilakukan Muhammadiyah dengan skala yang lebih luas perlu dilakukan dengan aliansiu masyarakat sipil. Pendampingan kurban harus menjadi spirit solidaritas kemanusiaan di tengah ancaman kebebasan sipil yang terkait kuat dengan tuntutan keadilan sumber daya.

Gerakan penyelamatan planet bumi atau menunda kiamat serangga bukanlah urusan ahli biologi, virologi, atau ekologi, itu adalah urusan semua orang karena notabene kita (manusia) adalah milik alam yang kebetulan diberikan akal budi dan kebudayaan sehingga memikul tanggungjawab dan dosa berlebih jika alam kehidupan rusak oleh keserakahan manusia. Kita harus selalalu ingat kata Gandhi: bumi bisa menghidupi seluruh manusia, tapi tak cukup untuk satu manusia serakah.

Terakhir, saya ingin mengepresiasi karya ilustrasi yang ada dalam cover buku ini yang sangat bagus menggambarkan dunia yang penuh sesak serakah ekonomi hingga menggusur makluk yang bernama serangga—sumber kelanjutan miliaran spesies pohon dan pangan manusia. Ronicardo, pegiat seni di Rumah Baca Komunitas, adalah pembuat iluutrasi tersebut yang diniatkan untuk hibah karya yang nantinya apabila buku ini dapat dibeli oleh kalangan pembaca yang budiman, hasil itu dapat disumbangkan untuk kebaikan sesama. Bersolidaritaslah kita di dalam kebaikan ekologi dan kemanusiaan karena itu yang akan mencegah kiamat datang terlalu pagi.

Melompat dalam kegalauan saya, bahwa Pancasila yang dibanggakan banyak orang perlu dihijaukan, perlu diradikalisasi dalam konteks pembelaan kepada harapan kehidupan bersama jangka panjang. Jelas sekali digambarkan Yudi Latif bahwa Pancasila adalah ekspresi politik harapan bukan ketakutan, harapan kelestarian bukan politik homo ekonomikus kebablasan. “selama masih lautan yang bisa dilayari, dan selama masih ada tanah yang bisa ditanami, selama itu masih ada harapan”. Bentuk harapan itu adalah advokasi yangs serius agar pembangunan tidak berbuah kutukan sumber daya, agar teknologi yang diciptakan punya watak manusiawi. Tentu saja butuh political will dan ecological will sebagai moral force atau moral politik ekologi yang sangat prima dan paripurna.

Dengan rasa syukur kita sambut buku ini untuk menjadi penyemanat hidup dan menjadi obat bagi lingkungan hidup yang sedang sakit. Selamat membaca dan teruslah berkarya raya.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

David Efendi

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan pendiri LibgenSpace serta aktif di Kader Hijau Muhammadiyah

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link