Bara di Danawari
Oleh: Kinanti Shiamadiasa / Santriwati Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kab. Tegal.
“Saya hitung sampai lima, semua sudah harus berada di depan saya!”
Suara itu kering dan tegas, memecah kesunyian pagi di halaman Pondok Pesantren Ahmad Dahlan. Sang Komando Dewan Kehormatan—yang kami sebut “Dekor”—mulai menghitung. Ritme hitungannya memberi tekanan pada saraf-saraf kami. Satu… dua… tiga…
Sebelum angka lima terucap, pasukan sudah terkunci dalam barisan yang presisi. Hari itu bukan hari biasa. Ini adalah Reksa, sebuah perjalanan kenaikan tingkat Utama dan TM 1 yang akan menguji batas fisik dan batin kami.
“Ayunda harap iman kalian terjaga sampai akhir perjalanan. Semangat terus!” Ayunda Dekor memberikan instruksi terakhir. Matanya menyapu barisan kami yang membawa beban di punggung. Ada rasa sumringah yang tak bisa kusembunyikan. Di balik seragam ini, tersimpan energi yang meledak-ledak. Saya siap.
Langkah Pertama: Yel-Yel dan Komitmen Lingkungan
Tepat pukul 07.00 WIB, perjalanan dimulai. Kelompok saya, Kenanga, berada di urutan keempat. Sebuah tas rakitan dari botol air mineral bekas yang ditali melingkar di bahu menjadi teman setia—sebuah upaya kecil kami untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai sepanjang jalur trekking.
“AYUNDA MAU YEL-YEL KALIAN DISUARAKAN DENGAN KERAS! BISA DIPAHAMI?”
“SIAP BISA!” teriak kami serempak.
Di sepanjang pemukiman warga Kampung Sesepan, kami membakar semangat dengan teriakan: “Kaki, kaki, kaki kanan ke depan! Kaki, kaki, kaki kiri ke depan!” Sorak-sorai itu adalah pernyataan bahwa kami adalah santri yang tangguh, yang pantang mengeluh meski matahari mulai menyengat kulit.
Dua jam berlalu. Hutan-hutan telah kami lalui. Bahu saya mulai terasa pegal saat bergantian memikul tongkat kayu yang digantungi berbagai logistik. Tubuh kami basah kuyup oleh keringat, aroma tubuh mulai menyengat, namun percakapan konyol dan tawa di sepanjang jalan menjadi pelipur lara. Kami sedang menuju satu titik: Sungai Batu Danawari.
Dilema Tungku
Tiba di tepian sungai, tantangan berikutnya menanti: membuat tungku alami. Instruksinya jelas, kami hanya diberi korek kayu dan bahan mentah. Sisanya adalah urusan kreativitas dan ketahanan.
“Ayok gais! Kita coba-coba saja, saling bantu ya,” ajak saya kepada teman sekelompok. Kami mulai mengumpulkan batu bata merah untuk membuat benteng pertahanan api. Sesuai pesan ekologis yang kami bawa, kami hanya mengumpulkan ranting-ranting jatuh dan daun kering yang berserakan, enggan menyakiti pohon yang masih hidup.
Namun, alam punya ujiannya sendiri. Korek pertama padam. Korek kedua gagal. Angin sungai yang bertiup kencang seolah mengejek usaha kami. Hingga satu kotak korek habis dan benteng batu kami berantakan, api tak kunjung menyapa.
“Cape banget, sudah setengah jam kita begini,” keluh saya sambil melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 10.45 WIB. “Kalau begini terus, mending bawa kompor traveling saja,” celetuk teman yang lain disambut tawa masam.
Di tengah keputusasaan, mata saya menangkap sosok seorang bapak yang duduk tenang di bangku kejauhan sambil merokok. Dengan sedikit rasa sungkan karena aturan melarang meminta bantuan pihak luar selain panitia, kami akhirnya menghampirinya. Ajaib, dengan bantuan tangan dingin sang Bapak dan sedikit minyak, api langsung berkobar besar dalam hitungan detik.
Kami belajar satu hal: pengalaman seringkali memenangkan pertempuran di mana teori gagal. Sosis tusuk segera ludes terbakar, bahkan kelompok lain pun ikut menumpang di tungku “ajaib” kami.
Gupak-Gupakan
Setelah perut terisi dan kewajiban sholat Dzuhur ditunaikan secara berjamaah di gubuk panjang, kami diizinkan untuk “gupak-gupakan”—bermain air di sungai.
Byur!
Dinginnya air Batu Danawari seketika meluruhkan semua debu dan sisa abu kayu bakar yang membuat wajah kami cemong. Di dalam jernihnya aliran sungai, kami diingatkan untuk tidak membiarkan selembar plastik pun hanyut. Menjaga sungai tetap jernih adalah cara kami berterima kasih pada alam yang telah menyembuhkan lelah kami.
Keseruan itu ditutup dengan cilok kuah panas dari pedagang keliling. Memakan cilok pedas di tengah angin sepoi-sepoi sungai adalah kemewahan yang tak ada tandingannya.
“Kinanti! Ayo naik, anti mau ditinggal?” teriakan teman dari atas mobil pick-up menyadarkan saya dari lamunan. Saya buru-buru berlari, hampir tertinggal karena terlalu asyik menikmati suasana. Di atas mobil yang melaju pulang, kami duduk berdesakan, saling bertukar cerita tentang kegagalan menyalakan api dan dinginnya air sungai. Reksa hari ini bukan hanya tentang kenaikan tingkat, tetapi tentang bagaimana santri harus mampu bersahabat dengan semesta. Pengalaman ini, tak akan pernah saya lupakan.