Boleh Lupa Daratan, Jangan Lupa Lautan!

 Boleh Lupa Daratan, Jangan Lupa Lautan!

“Lupa daratan” kerap kali dianggap sebagai istilah atau peribahasa bermakna negatif, yang ditujukan kepada orang-orang yang tabiatnya telah melampaui batas semestinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lupa daratan berarti bertindak (bersikap) tanpa menghiraukan harga diri (sehingga melampaui batas). Arti lain dari “lupa daratan” adalah orang berbesar hati karena mendapatkan apa yang diharapkan sehingga lupa akan petuah-petuah lain.

Berangkat dari definisi “lupa daratan” di atas, jika dikorelasikan dengan fenomena krisis lingkungan yang akhir-akhir ini semakin memprihatinkan, dapat dikatakan bahwa istilah lupa daratan tidak hanya menyangkut sikap dan kepribadian yang diperlihatkan atau ditujukan antara sesama manusia, melainkan juga berhubungan dengan ketamakan dan kerakusan manusia atas bumi.

Dalam konteks ekologi, istilah “lupa daratan” dapat diartikan sebagai kelalaian manusia dalam memandang dan memperlakukan bumi. Dalam artian, tabiatnya terhadap bumi telah melampaui batas yang semestinya. Padahal jika dilihat, bumi telah menyediakan berbagai sumber dayanya baik di daratan maupun lautan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tetapi balasan manusia pada bumi justru sebaliknya. Ibarat peribahasa “air susu dibalas air tuba”, hal inilah yang terjadi dan dialami oleh bumi.

Sebagai satu-satunya planet yang dapat dihuni oleh mahluk hidup, bumi mengandung unsur-unsur yang dapat menopang kehidupan, salah satunya adalah air. Berbicara tentang air, sebagian besar permukaan bumi ditutupi oleh air dengan persentase 71%, termasuk di dalamnya air laut.

Meski mengambil porsi besar dari planet, pada kenyataannya, manusia telah melupakannya. Ironinya, laut justru dilihat sebagai tempat sampah yang diasumsikan mampu menyerap dan menampung semua sampah dan limbah.

Jika dicermati, laut memiliki kontribusi besar dalam menyerap emisi karbon dioksida (CO2) di bumi. Fitoplankton yang terdapat dalam lautan membantu proses penyerapan karbon. Laut juga berpartisipasi menyuplai 50%-70% oksigen. Angka ini lebih besar dari oksigen yang dikeluarkan oleh hutan di daratan. Dengan kata lain, manusia tidak mungkin bernapas tanpa laut yang menghasilkan setengah dari oksigen bumi.

Berkaitan dengan aspek ekonomi, dilansir dari World Resources Institut, laut mampu memberi kontribusi sebesar 2,5 triliun dolar AS terhadap perekonomian global setiap tahun, menjadi sumber pangan bagi 3 miliar penduduk, serta menjadi rumah bagi lebih dari separuh spesies dunia. Dalam konteks Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2020, diperkirakan potensi ini bisa mencapai 1.338 miliar dolar AS. Hal ini dapat menjadikan sektor kelautan sebagai salah satu sektor andalan untuk menopang perekonomian masyarakat.

Hal senada dipublikasikan National Geographic Indonesia tahun 2021 bahwa sektor perikanan menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional. Sektor ini menyumbang 26 miliar dolar AS terhadap pendapatan domestik bruto Indonesia, membuka lebih dari 7 juta lapangan pekerjaan, dan menyediakan lebih dari 50% kebutuhan protein hewani nasional.

Walaupun demikian, potensi besar yang terkandung dalam sektor kelautan sampai saat ini belum mampu dioptimalkan untuk menjadi tulang punggung penggerak ekonomi rakyat, atau dengan kata lain, laut belum menjadi perhatian utama. Mirisnya, kondisi laut justru terus terancam seperti kerusakan terumbu karang, pembuangan limbah industri yang mengancam biota-biota laut, hingga penumpukan sampah plastik yang terus mencemari laut.

Terutama sampah plastik, di Indonesia sendiri, sampah yang membutuhkan waktu lama untuk dapat terurai ini bahkan menjadi persoalan yang sulit teratasi dan semakin memprihatinkan dari tahun ke tahun. Di lansir dari voi.id (26/04), berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Berdasarkan uraian di atas, baik potensi dan peran penting laut maupun ancaman yang tengah menghantuinya, maka keberadaan laut sudah saatnya dijaga dan dilestarikan. Kerusakan di laut harus diminimalisir, hal ini memerlukan aksi untuk mencegah kerusakan lautan sebelum semakin parah. Ketika laut dikelola secara efektif, laut dapat memberikan hasil yang lebih banyak dan produksinya dapat lebih berkelanjutan.

Untuk itu, menengok kembali judul tulisan ini “Boleh Lupa Daratan, Jangan Lupa Lautan!” pada intinya mengajak kita semua untuk melihat laut tidak sekadar unsur yang menutupi hampir 71% permukaan bumi, tetapi lebih dari itu. Bukan berarti kerusakan yang terjadi di daratan terus dibiarkan (lupa daratan). Hutan, pohon, dan keanekaragaman hayati yang terdapat di daratan memiliki peran penting menopang kelangsungan dan keberlanjutan hidup, tetapi laut juga memiliki peranan yang tak kalah penting. Jangan lupa lautan! Karena, laut adalah misteri yang menyimpan begitu banyak rahasia yang belum terpecahkan. Jangan lupa lautan! Karena, pada laut, jutaan orang mengadu nasib dan menggantungkan hidup. Bagi banyak orang yang tinggal di daerah pesisir, laut bukan hanya sumber makanan dan mata pencaharian, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari budaya dan warisan mereka. Dan yang terpenting, laut harus dilihat sebagai kehidupan itu sendiri.

Bagikan yuk

Arifin Muhammad Ade

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.