Air dan Islam adalah Satu dan Padu

Oleh: David Efendi

Wacana dan praktik islam hijau–islam yang sungguh sungguh mempraktikkan cara hidup yang aman bagi lingkungan dan masa depan planet, masih jauh panggang dari api. Ada kesan termarginalkan, ditepikan, dan secara fikih kurang atau tidak diprioritaskan. Di organisasi islam arus utama, seperti Muhammadiyah dan NU, gerakan islam hijau masih relatif lemah. Bukan hanya kontek Indonesia, di banyak belahan bumi demikian muslim masih sebelah mata memandang eko-teologi. Ada beberapa segmen komunutas muslim yang sudah menerapkan greendeen seperti di Amerika.

Jika kita telusuri, banyak dan melimpah seruan membela lingkungan yang ada dalam al quran dan hadis. Ada banyak tafsir yang membahas hanya karena oaradigma berislam lebih kuat pada aspek ibadah mahda yang sifatnya rutin dan konvensional maka seruan yang mengarah pada ijtihad progresif kurang mendapat perhatian. Kebersihan memang diakui sebagian dari iman tapi tidak otomatis ummat islam serius menhadvokasi ledakan sampah di perkotaan, rusaknya air tanah akibat industri, pemanasan global, dan sejenisnya.

Air dan Islam

Islam dan air adalah satu kesatuan. Tidak ada praktik berislam paripurna tanpa air. Air sangat sentral dalam prosesi ibadah dalam Islam. Bersuci sangat tergantung pada keberadaan air. Bahkan tanda tanda kebesaran Allah diperlihatkan dalam proses penciptaan manusia dari “air hina” lalu dari air itu menjadi segumpal darah dan wujudlah manusia makluk yang sempurna. Allah telah memperlihatkan praktik konservasi dari material hina menjadi mulia. Inilah inspirasi yang dahsyat bagaimana manusia seharusnya mengupayakan konservasi dan menstransformasi karunia ilahi berbentuk air dan energi lainnya.

Pekan ini saya membaca buku yang berjudul Islam dan Air (Siti Hajar r.a). Buku yang diterjemahkan ini karya Dr. Husna Ahmad Obe yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia tahun 2015 sangat membantu operasionalisasi islam hijau. Buku pendek singkat padat hanya 28 halaman saja, dilengkapi dengan ilustrasi yang asik, plus bonus dvd membuat sangat pas jadi bacaan muslim yang baik dan pro ketahanan lingkungan. Panduan praktis memuliakan air sebagai rahmat untuk semua. Bagaimana air harus diperlakukan, bagaimana tekniknya menghemat dan memuliakan air di negara maju dan berkembang. Dari teknologi tinggi sterilkan air, gunakan teknologi tepat guna hemat air wudhu, memanfaatkan air cucian di dapur, sampai memanen air hujan. Islam hijau, islam yang memuliakan air. Kisah siti Hajar ssbagai pelajaran bagaimana air itu sulit didapat dan bagaimana harus dimuliakan amanahnya.

Kedahsyatan air dalam kesempurnaan berIslam memang sangat central. Hanya saja, kaum beriman tidak otomatis punya perilaku serius memuliakan air apalagi berfikir dan bertindak untuk konservasi air. Inilah PR besar kita. Abu Daud pernah membuat statemen bahwa kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu rumput, air, dan api.” apa tafsirnya? Perlu dilacak lebih jauh dan dalam.

Ada banyak landasan teologis memuliakan air. Dalan surat al Anbiya:30 Allah menyadarkan kita semua dalam peringatan yang kuat: ”

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Ada lagi, Misal dalam surat Al Waqiah ayat 68-70), kita simak:

68. Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?
ءَاَنۡـتُمۡ اَنۡزَلۡـتُمُوۡهُ مِنَ الۡمُزۡنِ اَمۡ نَحۡنُ الۡمُنۡزِلُوۡنَ

69. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?
لَوۡ نَشَآءُ جَعَلۡنٰهُ اُجَاجًا فَلَوۡلَا تَشۡكُرُوۡنَ

70. Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Lalu, dalam Quran surat Al Furqan ayat 48: “dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmatNya (hujan) dan kami turunkan dari langit air yang sangat bersih”.

Dalam keseharian, bagaimana makanan kita berasal dan bagaimana ditumbuhkan? Rahmat Air! Lalu bagaimana ummat islam bisa menjaga iman tanpa air sementara kebersihan sebagian dari iman (shahih muslim). Keterhubungan bersih dan keimanan tak boleh berhenti pada jargon dan idealitas. Karenanya harus ada komitmen yang kuat dalam membangun habitus ekologis dalam keberagamaan.

Menjaga dan melestarikan air artinya menjaga iman dan Islam. Di dalam air yang sehat, suci dan jernih terdapat iman yang kuat dan murni.

Gerakan ekologi profetik perlu diupayakan sebagai suatu komando jihad. Perilaku ummat beragama terhadap air dan alam harus diubah secara radikal dan prosesnya berkelanjutan. Bukankah risalah kenabian terpenting adalah menyempurnakan akhlak manusia termasuk akhlak dalam menjaga hubungan mutualisme antara manusia dan alam raya termasuk air di dalamnya. Karena hanya dengan jalan inilah kemaslahatan dunia akherat dapat diwujudkan. Gerakan ekologi profetik akan menggaransi setiap pikiran, ujaran, tindakan manusia yang memastikan membawa rahmat bagi seru sekalian alam, rahmatan lil alamien.

Menjadi muslim ekologis dengan sekuat tenaga ikhtiar memartabatkan air, menganggap air sebagai sesama ciptaan Allah. Air bukan milik manusia, tetapi air adalah amanah, air adalah titipan yang wajib dijaga dan dilestarikan. Itulah sebenar benar berIslam.

Bukanlah muslim yang sebenarnya jika tidak dapat memuliakan air dan alam semesta.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup