Ambruknya Demokrasi dan Menguatnya Oligarki Ekstrem

Oleh: Dafrin Muksin

Judul Buku: Ambruknya Kredibilitas Demokrasi

Penerbit: Pustaka Pelajar

Penulis: Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A.

Tahun Terbit: 2019

Jumlah Halaman: 246

ISBN: 978-623-236-007-5

Semenjak 1950-an demokrasi begitu dikagumi dan di puja-puja sebagai sistem pemerintahan yang paling baik, dalam pidatonya Wiston Churchil (1947) di hadapan Perwakilan Rendah Inggris  menegaskan “bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling buruk, tetapi yang paling baik diantara semua bentuk pemerintahan yang pernah dipakai dari masa kemasa.” 

Demokrasi mengalami titik klimaksnya ketika  rutuhnya fasisme diakhir perang dunia II dan lengsernya komunisme yang begitu mapan di dunia barat. Sosiolog AS Daniel Bell dalam karyanya The End of Ideology (1960), menyatakan bahwa stok dari ide-ide politik telah habis. Setelah keruntuhan komunis, debat ini dimunculkan kembali oleh para teoritikus ‘Akhir Sejarah’ salah satunya adalah Francis Fukuyama yang secara tegas menegaskan bahwa demokrasi liberal adalah ideologi tunggal, telah menang mengalahkan semua pesaingnya dan kemenangan itu bersifat final.

Walhasi, hampir semua negara mengklaim sebagai negara yang demokratis. Perkembangan demokrasi bergerak ketitik kemajuan dipelopori oleh negara-negara maju yang berada di daratan Amerika (demokrasi presidensil) dan Eropa (demokrasi parlementer). Sebuah negara dikatakan berhasi menerapkan demokrasi, ketika mampu memberikan–menjamin  kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas dalam bernegara. Ketika kita melakukan penelusuran terhadap literature sejarah,  maka demokrasi akan ditemukan sebagai sikap penolakan kepada pemerintahan monarki dan tirani. Sehingga, secara sederhana  demokrasi dimaknai sebagai sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Meskipun demikian, demokrasi tidak selamanya baik atau tidak selamanya buruk. Ada sebuah fakta menarik dan menjadi perhatian mengenai perihal demokrasi saat ini, yang coba di jelaskan oleh Bambang Cipton dalam bukunya “Ambruknya Kredibilitas Demokrasi” di mana Amerika yang sekian lama telah mendemostrasikan nilai-nilai demokrasi dan hak asasasi manusia,  menjadi benteng pertahanan dan rujukan negara lain dalam menerapkan demokrasi. Namun, semenjak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden merubah wajah Amerika menjadi otoriter yang jauh dari nilai-nilai demokrasi yaitu menguatnya oligarki di tengah-tengan demokrasi. 

Dalam catatan the economic Intellegence unit2018 menempatkan amerika pada urutan 21 kelompok flawed democracyyaitu negara yang cacat menerapkan demokrasi. Berikut ini fakta kecacatan demokrasi di Amerika: Ketimpangan pendapatan, demokrasi Amerika gagal menciptakan perekonomian yang berpihak kepada rakyat kecil yang terjadi justru yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin.  Musuh utama yang dihadapi Amaerika bukan Cina, namun kemiskinan karena saat ini masyarakatnya dari 43 juta atau 12% adalah penduduk miskin.  

Runtuhnya kepercayaan publik, feomena kehilangan kepercayaan publik seiring dengan menurunya kinerja pemerintah disebabkan karena sikap dari anggota kongres yang cenderung partisan, tidak kompak, tidak fungsional, dan malas. Serta kebijakan yang dibuat bukan atas dasar kepentingan umum, namu lebih mengutamakan kepentingan kelompok, dan menabaikan kepentingan rakyat kecil. 

Popularitas demokrasi merosot, masyarakat Amerika terutama generasi milenial berkisar 30% menganggap penting hidup dalam demokrasi, sebagai kekecewaan terhadap demokrasi 81 % setuju militer mengambil alih kekuasaan karena pemerintahan sipil dinilai gagal dalam menjalankan tuganya.

Kebangkitan gerakan populis (ektrem kanan) yang menjadikan rasa kecewa (tidak mendapatkan pekerjaan dan jaminan hidup) sebagi penebar kebencian kepada pemerintah dan sesema mereka yang dianggap mendapatkan perhatian pemerintah. 

Oligarki kapital, dimana sekitar 10% warga amerika menguasai 70% kekayaan nasional, sehinganga menciptakan ketimpangan pendapatan. Hal itu, memperkeru suasana harmoni masyarakat Amerika yang harus memilih atara makan, kesehatan, atau tetap tinggal. Ataupun dilema memilih uang atau hidup. 

Pemerintahan otoriter, Donal Trump tidak mampu membedakan kritik kepada negara dan kepada dirinya. hal-hal sederhana dituduh sebagai tindakan tidak patriotik dan lebih hormat kepada tokoh-tokoh militer atau orang-orang kuat. Jika ada yang tidak selarasn denganya,Trump tidak segan-sengan untuk menyingkirkan dan menleyapkanya. Hal ini memperlihatkan betapa otoritenya rezim yang berkuasa sebagai petanda krisis demokrasi yang melanda Amerika. Ambruknya kredibilatas demokrasi beriringan dengan menurunya kinerja pemerintah dan menguatnya oligarki otoriter.

Jika Amerika terolong cacat menjalankan demokrasi, lantas bagaimana dengan Indonesia yang baru belajar berdemokrasi. Alih-alih negara demokrasi pelanggaran HAM dan Korupsi selalu terjadi. Mari kita renungkan sejenak. Sudah demokrasikah negara kita? gambaran ambruknya demokrasi Amerika diatas dapat dipastikan adalah realitas hari ini yang tengah kita hadapi sebagi negara demokrasi.  Misalnya: penghormatan kepada militer atau orang-orang kuat. Kabinet pemerintahan Jokowi jilid 2 saat ini tidak lepas dari  militer yang punya pengaruh dan orang-orang kuat lainya.

Dari segi ekonomi dan politik, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun yang menikmati hanya segelintir orang. Melalui filem dokumener Sexy Killers garapan Dhandy Laksono memperlihatkan, bahwa oligarki politik saat ini juga merupakan oligarki kapital yang menguasasi kekayaan Indonesia, sehingga kemiskinan dan kemelaratan menjadi ciri di negeri ini. yang gemuk semakin gemuk dan kurus semakin kurus. 

Meskipun, katanya demokrasi Indonesia dalam keadaan stabil, diukur berdasarkan kebebasan sipil, hak-hak politik, dan lembaga demokrasi. Namun, faktanya sebagian besar orang resah atas rezim dan elit politik yang berkuasa saat ini. Kritik di penjara, berkumpul–berserikat dibubarkan, dan menyampaikan pendapat dimuka umum (demonstrasi) ditembaki. Belum lagi wajah parlemen:  mengutamakan kepentingan kelompoknya daripada kepentingan masyarakat, malas, dan ingin menjadi pahlawan di akhir jabatan dengan memojokan rakyat melalui RKUHP, UU KPK, RUU Ketenaga Kerjaan, RUU Pertanahan, dan RUU PKS yang tak kunjung diselesaikan. 

Ambruknya kredibilitas demokrasi Amerika dapat dibilang ambruknya demokrasi Indonesia dua kali lipat darinya. Menguatnya oligari (absolut), sangat rakus kekuasaan, berjubahkan oligarki politik dan oligarki kapital (politik dan ekonomi dikuasasi oleh sekelompok orang) untuk melanggengkan kekuasaanya. Sifat kekuasaan kekayaannya sangat ekstrim sehingga dapat dikata teroris oligarki ini adalah aliran garis keras alias ekstremis. Kekuasaan dibutuhkan untuk menguasai sumberdaya yang terbatas. Pada akhirnya oligarki bertumbuh, bermekar, dan beranak pinang diatas ambruknya demokrasi.

Sekiranya lewat gambaran kritis Bambang Cipto menjadi pengingat untuk segera berbenah, bahwa demokrasi tidak dalam keadaan baik-baik saja.***

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup