Belajar Puasa Pada Platon dan Buya Hamka

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Buya Hamka, seorang ‘Ulama besar penulis kitab Tafsir Al-Azhar berujar bahwa bulan ramadhan merupakan bulan istimewa. Hamka, berujar begini, “Tidak ada waktu di mana orang-orang dapat ikhlas menjalankan perintah untuk menunda makan-minum, serta nafsu seperti saat bulan ramadhan”. Hamka melanjutkan pendapatnya seraya  mengaku jenaka “saya saja kalau diminta menahan minum kopi susu di pagi hari terasa berat..”. Di tengah keinginan badaniah, aturan-aturan tertentu membuat manusia berkehendak sebaliknya. Dari kehendak yang seharusnya dia penuhi; jika lapar maka makan, jika haus maka minum, manusia melakukan yang sebaliknya yakni puasa. Dinamika internal demikian sangat dekat dengan deskripsi jiwa ala Platonian.

Dalam tulisan ini saya akan membahas secara singkat mengenai dinamika puasa menurut tinjauan jiwa ala Platon dan Hamka. Pertanyaan umum yang akan melandasi tulisan ini adalah bagaimana menjelaskan puasa menurut konsep jiwa Platon dan Hamka? Bagaimana puasa sebagai konsep “menahan kehendak nafsu-nafsu” dapat menjadi jalan untuk meneliti dinamika jiwa internal manusia ala tripartisi Platon dan konsep jiwa menurut Hamka? 

Platon dan Hamka menekankan tentang kemampuan manusia melampaui apa yang mengikat dirinya. Makan, minum, dan hasrat seksual adalah apa yang mengikat manusia. Ketiga jenis aktivitas alamiah manusia tersebut integral dengan hasrat-hasrat dasariah, sehingga tidak jarang kita jumpai beberapa pemikiran menekankan pentingnya latihan untuk mengontrol ketiganya. Platon misalnya mengatakan bahwa jiwa (psukhe) adalah gerakan, dan gerakan tersebut adalah tiga hal yakni, epithumia (nafsu-nafsu rendah), thumos (jiwa yang agresif), dan logistikon (jiwa rasional) (A. Setyo Wibowo, 2010: 36).

Sekilas Tentang Platon

Platon, seorang filsuf Yunani lahir di Athena tahun 428/427 SM dengan nama asli Aristokles. Sedangkan nama Platon berasal dari guru olahraganya (A. Setyo Wibowo, 2010: 16). Sebagai salah-satu murid yang pernah belajar selama 8 tahun pada Sokrates, Platon dikenal sebagai filsuf yang menggambarkan figur Sokrates sebagai seorang manusia yang selalu mengatakan tidak tahu apa-apa. Dalam hal ini, Platon memegang peranan penting dalam proses penciptaan citra Sokrates yang demikian. Di Indonesia, nama Platon mungkin terdengar asing, karena lazimnya disebut Plato. 

Pada tahun 387 SM Platon merupakan mendirikan lembaga pendidikan yang bertahan hingga 9 abad lamanya, yakni Academia. Hingga hari ini, Platon dianggap sosok yang sangat penting dalam diskusi-diskusi seputar iman dan akal. Abad 12 misalnya, dianggap sebagai abad di mana gaya Platonian sangat kuat dalam diskursus tentang iman dan akal yang menyatu (Franz Magnis-Suseno, 2005:15). Platon seorang filsuf yang menekankan pentingnya hidup berkeutamaan, yakni kemampuan menyelaraskan hasrat-hasrat dengan pencerahan rasio. Menurut Platon, manusia harus senantiasa mengarahkan kehidupannya kepada keutamaan. Contoh, mata sebagai instrumen penglihatan akan berkurang keutamaannya jika tidak digunakan sebagaimana fungsi-fungsi keutamaan, yakni untuk melihat. Keutamaan telinga untuk mendengar. Begitu juga manusia, keutamaannya adalah menyelaraskan diri dengan rasio.

Keberhasilan manusia menyelaraskan kehidupannya dengan etos rasio sangat tergantung dengan kemampuan mendidik jiwa (eros). Platon menyarankan manusia untuk “merawat jiwanya” karena itu fitrah awal. Karena, terdapat pra-eksistensi manusia berupa jiwa-murni di alam baka, jauh sebelum manusia lahir ke bumi. Pada saat itu manusia berupa jiwa-murni kemudian turun ke bumi, dan bersemayam di dalam daging yang fana. Istilah filsafat menurut Platon berarti “kebaikan yang datang dari para dewa”.

Platon mengasumsikan manusia sebagai makhluk yang terdorong untuk menyerupai para dewa yang sempurna, atau mendorong diri mencapai kualitas yang-Ilahiah. Manusia adalah makhluk mortal dan penuh dengan rangkaian kehidupan yang tidak mudah. Sehingga, manusia mendamba kehidupan dewa yang abadi dan penuh kebahagiaan. Hasrat manusia tersebut membuat yang-Ilahi menghadiahkan rasio untuk manusia. Ketika manusia dianugerahi rasio, dia menjadi makhluk yang sepenuhnya paradoks. Pada satu sisi, dirinya tahu bahwa dirinya adalah makhluk yang tidak dapat sempurna berpengetahuan. Sedangkan pada sisinya yang lain, dia ingin mendekati keilahian dengan pencarian ilmu pengetahuan. Oleh karena itu filsafat bagi Platon adalah “bergerak menjadi”, dalam hal ini Setyo Wibowo (2010:27) menyebut definisi Platon sebagai “mengabaikan dirinya sendiri”. Dengan demikian menurut Platon hanya berfilsafatlah kegiatan yang sesuai dengan martabat manusia (Franz Magnis-Suseon, 2005:107).

Setyo Wibowo menggambarkan periode konteks di mana Platon lahir yakni sebagai “Athena yang demokratis pelan-pelan meredup”. Demokrasi Athena yang perlahan meredup itu juga pada akhirnya terkait dengan kenyataan pahit bagi Platon saat gurunya, Sokrates dihukum mati.

Buya Hamka, Ulama Besar Indonesia

Hamka merupakan nama pena dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Hamka dikenal sebagai seorang ‘Ulama, Jurnalis, Sastrawan, Filsuf, Aktivis, Sejarahwan hingga Politisi. Berbagai macam atribusi tersebut melekat pada Hamka karena dua sebab. Pertama, Hamka pada dasarnya memang seorang yang memiliki perhatian luas terhadap berbagai hal. Oleh sebab perhatian yang luas tersebut, tidak jarang Hamka menulis dan mengkaji berbagai persoalan. Sepanjang hidupnya, Hamka menerbitkan sekitar 118 karangan dalam bentuk buku dan artikel.

Atribusi sebagai seorang ‘Ulama melekat pada Hamka karena karangan intelektualnya sebagai seorang ‘Ulama dikenal luas. Salah-satu yang dianggap paling monumental adalah Tafsir Al-Azhar yang ditulis semasa di penjara. Kitab tafsir itu bahkan sedemikian populer hingga hari ini. Dan disebut-sebut sebagai kitab tafsir pribumi yang terbaik dan teliti (bebas) dari berbagai kontroversi historis.

Sebab kedua, atribusi atau gelar tersebut diperoleh melalui hasil kajian terhadap tulisan-tulisan Hamka. Hamka dianggap penulis sebagai penulis muslim modern terpenting di Asia Tenggara (Rush, 2016). Secara spesifik, Hamka juga dianggap sebagai penulis kajian etika Islam di Indonesia (Haris, 2010). Kenangan terhadap Hamka terawat jelas karena buku-bukunya terus menerus beredar dan dicetak dalam edisi lebih baru. Pembuktian terhadap pemikiran etika Hamka memberikan kita penjelasan mengenai posisi Hamka dalam berbagai tulisannya. Misalnya Tasawiuf Modern, Falsafah Hidup, Pandangan Hidup Muslim, dan beberapa karangan lainnya.

Hamka lahir di Maninjau Sumatera Barat pada tanggal 17 Februari 1908, dan wafat pada tahun 1981. Hamka hidup dalam tiga masa yang berbeda. Pertama, Hamka hidup pada masa kolonial. Hamka hidup pada momen kebangkitan gerakan Islam dan gerakan nasionalisme yang sedang menguat di Indonesia.Kedua, Hamka hidup pada masa transisi antara masa kolonial Belanda, Jepang, menuju ke masa proklamasi Indonesia. Ketiga, Hamka hidup dalam masa di mana pergolakan antara rezim Soekarno dan rezim Soeharto. Konteks historis antara ketiga waktu tersebut hanya cara sederhana untuk membagi situasi sosial-budaya hingga ekonomi-politik Indonesia saja. Lebih daripada itu, ada konteks tertentu yang dapat diperhatikan secara terperinci. Satu hal penting untuk memperhatikan konteks historis ini terletak pada kemungkinan kita untuk memahami pemikiran Hamka dalam bidang filsafat.

Titik Temu Platon dan Hamka

Antara Platon dan Hamka terdapat dua hal yang mirip. Pertama, Platon dan Hamka sama-sama memberikan penekanan pada aktivitas “merawat jiwa”. Platon digambarkan sebagai filsuf yang memberi penekanan penting terhadap aktivitas merawat jiwa sebagai konsekuensi logis dari nilai tinggi jiwa rasio manusia. Hamka, sebagaimana yang tampak paling tidak dalam tiga karangannya; Tasauf Modern, Falsafah Hidup, dan Lembaga Hidup juga menekankan pentingnya merawat jiwa.Hamka dalam Pelajaran Agama Islam (1996:xi) menyatakan:“Maka banyak soal-soal yang tidak dapat dicarikan jawabnya manusia dengan usahanya sendiri..karena perjalanan akal dan fikiran itu terbatas..alat-alat (akal dan fikiran, pen) yang ada pada manusia tidak cukup buat melampaui batas itu..sedang manusia masih tetap ingin hendak sampai ke sana.”Kedua, Platon dan Hamka sama-sama memiliki perhatian terhadap proses mendidik jiwa sebagai konsekuensi dari proses merawat jiwa.Ketiga, Platon dan Hamka memiliki definisi yang serupa berkaitan dengan arti rasio atau akal. Bagi Platon, rasio adalah sais yang mengikat atau mengendalikan kereta kuda yang diseret oleh dua jenis kuda berbeda. Kuda hitam (epithuma) dan kuda putih (thumos) mewakili sifat yang berbeda-beda. Kuda hitam mewakili nafsu-nafsu rendah seperti makan, minum, dan seks. Sedangkan kuda putih mewakili hasrat harga diri.

Hamka juga mengartikan rasio atau sebagai “ikatan”. Hamka dalam Falsafah Hidup (2015:16) berkata “(akal) ibarat tali yang mengikat unta..tali mengikat unta supaya tidak lari, akal manusia mengikatnya pula supaya tidak lepas mengikuti hawa nafsu”. Memang Platon mengatakan akal sebagai “sais”, sedangkan Hamka menyebutnya dengan “ikatan” atau “tali”. Pengandaian itu bermuara pada satu kesan tunggal, yakni; akal atau rasio sebagai “pengendali”.

Berkaitan dengan rasio atau akal, Platon mengalamatkan asalnya dari “pemberian dewa” atau “pemberian yang-Ilahi”. Hamka juga menyatakan bahwa asal dari rasio atau akal ialah “inayah dari Allah”.Keempat, antara Platon dan Hamka memandang jiwa manusia selalu dalam kondisi konflik internal. Hamka menyatakan “akal dan hawa, dua kekuatan yang bertempur di dalam diri kita” (Falsafah Hidup, 2015:59).

Puasa Seorang Platonian

Tripartisi jiwa tersebut disinggung seperlunya guna menjelaskan tentang konflik-konflik diri manusia. Konflik antara jiwa-jiwa yang bertentangan. Misalnya, saat diri menginginkan makan dan minum, tetapi aturan ketaatan memerintahkan kita untuk menundanya. Konflik antara tiap diri tersebut dijelaskan oleh Platon melalui tripartisi jiwa.Maksud puasa, menurut Hamka adalah “supaya hubungan dengan Tuhan terpelihara”. Apakah hubungannya dengan pengendalian tripartisi jiwa?. Puasa merupakan “perbuatan” atau aktivitas yang dapat meneguhkan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dalam konteks demikian, Hamka hendak menjelaskan makna laallakum tattaqun.

Keteguhan jiwa pada yang Ilahi dijelaskan oleh Hamka saat manusia insyaf bahwa yang dapat memerintah dirinya hanyalah yang Ilahi. Dan saat keinsyafan itu mengantarkan manusia taat berpuasa, timbul dalam dirinya perasaan kebersamaan dengan Tuhan, sehingga hubungannya semakin kokoh. Dengan berpuasa, manusia dapat menguasai jiwa, sehingga hubungan dengan Tuhan terpelihara.Kunci hidup Arete atau Excellent menurut Platon tergambar dengan jelas melalui kalimat sederhananya “kenalilah dirimu, dan jangan berlebih-lebihan” (A. Setyo Wibowo, 2010: 31).

Pembahasan mengenai tripartisi jiwa Platonian berangkat dari pertanyaan seputar diri yang hendak dikenali oleh manusia. Penyelidikan tentang diri, menjadi pertanyaan yang terus menimbulkan minat. Letak penting mengenali diri melalui apa yang kita sebut jiwa disebabkan oleh peran penting jiwa terhadap keputusan-keputusan manusia. Jiwa adalah semacam agen moral dan rasional yang menentukan keputusan-keputusan manusia. Sehingga, menjadi sangat penting bagi setiap orang untuk mengenal dan merawat jiwanya supaya keputusan-keputusan hidup dapat diarahkan pada peningkatan kualitas-kualitas manusia. Saat manusia lapar dan haus, ada yang merasa menderita rasa kurang. Itu bukan “apa”, “siapa”, atau “sesuatu”, melainkan kodrat.

Platon menghindari penggunaan atribusi materi untuk menjelaskan jiwa. Oleh karena itu, untuk menjelaskan peristiwa lapar dan haus pada manusia, Platon menjelaskan makna jiwa sebagai “dia yang menggerakkan dirinya sendiri” (autokineton). Dalam perkara puasa, saat manusia menderita lapar atau haus, peristiwa di dalam dirinya tidak sekedarkebutuhan untuk memperbaiki sel mati, atau memberikan asupan nutrisi bagi tubuh. Melainkan juga aktivitas konflik internal. Saat manusia lapar, haus, atau menginginkan aktivitas seksual, dia tidak dapat mensegerakannya. Alasan di balik penundaan manusia tersebut menjelaskan bahwa terdapat dorongan-dorongan tertentu yang menentukan pilihan manusia. Misalnya, karena perintah agama untuk berpuasa, maka orang yang lapar atau haus akan memutuskan menunggu waktu berbuka puasa. Dorongan-dorongan tersebut mencegah seorang yang berpuasa untuk segera menegak segelas air atau menyantap makanan.  

Contoh orang berpuasa untuk menjelaskan tripartisi jiwa termasuk konflik-konfliknya cukup menjanjikan. Saat orang berpuasa, rasa lapar, rasa haus, dan keingingan untuk menunaikan kewajiban saling berkonflik. Dorongan alogistikonakan memaksa manusia menuruti sifat mortal dan irasional, tetapi tidak berarti bahwa dorongan logistikon tanpa hasrat sama sekali. Logistikon dapat menderitasesuatu (pathos) juga melakukan sesuatu (ergon). Hasrat dalam dorongan logistikon tetap melibatkan proses berpikir yang rasional. Proses tersebut menghasilkan hasrat spesifik yang akan membimbing seseorang memutuskan perkara berdasarkan timbangan yang teliti. Oleh karena logistikon mengandung sifat pathe yakni menderita sesuatu, dia dapat melakukan (ergon) melakukan sesuatu. Misalnya dengan berpuasa, orang menjadi peka terhadap penderitaanorang lain. Baik dalam konteks rasa lapar dan haus yang diderita kaum papah, atau konteks melatih jiwa sehingga berkemampuan menyingkap kebenaran di balik realitas yang tampak rutin dan wajar.

Hamka dan Prinsip Platonian

Penyelidikan mengenai jiwa dan fungsi-fungsinya serta pengelolaannya tidak saja menjadi minat Platon. Hamka, yang juga membaca pendapat-pendapat Platon tidak dapat dipungkiri dipengaruhi oleh Platon atau yang disebut Hamka denganPlatonisten (Hamka, Tasawuf Modern, 1990:37). Meski dalam karangannyaTasawuf Modern, lebih tampak secara eksplisit Aristoteles daripada Platon. Maksud Hamka dengan Platonisten mungkin saja adalah Sokrates dan Platon.Empat sifat Platonisten yang disinggung oleh Hamka adalah hikmat, keberanian, kehormatan (‘iffah), dan adil. Kebahagiaan menurut kelompok Platonisten disebabkan oleh empat sifat utama manusia tersebut. “kesuburan pokok” pada empat sifat keutamaan tersebut akan “menumbuhkan banyak dahan dan ranting”(hlm.38). Empat sifat keutamaan yang demikian akan merawat manusia pada penderitaan-penderitaan.

Pokok-pokok pikiran Platonian tersebut digunakan Hamka untuk menjelaskan anasir-anasir kebahagiaan. Penderitaan manusia disebabkan oleh tubuh sebagai tanda dari jiwa terikat. Padahal selama jiwa tidak diganggu oleh nafsu-nafsu yang membuatnya menderita keinginan-keinginan, jiwa dapat mencapai kebahagiaan. Penafsiran Hamka demikian sangat jamak ditemukan dalam interpretasi-interpretasi pemikiran Platon (bdk, T.M. Robinson, Platon Psychology, 1995).

Dalam Phaidon, “pendengaran, pandangan, rasa sakit, rasa nikmat” dapat mengganggu jiwa (A. Setyo Wibowo, 2010:72).Hamka menyatakan bahwa untuk dengan menggunakan rasio atau akal, manusia dapat membebaskan diri dari kehendak nafsu-nafsu rendah. Hamka menyatakan “kepada akal itulah bersandar segala perkara yang wajib dia lakukan atau wajib dia tinggalkan” (Falsadah Hidup, 2015:8). Rasio atau akal membuat manusia harus melakukan apa yang tidak dia kehendaki. Saat berpuasa, tubuh menghendaki pemuasan-pemuasan tertentu seperti makan, minum, dan aktivitas seksual. Tetapi manusia yang memilih berpuasa (lengkap dengan segala peraturan-peraturan yang melarang pemuasan tersebut) akan menunda pelaksanaannya (makan, minum, seks).

Puasa juga melarang berkembangnya hasrat harga diri dari jiwa (thumos) yang berlebihan. Artinya saat orang berpuasa, kehendak untuk memamerkan ibadah tidak diperbolehkan. Akal harusnya menuntun manusia untuk tidak berperilaku riya’ dalam ibadah.  Optimalisasi fungsi akal atau rasio dalam mengatur konflik internal jiwa menurut Hamka sama pentingnya dengan yang diungkap oleh Platon. Puasa, sebagai proses latihan atau proses melatih diri, dan jiwa.  

Bibliografi

Hamka, Falsafah Hidup, Jakarta: Penerbit Republika, 2015.______, Tasauf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990.______, Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996.Hamka, Irfan, Ayah, Kisah Buya Hamka, Jakarta: Penerbit Republika, 2013.Setyo Wibowo, Agustinus, Arete: Hidup Sukses Menurut Platon, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2010.____________________ (Penerjemah dan Penafsir), Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes), Yogyakarta: iPublishing, 2011._____________________ (Penerjemah dan Penafsir), Platon; Xarmides (Keugaharian), Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2015.6

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup