ALITERASI MENGEPUNG KITA: PENGETAHUAN, ETIKA DAN KETERDIDIKAN

 ALITERASI MENGEPUNG KITA: PENGETAHUAN, ETIKA DAN KETERDIDIKAN

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas.” Pramoedya Ananta Toer di Bumi Manusia, halaman 138.

Setiap orang yang literat tidak bisa serta merta disebut terpelajar. Bisa saja seorang individu yang literat, tetapi tidak berbudaya, amoral, rabun etika, hegemonik, intoleran, curang, bohong, mendominasi, tidak bertanggung jawab, dan bertindak tidak masuk akal bahkan di luar nalar. Padahal ia memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik, menyampaikan pendapat secara lisan dengan sempurna dan berpengetahuan luas dalam disiplin ilmu, mata pelajaran, atau profesi tertentu.

Kita sangat paham literasi adalah tentang memeroleh keterampilan hidup dan pembelajaran pengetahuan, sedangkan pendidikan adalah tentang menerapkan keterampilan hidup dan pembelajaran pada pengetahuan untuk  kepentingan personal, orang lain, masyarakat, negara dan bangsa. Individu terdidik menunjukkan kemampuan untuk berpikir dalam istilah yang lebih luas dan mampu menganalisis secara rasional.

Namun di sisi lain, secara filosofis kadang kontradiktif dengan tujuan pendidikan yang tergantung pada konteks, kejadian ekonomi, peristiwa sejarah dan faktor lainnya. Misalnya memeroleh keterampilan teknis untuk mesin dan sekrup industri, membaca kitab suci untuk selamat di akhirat dan masuk surga, kampanye membaca hanya pencitraan kepentingan kelompok (duit) politik atau ekonomi tertentu, terlihat peduli untuk urusan memperkaya diri sendiri dan agenda tersembunyi lainnya. Inilah yang terjadi secara umum di seluruh belahan dunia.

Gerakan literasi dan pengetahuan hari ini dan ke depan bukan lagi urusan menanggulangi iliterasi, apalagi urusan memaksa orang menjadi penulis. Gerakan kita sekarang adalah mencegah ALITERASI pada orang-orang berilmu yang memiliki kemampuan dan pemahaman atas pengetahuan dan informasi, tetapi mengabaikan kebermanfaatan pengetahuan yang dia miliki untuk perbaikan kualitas hidup di bumi. Sekarang lebih banyak untuk pamer ilmu demi tujuan pragmatisme semata.

Faktor-faktor kontekstual, dismal, proksimal, fisikal perihal sosial, budaya, kebiasaan umum, interaksi sosial, kepribadian, kebijakan, sistem pendidikan, dll. bisa mendukung terjadinya aliterasi. Konsentrasi pendidikan formal (menular juga ke pendidikan masyarakat) yang berlebihan

perihal keterampilan literasi dan pelatihan kecakapan profesional dapat menyebabkan kita memproduksi massal orang yang menyandang gelar terpelajar yang tidak beretika, lulusan sekolah tanpa karakter. Senyatanya etika ada karena kita adalah manusia.

Literasi baru di dalam pendidikan jangan terjebak di urusan menghasilkan produk dan jasa yang paralel menciptakan oligarki baru. Mari kita rayakan literasi, kita hormati pengetahuan, kita dukung semua bentuk kemajuan teknologi, tetapi semua harus demi mengangkat derajat kemanusiaan. Kita musti renungi dan maknai lebih dalam dan dalam lagi perihal literasi dan pendidikan kita hari ini.

Pembangunan karakter manusia yang berpendidikan, literat, berdaya dan humanis adalah tingkat tertinggi dari keliterasian dan keterdidikan. Literasi adalah urusan kemanusiaan dan bagian penting dari kebudayaan kita. Menjadi terdidik dan literat adalah sikap dan tindakan kita.

…..

Pada Baca Kita Bertemu

Dengan Baca Kita Melawan

Demi Baca Kita Berpihak

Kita Berdaya karena Kita Membaca

Bagikan yuk

Wien Muldian

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.