Ada Budaya Membaca Dalam Peradaban

 Ada Budaya Membaca Dalam Peradaban

Membaca yang tak hanya membaca. Membaca adalah candu. Membaca adalah upaya optimalisasi serangkaian daya pikir pada sebuah teks (baca : hakikat) dan kemudian dieksternalisasi dengan prinsip-prinsip hukum alam, nilai dan realitas, untuk menguji tingkat kevalidan dari sebuah manuskrip yang tertulis. Kalau saja Galileo hanya sekadar membaca manuskrip dan mengikuti apa kata pemuka agama kala itu, tanpa menelaah lebih jauh maka dia tak akan pernah tahu bahwa matahari adalah pusat tata surya. Kalau saja Newton dengan penemuan gaya gravitasinya tidak membaca alam sekitarnya mungkin namanya tak seterkenal sekarang. Hanya membaca dari gerak apel yang jatuh, kemudian terinspirasi terbentuklah satu teori yang membentuk peradaban yang jauh kedepan melampaui pemikiran pada masa itu.

Sebentar, sebenarnya kita tidak perlu jauh jauh untuk mengkaji bagaimana membaca merupakan bagian dari peradaban. Coba perhatikan warung kopi yang menyediakan wahana bacaan dalam bentuk koran. Secara tak langsung hal ini juga turut berperan membentuk peradaban. meskipun hanya sekadar dibaca untuk menambah wawasan, minimal jadi tahu ada peristiwa apa hari ini ditengah-tengah peradaban dan kalau ditanya orang minimal bisa menjawab. Dan atau sebagai media diskusi ringan sampai tegang, sambil menyeruput segelas kopi hitam. Tentu, baik membaca sebuah teks mapaun membaca realitas sama-sama penting, sebab keduanya harus saling terkait (komplementer) agar mendukung satu sama lain.

Mereka yang dianggap sebagai pelopor peradaban, sebut saja Gus Dur, Buya Syafii Ma’arif, Buya Hamka dan masih banyak lagi. Kalau kita telusuri apa yang mengubah ideologi mereka menjadi peka terhadap lahirnya peradaban yang maju dan beradab. Jawabannya adalah membaca, sebab membaca kita dipaksa untuk ketemu berbagai perspektif terhadap pemikiran yang majemuk dan egaliter. Serta diajari untuk menfasirkan realita realita baru yang sesuai dengan kondisi sosial saat ini. Bj. Habibie yang terkenal dengan teori Crack Progression buah dari pikirannya, yang kemudian teori ini diajarkan diseluruh Universitas dunia adalah seorang pembaca ulung yang setiap hari tak lepas dari buku. Kemudian ada pemilik perusahaan Tesla yang bernama Elon Mask, dia sejak kecil sudah akrab dengan membaca buku-buku tebal. Siapa lagi, Mark Zuckersberg dia bahkan membaca buku karya filsuf muslim yang berjudul Muqaddimah karya ibnu khaldun. Dan dia menjadikannya sebagai buku favorit.

Ada begitu banyak pikiran yang terangkai menjadi sebuah narasi yang mengagungkan nilai-nilai membaca. Satu diantaranya adalah yang diungkapkan oleh Sayyid Qutb. Katanya, “satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu narasi akan mengintervensi seluruh isi kepala”. Dari sini satu makna yang saya tangkap adalah bahwa membaca akan mengubah, awalnya secara perspektif, dan buahnya adalah aktivitas sosial secara masif dan terstruktur serta bersifat universal. Kalo kita analogikan ke fisik, bahwa tubuh kita butuh makan untuk menghasilkan energi supaya terus bisa begerak sebagaimana pikiran kita butuh membaca untuk  tetap konsisten berpikir.

Membaca sudah dimulai sejak zaman yunani kuno, mereka telah mengenal bahasa dan mempraktikannya untuk berkomunikasi. Pada masa itu mereka mengenalnya dengan sebutan Trivium yakni berupa keterampilan ajaran dengan grammatica, dialog dan pidato. Sampai akhirnya lahirlah generasi generasi pemikir peradaban seperti Phytagoras, Socrates, Plato.

Sedangkan pada masa keemasan islam, hususnya pada masa khalifah bani umayyah membaca adalah bagian tak terpisahkan untuk menjaga konsistensi peradaban pada masa itu. Salah satu hal yang dilakukan oleh Umayyah adalah mendirikan lembaga yang bernama Bayt Al-Hikmah, fungsinya adalah sebagai pusat kajian naskah ilmiah dan penerjemahan pelbagai naskah dari berbagai bahasa, diantaranya bahasa Persi, Yunani, Latin untuk kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab dengan bantuan para sarjana muslim dan baik non-muslim dengan imbalan digaji negara. Tradisi kajian keilmuan ini berlanjut pada masa islam sesudahnya yakni masa bani abassiyah. Untuk memenuhi kecintaan pada buku oleh tiap-tiap sultan, bahkan perundingan pasca peperangan dalam ranah invansi biasanya disyaratkan penyerahan koleksi buku maupun naskah-naskah kuno oleh pihak lawan.

Narasi membaca sebagai respon peradaban juga tertuang dalam Al quran yang juga sekaligus sebagai teologi peradaban umat islam dan pedoman dalam mengarungi setiap pergolakan zaman. Ideologi iqro’ harus menjadi sebuah kebiasaan intelektual umat muslim sebagai bagian dari peningkatan literasi dan perwakilannya dalam memahami konteks sosial budaya yang terus mengalami perubahan. Karena begitu banyak dimensi dari iqro’ yang bisa digali dan divisualkan dalam bentuk tindakan-tindakan yang mendukug meodernitas keislaman ditengah-tengah peradaban. Caranya bisa dengan digalakkannya diskusi, seminar dan pelatihan-pelatihan yang mendukung proses pendalaman aktivitas literasi yang berdampak pada peningkatan kualitas manusia.

Membaca adalah awal mula peradaban, begitu yang diyakini oleh sekelompok kaum muda, baik muda dari segi usia, maupun muda dari segi hausnya akan pengetahuan. Meski usia tak mampu berbohong. Dibawah satu atap bernama rumah baca komunitas.

Dalam perjalanannya, kini rumah baca komunitas (RBK) telah menempuh usia sepuluh tahun. Tepat satu dekade diawal kelahirannya RBK memiliki angan angan untuk terus membumikan budaya literasi ditengah tengah masyarakat. kami ingin membagikan kebiasaan baik, menanam kecintaan pada buku dan membaca sejak dini. Mengenalkan lingkungan yang kritis akan kondisi sosial dan menghidupan hari-hari dengan agenda diskusi. Kami ingin buku menjadi sahabat karib dan membaca sebagai budaya dalam menyongsong generasi emas yang berwawasan dan berperadaban.

Untuk mendukung apa yang dinawacitakan bersama memang butuh waktu, tenaga, dan pikiran. Sepuluh tahun sejak rumah baca komunitas berdiri, oleh inisiatif dan sinergi anak-anak muda, rbk telah melalui banyak metamorfosa perkembangan. Mulai dari berpindah tempat, nomaden, sampai berganti para penggiat adalah bagian dari perjalanan yang mau tak mau pasti terjadi. Namun ideologi ekoliterasi akan terus tumbuh dan bercabang menaungi setiap generasi. Ditengah tergerusnya budaya berpikir kritis dan semakin menjamurnya berpikir sinis menjadi tantangan tersendiri untuk mewacanakan program-program dan agenda yang mampu menyerap dan me-reamunisi kecintaan dan kegemaran membaca. Senada yang diungkapkan dalam Leonhardt (1997) yang mengulas bahwa untuk melahirkan minat dan menumbuhkan kegemaran membaca dan menulis semestinya dimulai sejak usia dini. Mengingat bahwa melalui aktivitas baca tulis akan melahirkan rasa kasih sayang, menumbuhkembangkan rasa kebahasaan yang lebih tinggi, serta meluaskan wawasan dan perspektif pada diri anak.

Kami saadar bahwa peradaban dimulai dari generasi yang paling bawah, menyirami mereka dengan nalar literasi positif, kegiatan-kegiatan sosial yang menumbuh kembangkan kreativitas dan keberaniannya pada lingkungan adalah satu modal penting untuk membawa mereka pada jalan lurus peradaban. Setapak demi setapak, langkah demi langkah, akhirnya lompatan jauh itu akan dirasakan dikemudian hari oleh generasi hari ini. Membersamai peradaban memang butuh perjuangan dan kadang rasa sakit, tetapi atas nama kemanusiaan bisanya rasa sakit itu tidak dirasa.

Bagikan yuk

Toyiz Zaman

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.